You Decided

You Decided
Rumah Sakit Jiwa



Sam menjadi tidak bisa diam di apartemen, ketidak adaan Laura disana membuat rasa kesalnya tidak bisa diredam. Dan karena rasa kesal itu berawal dari Alice, maka dari itu Sam memutuskan untuk langsung saja menemui gadis itu. Apapun yang akan terjadi, Sam akan menerima meskipun tahu Alice akan selalu menolaknya sampai kapanpun.


Detik pertama Sam kembali ke anak perusahaan Lucatu, mencari keberadaan Alice yang memang seharusnya ada disana. Menanyakan kepada semua orang dan sudah terang-terangan bahwa dia berada disana sebagai Samuel Lucatu, bukan sebagai Sam si anak magang.


“Kami tidak tahu kemana gadis itu pergi, setiap jam istirahat dia memang selalu pergi entah kemana.” Jawab Elena, si manajer yang menjadi sasaran utama untuk segala pertanyaan Sam.


“Jam istirahat? Memangnya hal seperti itu diizinkan?” Sam mengernyitkan dahi tidak mengerti.


“Entahlah, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah yang diberikan. Terkadang peraturan memang selalu dilanggar apalagi jika menyangkut gadis itu.” Ups. Elena keceplosan. Bukankah apapun tentang Alice adalah sebuah rahasia?


“Siapa yang memberikan perintah?” Alvino. Pasti ini perbuatan Alvino. Siapa lagi yang berkuasa di Lucatu yang dapat memberi perintah semacam ini. Tidak mungkin jika ini perbuatan Daddy.


“Eh.. hmm.. Maksud saya..” Duh.. Elena jadi gugup dan terbata-bata.


“Jawab sejujurnya Elena!” Sam menatap Elena dengan tatapan tajam. Sangat ingin gadis itu memberikan jawaban seperti apa yang ia duga.


“Tapi, Tuan..”


“Alvino.. Iya kan?” Sam langsung to the poin daripada menunggu Elena yang terus saja berusaha menutup-nutupi.


“Tuan.. Saya hanya bekerja disini. Saya mohon tidak melibatkan saya, saya hanya menjalankan perintah dari atasan meskipun  sebenarnya itu adalah hal yang tidak masuk akal.”


“Jawab dengan jujur segala pertanyaanku dan kau akan terus berada di posisimu.”


Elena serba salah, dua-duanya adalah orang berkuasa ditempat itu. Apa yang akan ia lakukan sekarang menentukan nasibnya di perusahaan itu. Masih di posisi manager, naik jabatan atau malah ditendang. “Jika saya mengatakan segalanya, apa anda akan menjamin saya akan tetap disini?” Cih, Penawaran macam apa itu Elena. Memangnya siapa dirimu.


“Tentu, aku juga akan menghadiahi sesuatu. Kau ingin apa? Rumah... mobil….? Katakan saja.” Jiwa sombongnya keluar lagi. Gapapa sih, sultan mah bebas.


Bagai mendapatkan lotre, Elena sedikit tersenyum ketika mendapat tawaran dari Sam. Melihat sikapnya yang tidak main-main dengan ucapannya membuat Elena tidak ragu mengatakan tentang Alice. Lagipula Elena juga sering sebal terhadap gadis yang selalu diistimewakan itu.


“Baiklah.. Tapi Tuan Alvino tidak akan tahu kan jika saya yang--


“Terlalu banyak tapi yang kau katakan! Kau sangat mengujiku Elena!!” Marahnya tersulut lagi.


“I-iya, Maaf..” Buru-buru menyadari kesalahan. “Gadis itu masuk kedalam anak perusahaan ini melalui jalan emas, dia tidak melalui seleksi atau apapun seperti orang-orang pada umumnya. Dia selalu diperlakukan dengan istimewa, bahkan pekerjaannya tidak setimpal dengan gaji yang diterima.” Elena mulai bercerita, sekaligus seolah mengadu bahwa Alice tidak pantas menerima semua itu. Kesal karena bahkan gaji yang diterima Alice hampir sama dengan apa yang ia terima. Padahal kan posisi dirinya lebih tinggi disana.


“Sejak kapan Alice bekerja disini? Dan apa Alvino juga sering datang kemari?” Sam semakin mengulik apa yang tidak ia ketahui semenjak kepergian Alice dari sisinya. Masih tidak menyangka bahwa Alvino diam-diam sangat memperhatikan Alice.


“Tuan Muda hanya beberapa kali kemari,itu pun bukan sebagai dirinya.” Elena benar-benar membongkar rahasia itu. Lupa bahwa ia juga telah berjanji kepada Alvino bahwa hal ini tidak akan diketahui oleh siapapun.


“Sebagai….?”


“Menyamar?”


Elena menceritakan lagi semuanya dengan sangat detail, bagaimana saat Alvino memintanya untuk memanipulasi agar Alice datang menemui Alvino di kafe. Elena sebenarnya tahu soal Alvino yang bertransformasi menjadi Pierce, karena saat itu ia menguntit Alice dan menyaksikan segalanya. Semoga dengan ia bercerita, maka Alice akan pergi dari perusahaan itu dan ia tidak akan merepotkan lagi tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting.


Setelah mendengar penuturan dari Elena, Sam langsung menarik benang merah bahwa kakaknya itu benar-benar menginginkan Alice. Terlihat dari apa yang telah ia lakukan terhadap gadis itu. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Sam tidak akan membiarkan siapapun memiliki Alice. Ego Sam selalu berkata bahwa gadis itu hanya miliknya meskipun ia juga memiliki Laura. “Kemana Alice pergi? apa dia mengatakan sesuatu?”


“Gadis itu selalu pergi menggunakan taksi, dia selalu menolak jika sopir khusus akan mengantarnya.”


“Telpon dia dan dapatkan lokasi dimana dia berada.”


Dengan kekuasaan dan perintah yang selalu dituruti, dengan mudah Sam sudah mendapatkan titik keberadaan Alice. Gadis itu ternyata sedang berada di rumah sakit jiwa, entah apa yang sedang ia lakukan disana yang jelas Sam akan menyusulnya. Mulai detik ini Sam berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia kan mengawasi dan melindungi Alice dari apapun termasuk Alvino. Sam tidak akan membiarkan Alvino sukses dengan rencana yang entah apa.


~


 


Di rumah sakit jiwa..


Alice sedang mengunjungi ibunya yang memang sedang dirawat disana, wanita paruh baya itu belum juga sembuh dari gangguan mentalnya karena kehilangan ayah. Luka batin yang terlalu dalam membuatnya menjadi seperti itu. Entah sampai kapan hal itu berlangsung, tapi sebagai anak satu-satunya Alice selalu bersabar dan berharap ibunya  akan kembali sembuh dan sehat seperti semula.


“Ibu.. Lihatlah apa yang aku bawa. Aku membawakanmu makanan yang biasanya kau masak untukku. Aku merindukanmu.” Alice duduk disamping ibunya yang sedang memeluk lutut. Wanita paruh baya itu sedang menatap kosong dan seringkali berkaca-kaca.


“Mana ayahmu? kenapa dia tidak mengunjungiku? hiks.” Depresi berat membuat ibu Alice tidak bisa menerima bahwa suaminya telah pergi, ia masih selalu berharap suaminya ada ditengah-tengah mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun namun luka itu tak kunjung pulih.


Wajar.. Luka ditinggal mati itu memang tidak ada obatnya~


“Ayah berada di surga, bu. Ibu pasti merindukannya kan, sama sepertiku.” Alice tersenyum tipis sambil mengusap lembut sang ibu. Selalu perlahan-lahan menyadarkan bahwa sang ayah sudah pulang ke sisi Tuhan. Selalu tegar meskipun kenyataannya ia yang lebih rapuh.  “Relakan ayah, bu. Kita harus yakin bahwa kita bisa melanjutkan hidup meskipun tanpa ayah.”


“Tidak!! Ayahmu belum mati! Ku mohon percayalah padaku!” Hiks. Ibu meraung lebih kencang. Menatap Alice sambil berlinang air mata.


“Aku Juga merindukannya dan aku juga mau ayah masih disamping kita. Tapi kenyataanya ayah sudah pergi, ayah tidakm ada disini!! Kumohon berhenti menyebut ayah masih ada didunia ini, aku juga butuh ibu untuk menguatkanku melawan dunia yang keras ini.” Alice ikut-ikutan meneteskan air matanya. Sekuat apapun tapi ia juga terkadang tiba di titik paling lemah dan sangat membutuhkan dukungan.


Hiks~ Dua wanita itu menangis.


“Maafkan aku..” Alice merengkuh sang ibu ke dalam pelukannya. Sadar bahwa membentak ibu hanya akan menambah lukanya semakin dalam. “Selain ayah aku juga butuh ibu. Sembuhlah.. Aku tidak bisa menghadapi dunia ini sendirian.”


Aaaaah~ Mata Sam tiba-tiba ikutan perih melihat kejadian itu meskipun hanya dengan mengintip. Ternyata seperti itu dunia Alice yang tidak pernah ia ketahui. Sam sangat merasa berdosa karena menyia-nyiakan gadis itu, Sam benar-benar merasa bersalah telah menambah level kesedihan di hidup Alice.