You Decided

You Decided
Keajaiban



Dua Minggu Kemudian~


Sam belum juga menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan membaik. Mata itu masih terpejam erat. Sam hanya bertahan karena ditopang selang dan kabel yang jadi alat penunjang hidupnya. Namun keluarga Sam tidak pernah putus asa untuk menanti keajaiban bahwa Sam akan kembali membuka mata dan berkumpul lagi ditengah-tengah mereka.


Semua orang sudah kembali ke rutinitasnya masinh-masing. Fam dan Rose yang kuliah, Alvino yang bekerja, Ken yang memiliki urusan. Mereka semua hanya sesekali menjenguk Sam. Hanya Monica dan Alice yang setia berada disamping Sam. Berganti-gantian menunggu lelaki itu.


"Sepertinya anda lelah, nyonya. Anda bisa pulang dan beristirahat. Biar saya yang menjaga Sam disini." Alice menatap Monica yang memang terlihat lelah sekali. Wanita cantik itu kini jadi memiliki lingkar mata hitam.


"Tidak apa, Alice. Aku baik-baik saja." Monica tersenyum simpul meskipun sebenarnya tubuhnya memang benar-benar meminta untuk diistirahatkan. "Owh iya, mulai sekarang kau tidak perlu memanggilku nyonya. Kau bisa memanggilku Monica, jangan terlalu formal seperti itu."


"Hehe.. Mana mungkin saya memanggil anda dengan sebutan nama." Alice juga tersenyum canggung.


"Kalo begitu panggil aku onty. Itu terdengar lebih familiar bukan? panggil juga dirimu dengan sebutan aku, agar tidak terlalu kaku."


Aaaaa.. kenapa aku jadi senang begini?


"Terimakasih, nyonya. Hm maksutku onty hehe. Aku jadi merasa tidak terlalu asing disini." Tidak menyangka. Alice sungguh tidak menyangka bisa masuk kedalam lingkungan keluarga Sam. Dan yang lebih ajaibnya adalah dirinya diterima dengan baik, tidak seperti Laura yang saat itu diusir.


Tapi ngomong-ngomong kenapa wanita itu diusir ya? dan sepertinyaaaa kakak Sam yang paling tua sangat membencinya.


"Tapi sebenarnya aku memang merasa sedikit lelah, dan sepertinya aku memang perlu istirahat. Kau tidak apa kan menjaga Sam sendirian disini?"


"Tentu onty, biar aku yang menjaga Sam disini. Kau pulanglah dan beristirahat. Jika terlalu lelah kau juga akan sakit."


Monica berpamitan dan benar-benar pergi dari ruangan Sam yang hanya bisa diakses oleh keluarga saja. Meninggalkan Alice dan Sam berdua didalam sana. Entah kenapa Monica tidak terlalu khawatir meninggalkan Sam bersama Alice, menurutnyaaaa Alice adalah wanita yang baik.


Sementara Alice, gadis itu dengan rela hati menjaga Sam. Alice merasa ia memang harus melakukan itu. Hati Alice yang memintanya untuk selalu disamping Sam apapun keadaanya. Ditambah lagi, kini Alice tidak memiliki pekerjaan. Jadi waktu yang dimiliki Alice sangatlah luang.


Alice menatap Sam cukup intens, gadis itu menggenggam tangan lelaki pertama yang hadir dalam hidupnya. Alice mencoba menguatkan ikatan batin antara dirinya dengan Sam. Berharap cara itu berhasil dan Sam bsia segera bangun.


"Sam.. Aku disini.. buka matamu, aku merindukan mata indahmu yang selalu menatapku penuh cinta." Belum. Cara itu belum berhasil. Tidak ada perubahan atau reaksi apapun. Alice sungguh sangat merasa sedih melihat keadaan Sam yang seperti itu. Lelaki super aktif yang kini terbaring lemah diatas brankar. Alice kemudian menumpahkan kepalanya disamping kasur, masih sambil menggenggam dan sesekali mengecupi tangan orang yang dicintainya itu.


Satu jam..


Dua jam..


Tiga jam..


Keadaan Sam masih seperti sebelumnya. Tidak menunjukan apapun sama sekali. Membuat Alice rasanya sangat sedih dan sakit hatinya. Dan tanpa disadari gadis itu meloloskan air matanya. "Kau lelaki hebat Sam, kau kuat. Aku yakin kau bisa melewati ini. Apapun yang terjadi, aku akan selalu disampingmu." Hiks~ Alice menyembunyikan wajahnya ditangan Sam yang sejak tadi digenggamnya. Menumpahkan kesedihan dan kegundahan hatinya. Masih terus merapalkan harapan agar Sam segera bangun dan sembuh.


Dan disela isakan tangisnya, tiba-tiba Alice merasai jari tangan Sam bergerak. Sebuah respon yang sudah dua minggu ini dinantikan. "Sam?" Alice tersenyum haru sambil memperhatikan jari-jari yang barusaja menunjukan pergerakan. "Kau benar-benar sudah kembali dari pintu kematian." Alice semakin mengulum senyuman lebar saat mata kepalanya menyaksikan bagaimana tangan itu bergerak. Alice mengecup tangan itu berulang-ulang sebelum akhirnya memanggil dokter untuk melaporkan hal tersebut.


Akhirnya keajaiban itu datang~