
Alvino sudah sampai di titik yang katanya adalah lokasi rumah Alfian. Lelaki itu tidak juga bisa menyembunyikan senyumannya, ia benar-benar sangat bahagia. Sangat! Detik pertama James menghentikan mobil itu di halaman yang tidak terlalu luas dimana dua mobil bidy lain sudah terparkir disana, kemudian berlari kecil ke arah pintu mobil untuk mempersilahkan Tuan Mudanya keluar dari sana.
Alvino kemudian keluar, diikuti Bianca yang bak putri raja yang diperlakukan sangat manis. Mereka menatap sekeliling, kemudian menghembuskan nafas lega sebelum akhirnya mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam sana.
Rumah siapa ini? Bianca*
“Ayo Bee, kenapa hanya diam?” Alvinio menatap Bianca yang sudah ia lepaskan tautan jarinya, gadis itu malah mematung saat Alvino dan James sudah melangkahkan kakinya.
“Haiya sayang. Ayooo..” Bianca membuyarkan lamunannya kemudian mengikuti James dan juga Alvino.
“Saya akan mengecek terlebih dahulu, Tuan. Saya takut ini bukan alamat sebenarnya yang kita cari.” James meminta izin kepada Tuan Muda yang sedang berjalan di belakangnya bersama Bianca. Dan sedetik kemudian Alvino hanya mengangguk mengiyakan.
James setengah berlari untuk masuk lebih dulu kedalam rumah itu, sementara Alvino dan Bianca berjalan santai. Mereka kembali menautkan jari jemari mereka.
“Aku masih tidak percaya akan tiba di hari ini.” Alvino tersenyum lebar.
“Apa kau se-senang itu? Kau sepertinya sangat menyayangi adikmu.” Bianca membalas senyuman Alvino dengan senyuman simpul. Ia tahu bahwa yang akan terjadi didalam sana tidak akan semulus yang lelakinya bayangkan.
“Tentu saja, aku akan menyayangi dia seperti adikku yang lain.”
“Suasana cukup aman, Tuan. Tapi tidak ada siapapun di dalam sana.” James sudah kembali. Lelaki itu selalu saja nampak sibuk dengan nafas yang terengah. Padahal pengawal lain sudah memeriksa keadaan disana, namun sekali lagi, James ingin memastikan sendiri.
“Kita tunggu saja, aku yakin ayahku akan datang.”
Tiga orang itu kemudian melanjutkan langkah mereka untuk masuk. dengan James yang memimpin langkah itu. Alvino sudah sangat tidak sabar untuk melepas segala kerinduan kepada keluarga kecil yang sudah lama tidak ia temui.
Namun seperti yang James katakan sebelumnya, didalam rumah itu memang tidak ada siapapun. Suasananya sangatlah sepi dan dingin, bahkan sepertinya memang tidak ada kehidupan.
“Lihatlah.. Dia ayahku.” Alvino mengambil sebuah foto yang dipajang di sana, terlihat Alfian sedang bergaya dengan kaca mata hitamnya. Tapi… Ada sesuatu yang membuat Alvino mengernyitkan dahinya, kenapa Alfian menggunakan pakaian ala Lucatu? pakaian yang hanya dipakai pengawal atau para pekerja Lucatu. Aneh sekali.
Kemudian Alvino menyusuri tempat itu, kembali melihat-lihat apa saja yang terdapat didalam sana. dan lagi-lagi ia mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan Lucatu. Apa maksudnya ini?
“James kenapa ayahku memakai pakaian sepertimu disini?”
“Benarkah?” James mendekati Alvino yang sedang menatap Alfian yang memang berada disekitaran Lucatu. James juga ikut-ikutan mengernyitkan dahi karena sama-sama tidak mengerti.
“Sayang..” Bianca bersuara, ia ingin memberitahukan apa yang memang ia ketahui. Mungkin ini saatnya ia mengutarakan kebenaran, daripada Alvino akan kecewa semakin dalam lagi.
“Tunggu diluar!” Alvino malah dibuat marah.
“Sayang ada yang ingin..
“Tunggu diluar!!!” Suara Alvino begitu mencekat. Membuat Bianca hanya memejamkan mata tanpa bisa membantah. “James, bawa Bianca keluar sekarang!” Titah Alvino.
“Iya Tuan.” James mengangguk patuh, kemudian membawa Bianca keluar sesuai perintah Alvino.
Apa yang sesungguhnya terjadi?
Alvino menemukan sebuah kotak, kotak kecil yang dulu memang sering Alfian berikan kepadanya. Kotak kecil yang biasanya berisi tentang dirinya dan Evelyn kecil. Dan benar saja, ketika Alvino membuka nya, lagi-lagi ia menemukan foto-foto yang sama seperti yang masih ia simpan dengan baik hingga saat ini. Ditatapnya foto-foto itu, dikeluarkan satu persatu hingga akhirnya ia menemukan sepucuk surat dengan kertas yang cukup usang. Surat itu seperti sudah lama sekali ditulis.
***
Untuk putra terhebatku, Alvino Mahendra..
Aku ikut senang mendengar tentangmu yang menjadi generasi Lucatu, ternyata kau diperlakukan baik oleh orang-orang berkuasa itu. Aku sangat bersyukur, bersyukur kau tidak diperlakukan seperti aku. Sudahlah.. Kau tidak perlu tahu tentang masa lalu itu..
Jika kau sudah menemukan dan membaca kata-kata tidak berguna ku ini, hanya satu yang ingin aku sampaikan. Jagalah Evelyn lebih baik dari aku yang tidak bisa menjaga kalian, bahagialah lebih dari aku yang tidak bisa menciptakan bahagia untuk kau dan Eve.
Aku sangat menaruh harapan besar kepadamu, Nino..
Aku tahu kau lelaki hebat dan bertanggung jawab, kau bukan seorang badjingan sepertiku..
Alfian Mahendra
***
“Astaga.. Apa lagi ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Dimana dirimu sebenarnya?” Alvino tiba-tiba gusar. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba bersarang di kepalanya. Membuat dirinya kesulitan untuk mengambil sikap. “Masa lalu apa yang Papi maksud?”
~
"Lepaskan aku James, aku bisa berjalan sendiri!!" Ih. Bianca menepis tangan James yang mencengram tangannya ketika membawa ia untuk kembali masuk kedalam mobil. Lelaki itu kembali menjadi buas saat pawangnya tidak berada disana. "Tidak bisakah kau baik kepadaku saat ada atau tidak ada Alvino?" Bianca mengelus tangannya yang cukup sakit.
"Jangan berlagak polos Bianca! Aku tahu kau bukan wanita baik-baik! Aku tahu kau punya niat busuk kepada Tuan Muda ku!!" James menghardik dengan tatapan yang tajam. Saat Bianca menyeru 'Ada yang ingin aku katakan' James langsung menyimpulkan bahwa Bianca memang seorang gadis rubah. Memangnya apa yang ia tahu tentang Alvino dan keluarga yang disembunyikan identitasnya itu? James harus benar-benar segera mengusir Bianca dari samping Alvino.
"Apa maksudmu?" Bianca gugup.
"Katakan! Memangnya apa yang kau tahu tentang Ayah Tuan Muda hah?"
"Tidak James, bukan itu, maksudku,,,, maksudku adalah..
"Kau tidak akan lepas dari pandanganku! Aku akan segera mengungkap siapa dirimu sebenarnya."
"Apa yang kau katakan?"
"Pengawal!!! Bawa gadis ini ke ruang bawah tanah. Kurung dia sampai aku datang." Titah James kepada pengawal lain yang sejak tadi menunggu didekat mobil. Dan tanpa membantah, pengawal itupun langsung melaksanakannya.
"James!! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
James tidak bergeming, lelaki itu malah berlalu meninggalkan Bianca untuk kembali masuk kedalam dimana Alvino berada. Akhirnya kecurigaanya selama ini menunjukkan tanda-tanda. Beruntung ia mengetahui sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi kepada Alvino.
Bersambung~