You Decided

You Decided
Lelaki



Alfian Mahendra~


Seorang lelaki yang penuh penyesalan dalam hidupnya. Lelaki yang berniat membahagiakan wanitanya dengan cara apapun, namun ternyata ia salah melangkah. Salah besar ketika ia berfikir meninggalkan Monica dan akan kembali ketika ia sukses dan bisa memberikan apapun untuk wanita itu. Ditengah perjalanan Alfian justru menikahi wanita lain untuk mencapai tujuannya, ia bahkan tega untuk menyingkirkan Beanzio___mertuanya sendiri. Orang yang paling depan menghadang kebahagiaan Alfian dan Monica, karena Benazio menganggap Alfian tidak bisa membahagiakan putri satu-satunya. Namun kenyataannya berkata lain, usaha Alfian tentang planningnya ternyata membuat ia semakin jauh untuk kembali bersanding dengan Monica, Monica justru membencinya karena merasa dicampakkan selama bertahun-tahun. Lebih parahnya lagi adalah ia mendapati Monica telah menjadi wanita yang sangat dicintai Ken. Bossnya sendiri. Ken yang membuatnya dihargai orang lain. Alfian tidak bisa dibilang sukses jika harus dibandingkan dengan Ken. Ia kalah telak.


Alvino sebetulnya tidak mengetahui tentang masalah orang tuanya dimasa lalu, Alvino bahkan tidak tahu jika Alfian pernah menjadi bagian dari para bodyguard Ken. Yang ia tahu hanya Alfian dan Monica bercerai saat ia masih sangat kecil. Alvino tidak tahu tentang Alfian yang mendapatkan hukuman dari ayah sambungnya.


Menjadi putra Lucatu mungkin adalah impian banyak orang, memiliki segalanya di usia muda dan bisa melakukan apapun sesuka hati. Tapi tidak dengan Alvino, lelaki itu justru selalu merasa ada beban berat dipundaknya. Entah apa.


Alvino masih berada dirumah lama, Alvino masih mengumpulkan energi disana. Ia belum mau kembali pada kehidupannya yang sebenarnya tidak se-sempurna itu. Alvino masih memerlukan waktu untuk merenungkan hidupnya, mencari tahu apa yang salah dengan dirinya.


Ini memang sangat rumit!


"Astaga!!" Alvino terbangun dengan nafas terengah-engah. Keringat juga bercucuran dari pelipisnya. Alvino baru saja memimpikan sang ayah, Alfian. "Apa maksudnya?" Alvino memijit pangkal hidungnya sendiri. Mimpi itu terasa sangat nyata sekali.


Alfian, Alvino melihat Alfian dengan emosi yang sulit untuk digambarkan. Lelaki itu tersenyum tipis, lalu tertawa dan tiba-tiba saja menangis dengan tangan mengepal. Alfian membeo dengan nada sarkas bahwa ia ingin membalas dendam, membalas luka yang teramat menyakitkan untuknya.


"Where are you?" Alvino bingung sendiri. Termenung sebentar kemudian menghela nafas sebelum akhirnya beranjak untuk mandi dan sarapan.


"Seluruh kegiatan dikantor berjalan sebagaimana mestinya, Tuan. Hanya Mister Ken yang menanyakan keberadaan Anda." Sebuah laporan kembali masuk ke dalam ponsel Alvino, mendapatkan beberapa notifikasi ternyata lumayan rumit juga. Biasanya semua itu dihandle baik oleh James, Alvino hanya cukup mengatakan iya atau tidak.


"Katakan seperti apa yang aku katakan kemarin. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu bahwa aku telah kembali." balasnya melalui voice note.


Alvino kemudian melanjutkan aktivitas sarapan pagi, mencoba tidak memikirkan apapun yang menurutnya adalah beban. Hingga kemudian sesuatu muncul didalam otaknya, tiba-tiba ia terfikir untuk menjadi detektif tentang misteri hidupnya sendiri.


"Yaaa.. Sepertinya aku harus melakukan hal itu, mungkin dengan ini aku juga bisa tahu wajah-wajah asli orang-orang disekelilin ku." Alvino menyeringai sendiri ketika mendapat ide gila semacam itu. Ia akan menyamar. Memalsukan dirinya sendiri. Dengan demikian Alvino mungkin bisa menemukan apa yang selama ini ia cari, dengan itu mungkin Alvino juga bisa merasakan hal lain agar dirinya tidak selalu stress memikirkan sesuatu dengan berlebihan.


~


"B r e n g s e k!!" Sam mengumpat saat dirinya tengah asik mencumbu Laura di apartemennya, setelah sekian lama tidak mendapatkan pelepasan akhirnya lelaki itu bisa merasakannya lagi.


"Shit! I'm coming baby!" Seru Laura dengan suaranya yang terdengar sangat seksi. Gadis itu mengerang nikmat kala tubuhnya dimasuki dengan begitu dalam.


"Aaahhh..." Sam mempercepat gerakan pinggulnya, menabrak Laura semakin dalam dan cepat. Lelaki itu akan tiba mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa.


"Aaaaawhhh." Laura mendesah panjang. Gadis itu meleleh sampai ubun-ubun ketika mendapatkan pelepasan yang begitu indah. Tangan mungilnya mencengkram Sam, rasa nikmat itu benar-benar tidak bisa dibendung.


Seketika Sam ambruk bersama nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran. Kegiatan itu sangat menguras tenaga seperti berlari marathon. "Gadis nakal!" Sam menjawil hidung Laura dengan gemas. Gadis itu selalu berhasil membuat dirinya terbang melayang dengan kenikmatan yang mereka ciptakan.


"Apa kau belum kenyang? sini! aku akan membuatmu berteriak lebih keras lagi." Sam menyeringai sebal sambil beraksi bahwa dia akan menghajar gadis itu lagi. Tidak terima selalu diledek seperti itu.


"Hahaha ampun, beib. You're never fail to amaze me!" Cupp!! Laura mengecup bibir Sam kilas. Mencoba meredamkan api yang ia buat sendiri untuk membuat lelakinya kesal.


Mwh!! Sam balik mencium Laura dan ia malah menyesapnya lembut. Kecupan itu malah berubah jadi ciuman sekarang.


"Stop! aku benar-benar gerah." Laura melepaskan ciumannya dan sedikit menjauh dari Sam. Jika tidak maka lelaki itu akan benar-benar menghajarnya lagi. "Aku akan mengambil minuman dingin untukmu."


Laura berjalan menuju lemari pendingin dengan tatapan Sam yang tidak lepas darinya. Gadis itu kemudian membawa dua botol dan menyerahkan salah satunya kepada Sam.


glek..glek..glek!! Mereka menenggak minuman itu sampai hampir habis. Kembali mengisi cairan tubuh mereka yang terkuras habis.


"Siapa wanita yang kemarin tinggal disini?" tiba-tiba Laura mengajukan pertanyaan yang membuat Sam hampir terbatuk. Sontak saja mereka saling menatap satu sama lain.


"Maksudmu?"


"Come on, Sam! Aku tahu."


Hm~ Sam hanya berekspresi datar. Jika dia sudah tahu artinya Sam tidak perlu menjelaskan kan?


"Siapa? mainan baru mu?" Laura tersenyum tipis. Bukan hal aneh baginya jika Sam meniduri wanita lain. Ia sama sekali tidak melarang atau merasakan yang namanya cemburu.


Mainan baru? tidak! Alice bukan mainanku!


"Jangan membahas itu. Lagi pula dia sudah tidak tinggal disini." Sialan! kenapa nama Alice selalu saja menjadi bahasan? kalo begini Sam justru akan semakin sulit melupakan wanita itu!


"I'm sorry." Laura menghampiri Sam kemudian mengecup bibir lelaki itu lagi. "Sebanyak apapun wanita yang kau bawa ke atas ranjang, aku tahu kau hanya mencintai diriku." Cupp!! Laura mengecup lagi.


"Apa hatimu tidak sakit?" Sam menatap Laura dan menyelidik bagaimana ekspresi gadis itu.


"Laki-laki memang seperti itu, aku tidak akan melarang apapun yang kau suka. Yang terpenting aku selalu menjadi nomor satu dan tidak tergantikan."


Aaaa~ Entahlah. Meskipun terdengar aneh tapi pengertian-pengertian Laura yang seperti itu selalu membuatnya merasa bebas dan tidak terkekang.


Kau hanya belum merasakan sakit hati dan diduakan Sam!!