You Decided

You Decided
Nisan



Alvino bahkan hampir menangis dihadapan Bianca ketika mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan Bianca tentang ayahnya. Tidak tahan menerima kenyataan yang begitu menyayat hati. Apalagi saat ia harus benar-benar menerima bahwa sang ayah memang sudah menghadap tuhan. Sedikit banyaknya Alvino senang mengetahui segalanya meskipun harus dari mulut Bianca, kekasihnya yang ia kira tidak mengetahui apapun. Satu sisi juga kecewa karena Bianca menutupi semua itu selama berbulan-bulan.


“Tunjukan dimana letak nisan ayahku.” Sakit. Hati Alvino sakit. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu sang ayah, setelah bertahun-tahun mencari keberadaan ayahnya tapi hari ini Alvino harus mendapati bahwa sang ayah sudah menghadap tuhan bertahun-tahun silam.


“Di kota tempat kelahiranku. Aku bisa mengantarmu kesana..” Jawab Bianca dengan penuh rasa bersalah. Setelah apa yang ia ceritakan kepada Alvino, tentu saja memukul hatinya. Tapi mau bagimana lagi memang seperti itulah kenyataannya.


“Tunjukan saja, kau tidak perlu ikut.” Datar Alvino berujar. Kabut duka langsung menyeruak menyelimuti diri. Dunia benar-benar sedang menguji mental saat ia beranjak dewasa. Dituntut dewasa oleh usia, dipaksa kuat oleh keadaan dan dihukum oleh banyaknya luka dan kekecewaan. Semiris itukah hidup Alvino ketika dewasa?


“Sayang.. aku tidak mau membiarkanmu pergi sendirian. Jika tidak ingin aku ikut, Setidaknya ajak James agar dia yang menyetir. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi.” Bianca menatap nanar. Bisa merasakan apa yang Alvino rasakan meskipun tidak sepenuhnya.


“Aku bisa sendiri.”


Alvino kemudian pergi dari apartemen Bianca, pergi menuju tempat dimana peristirahatan terakhir sang ayah. Demi Tuhan Alvino tidak akan melupakan hari ini, hari terberat yang tidak mungkin ia lupakan seumur hidup. Hari dimana ia di tempa bertubi-tubi oleh kenyataan yang tidak mudah untuk dimaklumi hati. Bahkan air mata sudah terurai tanpa bisa dibendung.


Sementara Bianca hanya bisa menatap kepergian ayah calon bayinya yang pergi dengan perasaan dan keadaan tidak baik-baik saja. Bingung untuk menempatkan diri, ingin ikut dan menenangkan Alvino tapi satu sisi Bianca mengerti bahwa Alvino juga membutuhkan waktu untuk sendirian. Gadis itu hanya bisa mengelus perutnya yang sedang di huni oleh malaikat kecil. Meminta maaf karena belum berani memberikan kabar tentang kehamilannya kepada Alvino. Ini hanya masalah waktu. Bianca hanya mengira waktunya belum tepat. Sudah terlalu banyak hal yang memusingkan Alvino, jangan menambah lagi. Biarkan lelaki itu tenang terlebih dahulu. Berharap saja ini adalah kabar bahagia yang setidaknya bisa mengobati luka nya.


“Bahkan aku belum bisa membahagiakanmu, bertemu dirimu pun sangat jarang sekali. Mengapa pertemuan kita jadi pertemuan seperti ini?” Alvino meremat kuat kemudi yang sedang membawanya melaju di atas kecepatan rata-rata. Tidak sabar untuk segera sampai meskipun yang akan ia kunjungi hanya nisan bertuliskan nama ayahnya. Entah apa yang akan terjadi disana nanti, mungkin Alvino akan menjadi lelaki paling lemah sedunia. Emosinya benar-benar dikuras habis dalam waktu bersamaan.


Sudah sampai..


Perlahan tapi pasti kaki itu dilangkahkan menuju tempat dimana nama Alfian tertulis, jiwa Alvino bahkan rasanya sudah melayang sebelum ia benar-benar sampai. Apalagi yang lebih menyedihkan dari tangisan pilu seorang lelaki kuat dan penuh kharisma seperti Alvino. Hari itu benar-benar menyiksanya.


“Papi..” Alvino menatap nisan bertuliskan nama Alfian Mahendra. Berikut potret dan juga tanggal lahir dan wafatnya sang ayah. Saat itujuga hati dan lututnya bergetar hebat, luruh di atas tanah sambil terisak pilu. Hati itu tersayat, seperti ditikam belati dari berbagai arah. Seketika Alvino menjadi lelaki paling lemah, menangis sejadi-jadinya. “Maaf.. Maaf aku menemui mu di keadaan seperti ini. Maaf aku tidak pernah ada di sampingmu. Maafkan aku. Aku merasa sangat berdosa.” Hiks. Tangisan itu semakin pecah. Mengalir deras menumpahkan segala yang membuat hati dan batinya terasa sakit. Begitu pilu.


Dan di ujung sana, seorang gadis yang masih memiliki dendam menatap tidak suka kepada lelaki yang sedang sesenggukan di atas nisan ayahnya. Mengira tangisan itu hanya tangisan buaya. Mengira Alvino hanya menangis sebagai sandiwara.


“Apa pedulimu kepada ayahku!” Jiwa yang penuh dendam itu masih marah. “Jika kau benar-benar peduli dan menyayangi ayah, kau pasti tidak akan tinggal diam membiarkan kami hidup menderita. Kemana saja kau selama ini. Air matamu tidak akan pernah bisa menebus apa yang sudah terjadi!” Masih belum menerima meskipun ibunya sudah mengatakan dan menyadarkan dia untuk tidak lagi memiliki dendam. yaa. Chyntia sudah menganjurkan Laura untuk mengakui siapa dirinya kepada keliuarga Lucatu terlebih lagi kepada Alvino. Chyntia mengatakan bahwa Alvino adalah lelaki baik dan tentu saja akan menerima dirinya sebagai adik.


Tapi tidak. Laura tidak akan mudah gentar seperti itu. Dia tidak mau kalah. Dendam itu harus tetap terbalaskan.


“Tunggu. Tapi dia sudah ada disini, apa dia sudah mengetahui segalanya?” Laura masih mematung di tempat ia berdiri. Niat hati akan mengunjungi sang ayah dan mengadukan apa yang sedang ia alami, tapi justru ia mendapati Alvino sedang berada disana. Membuatnya mengurungkan niat. “Sialan!! Bianca pasti sudah membongkar segalanya!” Tangan itu mengepal kuat. Tidak terima orang yang mendukungnya justru malah mengkhianatinya sekarang.


“Kau menghancurkan aku maka kau pun harus hancur!!!!!”