
"Bagaimana sekarang?" Rose mondar-mandir didepan pintu yang tertutup. Didalam sana Bianca sedang ditangani dokter, entah apa yang akan terjadi. Yang pasti semuanya kacau dan Rose dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Diam. James hanya diam. Mulut lelaki itu enggan berucap untuk menimpali Rose. Apa yang telah Rose lakukan benar-benar diluar nalar. James kecewa.
"James.." Rose ikut duduk bersama lelakinya. Menyadari bahwa James lebih tidak baik-baik saja. Lelaki itu duduk dengan tubuh membungkuk dan tangan yang terkepal. "Maafkan aku.."
James masih terdiam. Lelaki itu sama sekali tidak bisa membayangkan Tuan Mudanya yang baru saja kembali berseri harus kembali bergulat dengan perasaan. James merasa sangat bersalah, apalagi Rose juga terlibat disana.
"James.. ku mohon, jangan mendiamkan diriku seperti itu." Rose memberanikan diri untuk menyentuh tangan yang terkepal itu. Mencoba membuat James untuk mau berbicara dengannya. "Kau mungkin marah, kau mungkin kecewa.. tapi.."
"Jangan memikirkan aku atau perasaanku, Rose. Coba kau bayangkan kembali bagaimana Tuan Muda saat dirundung duka. Dia sangat berduka. Dia kehilangan ayah, kemudian wanita dan calon anaknya. Dan kau bisa-bisanya ikut terlibat membawa duka itu."
"Aku tidak akan membuat pembelaan, aku memang bersalah. Tapi aku tidak berniat membuat Alvino kembali berduka, wanita itu yang memaksaku membantunya. Dia mengatakan bahwa dia hanya akan menghilang sampai Eve dan Alvino berdamai."
"Jangan menjelaskan apapun kepadaku. Kau bisa mengatakan itu kepada Tuan Muda nanti. Selamatkan dirimu sendiri." James berdiri, kemudian meninggalkan Rose tanpa meliriknya lagi.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Haruskah Tuan Muda mengetahui segalanya sekarang juga? Ya! Tentu saja! Jangan menyembunyikan apapun lagi. Itu hanya akan menambah masalah menjadi rumit.
~
Waktu untuk menghabiskan makan siang telah usai, bahkan matahari pun sudah mulai menyembunyikan dirinya. Alvino dan juga Alice meninggalkan tempat yang menjadi saksi bahwa mereka sepakat untuk sama-sama sembuh dari luka. Mereka berdua telah sampai di titik yang baru, sepakat untuk sama-sama keluar dari lingkar hitam yang sempat membelenggu.
Dengan jemari tangan yang masih bertautan, dua orang itu masih sesekali saling melempar pandangan dan juga senyuman yang seolah tidak bisa dihentikan. Meskipun sempat sedikit canggung karena adegan hampir berciuman. Setidaknya... Senyum itu sudah kembali..
"Al.. handphone mu berdering." ujar Alice ketika mereka sudah berada didalam mobil.
"Biarkan saja." Alvino abai, lelaki itu sibuk memasang seat belt dan bersiap untuk memutar kemudi. "Jangan lupakan sabukmu." Tambahnya sambil menarik seat belt disamping kemudi. Membuat mereka lagi-lagi berada dalam jarak se-dekat itu.
"Bagaimana jika itu adalah sesuatu yang penting?" Alice gugup lagi. Jantungnya berdebar cukup kencang. Gadis itu berusaha lepas, sudah dua kali Alvino hampir memnciumnya.
"Maaf.."
"Tak perlu minta maaf." Ah, tiba-tiba Alice memikirkan hal lain. Malah Sam yang muncul dalam bayangannya. Alice jadi teringat bagaimana saat Sam mencumbunya.
"Artinya.. aku boleh mencium lagi?" Aih, diberi jantung minta pisangnya. Lelaki itu seolah mendapat lampu hijau.
"Ponselmu berdering lagi." Alice sedikit memundurkan wajahnya, ponsel itu seperti penyelamat. Akhirnya Alice bisa lepas dari adegan yang membuatnya tidak nyaman.
Setelah ini, aku tidak mau bertemu lagi..
"Itu James. Dia pasti hanya akan menanyakan keberadaan ku."
"Lalu mengapa kau tidak memberitahunya?"
"Bertahun-tahun dia selalu bersamaku, mengabdikan hidupnya untukku. Dia bahkan menolak ketika diberikan hari libur, aku takut dia menjadi tidak normal."
Hihi.. Alice malah tertawa kecil. "Maksudmu kau takut James akan menyukaimu?" Menggelitik sekali.
"Dia selalu memastikan apapun yang terbaik untukku tapi aku tidak tahu apakah dia melakukan itu untuk dirinya juga."
"Terdengar aneh tapi seperti menyenangkan, pasti kau tidak pernah menghawatirkan apapun tentang hidup."
"Kau salah. Terkadang aku bosan selalu dilayani dan memberikan perintah, kau tahu apa cita-cita ku? Aku hanya ingin menemukan cinta sejatiku lalu hidup damai saat Lucatu siap untuk ku berikan kepada pemiliknya."
Kring!!
Kali ini ponsel Alice yang berdering. Sebuah panggilan masuk dari suster yang dia telpon tadi.
"Halo."
"Iya."
"Tunggu, aku segera kesana."
"Ayo Al! kita harus pergi sekarang!" hanya tiga kata yang gadis itu ucapkan tapi tiba-tiba dia berubah menjadi sangat panik.
"Ada apa?"
"Ibu! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Bersambung~