
"Sampai kapan kau akan bersembunyi seperti ini? Aku tidak yakin akan selalu bisa membantu. Kau tahu, James mulai curiga dengan seringnya aku menghilang untuk menemui dirimu. Bukan hanya James, bahkan aku sering membohongi Fam."
"Kenapa kau mengeluh seperti itu? bukankah sejak awal kau setuju untuk membantuku?"
"Tapi bukan seperti ini! Kau mengubah alur ceritanya sendirian! Sampai kapan, huh? kau tidak bisa egois! Kau harus memikirkan nyawa yang ada di perut mu!"
"Hentikan Rose! Siapa yang tahu bahwa Alvino akan berkhianat seperti itu."
"Berkhianat? apa maksudnya?"
"Sudahlah.. Jika kau memang sudah tidak mau membantu, jangan lakukan lagi. Tapi jangan pernah membuka mulut!"
"Bianca! bagaimana mungkin kau berfikir bahwa Alvino berhianat? dia bahkan seperti orang gila karena kehilangan dirimu!"
"Oh ya? lalu apa yang dia lakukan dengan pacar adiknya itu? bahkan mereka kembali bertemu baru-baru ini. Alvino sudah mengikhlaskan kepergian ku dan kita jangan mengusik kebahagiaan yang baru saja akan dia ciptakan."
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, Bianca! kau ini bodoh atau apa? jelas-jelas dia sangat mencintaimu! kau bersumpah melakukan ini hanya untuk meredam kerumitan hubungan antara Evelyn dan juga Alvino. Dan sekarang semuanya sudah baik-baik saja. lalu kapan kau akan muncul kembali dalam kehidupannya?"
"Tidak, Rose. Aku bertekad untuk membesarkan anakku sendirian. Aku yakin aku mampu."
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN HAL ITU TERJADI!"
"Rose.. Aku.."
"Bianca! aku akan membongkar segalanya kepada Alvino hari ini juga! aku tidak rela melihat Alvino terus-terusan menderita karena perasaannya untuk orang yang tidak tahu diri seperti dirimu! Kau tahu, bertahun-tahun aku bahkan memimpikan ada diposisi mu! Aku merelakan dia untuk mencintaimu dan berharap kau bisa membahagiakannya bukan malah membuat dia hancur!"
"Rose.. bisa kau ulangi kalimat mu? apa kau juga mencintai Alvino?"
"Ti-tidak. Ma-maksudku.. maksudnya.."
"Apa dengan membantuku, kau juga memiliki rencana lain?"
"Biaaancaaaa..
"Pergi Rose, tinggalkan aku sendiri."
"Dengarkan aku! Kau juga mencintai Alvino bukan? sampai kapan kau tega membiarkan dia seperti itu. Apa kau juga akan tega membiarkan anak itu hadir tanpa ayah?"
Hiks.. Bianca malah menangis. Hormon kehamilan membuat perasaannya gampang berubah-ubah. Sudah berbulan-bulan dia bersembunyi dengan perut yang semakin membesar. Entah ide dan keberanian dari mana yang mendukung untuk memalsukan kematiannya.
Saat itu Bianca hanya tidak tahan dengan apa yang tengah terjadi. Dia hanya ingin menyelamatkan kandungannya. Bermasalah dengan Evelyn sangatlah menguras tenaga dan juga emosi, Bianca hanya ingin meredam keadaan. Tidak mau mengambil resiko berbahaya untuk nyawa yang kini hidup dalam rahimnya.
Belum lagi tentang keluarga Alvino yang jelas amat sangat kaya raya, yang bisa melakukan apapun hanya dengan satu kali perintah. Mereka bahkan tidak segan untuk melakukan sesuatu di luar nalar. Dan itu semua benar-benar membuat logika tidak bisa berpikir sehat.
Jangan lupa Bee, segalanya memang berasal darisana. Apa kau tidak ingat, sejak awal kau hanya dibayar untuk kesenangan Alvino!
Entah kapan Bianca akan muncul dan mengutarakan kejujuran kepada Alvino, gadis itu menjadi ragu apalagi setelah mengetahui Alvino bertemu dengan seorang gadis. Gadis yang tidak lain adalah Alice. Bahkan Bianca pernah melihat gambar gadis itu di ponsel Alvino. Tidakkah itu menunjukan ada wanita spesial lain selain dirinya?
\~\~\~
Tiba di pusara Bianca, Alvino membawa beberapa ikat bunga segar untuk ikut turun bersamanya. Meskipun tidak terlalu sering, tapi Alvino tidak pernah lupa.
"Tuan.. apa ada yang bisa saya bantu?" James menawarkan diri, padahal sudah tahu bahwa Alvino akan menyuruh dirinya untuk menunggu dimobil.
"Tidak. Aku akan menemui cintaku sendirian."
Alvino mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki area pemakaman. Dengan beberapa ikat bunga segar di pelukan, lelaki itu tampak seperti memang akan menemui cintanya.
Tidak salah, Alvino memang akan menemui cintanya. Hanya saja cinta mereka kini berada dalam dimensi yang berbeda.
"Aku datang, bee." ucapnya dalam hati sambil melanjutkan langkahnya.
Tapi tiba-tiba langkah itu terhenti, Alvino melihat seseorang sedang menunduk di pusara bertuliskan nama Bianca.
"Siapa dia?" bertanya-tanya dalam hati sambil memicingkan mata. "Bukan, dia bukan keluarga Andreas." Alvino memastikan dan dia benar-benar tidak mengenali orang yang kini sedang bersimpuh dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
Alvino mendekat. Ingin melihat siapa yang tengah bersedih untuk belahan jiwanya itu. Tidak mungkin dia melewatkan orang-orang yang berkaitan dengan Bianca. Namun belum sampai dia akan menyapa, orang itu menoleh dan menyadari kehadiran Alvino. Membuatnya buru-buru menyembunyikan wajah dan pergi dengan mencurigakan.
“Tunggu..” Alvino melepas kacamata hitamnya, tapi orang itu malah berlari. “Hey..” Memanggil lagi.
Sialan! Alvino tidak melihat wajah orang asing itu.
Buru-buru menelpon James untuk meminta pertolongan.
“Tutup semua akses keluar dan masuk pemakaman ini! Temukan seseorang dengan jubah hitam dan juga penutup kepala!” Intruksi tanpa penjelasan. Menutup telpon sambil menatap orang asing yang kian menjauh.
Bersambung..