You Decided

You Decided
End



Hari yang baru untuk Sam..


Lelaki itu berjanji akan mulai menata masa depannya, membuktikan kepada Alvino dan Ken bahwa dia bukan anak bungsu yang manja. Dia akan berusaha menjadi lelaki yang bertanggung jawab.


Sam tahu bahwa hari ini adalah hari pemakaman ibunya Alice, untuk itu dia datang kesana. Selain untuk berbela sungkawa, Sam ingin menemani Alice yang pastinya sendirian. Sejak kemarin hanya para bidy suruhan Alvino yang membantu. Sam tahu Alice tidak memiliki siapapun selain ibu.


“Aku turut berbela sungkawa.”  ujar Sam saat pemakaman itu telah usai. Hanya ada mereka berdua di sana.


“Terimakasih." Alice menjawab dengan tatapan kosong yang masih menatap nisan bertuliskan nama sang ibu. Sebenarnya Alice kaget dan tidak menyangka sama sekali kehadiran Sam disana..


“Bisa kita bicara?”  tidak apa-apa alis bersikap mengabaikan, itu semua sangat wajar.


“Bicara saja, aku bisa mendengar.” Alice menbuang nafas kasar. Berusaha merelakan kepergian ibu yang menyusul sang ayah. Mencoba ikhlas meskipun pada akhirnya harus kehilangan ibu tapi setidaknya sampai wanita itu menutup mata, Alice sudah berusaha semaksimal mungkin.


“Maaf untuk kejadian kemarin.” Sam menjeda kalimatnya, sementara Alice masih saja abai. “Maaf untuk kejadian-kejadian sebelumnya. Wajar jika dirimu mengabaikanku sekarang karena dulu aku pun begitu padamu. Tapi ada satu yang harus kau tahu, bahwa aku sangat menyesal. aku menyesal menyia-nyiakanmu dan setiap hari aku selalu tersiksa dengan rasa rindu. Aku selalu berusaha mencarimu dan berharap kita bisa memperbaiki segalanya, meskipun kenyataannya sekarang yang ku temukan adalah kau.. kau sudah menemukan cinta yang lain.” Ah, Kenapa udara di sana tiba-tiba menyesakkan dada. Apalagi ketika bayangan bagaimana Alvino memeluk Alice kembali tersirat, Sam rasanya tidak rela.


“Aku hanya ingin mendengar ketulusanmu memaafkan diriku, dengan siapapun kau bersanding nantinya aku akan berusaha ikut berbahagia. Aku harap kau mendapatkan cinta yang kau dambakan, menemukan cinta yang tidak pernah bisa ku berikan, Semoga kau tidak pernah menemui kekecewaan seperti yang ku berikan padamu.”


“Aku tidak pernah menemukan cinta seperti yang kau katakan.” Masih dengan posisi sama, enggan menatap Sam.


“Lalu Alvino? jelas-jelas kalian selalu bersama, aku bahkan melihat kalian berpelukan.”


“Apa urusanmu untuk mengetahui alasan kami berpelukan? Apa pedulimu Sam?!” Suaranya Alice naik, emosinya meledak saat itu juga. Sekian lama dia memendam dan akhirnya dia mendapat waktu.


“Aku cemburu, aku tidak suka, aku tidak rela!” Lelaki itu terang-terangan. Tidak mau lagi kehilangan kesempatan bahwa dia memang sangat mencintai Alice.


“Dan apa harus aku peduli?” Alice tersenyum getir. Wajah yang susah payah berusaha dilupakan kini malah muncul dihadapannya. Kenapa se-tega itu Sam menghancurkan usahanya, dan tentu dia akan tidak bertanggung jawab seperti sebelumnya.


“Harus! Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu kau juga merindukanku. Jangan menyangkal itu Alice.”


“Kau terlalu percaya diri!” Alice beranjak dari tempat itu, tapi sejurus kemudian tangan Sam menggenggamnya.


“Aku hanya ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Kalau kau memang tidak mencintaiku, kau tidak akan keberatan untuk menatap mataku.” Dunia memang panggung sandiwara, tetapi tatapan mata tidak pernah bisa berbohong. “Aku ingin kita mengulang segalanya dari awal lagi, dari awal perkenalan kita.”


“Aku tidak punya alasan untuk kembali bersamamu lagi. Kau kembali saja pada kekasihmu, sipa, hm Laura.” Alice melepaskan genggaman tangan Sam.


“Laura? kau masih mengingatnya. Artinya kau juga belum melupakanku, kan?” Sam tersenyum manis. Menggoda Alice agar dia mau mengaku bahwa cinta itu masih ada.


Alice berbalik badan, tidak tahan lagi untuk melihat wajah Sam apalagi dengan senyuman mautnya. Apapun itu, Alice tidak boleh tergoda lagi.


Astaga! Wajahku pasti merah!


“Berlarilah, aku takan menghadangmu. Sejauh apapun itu, aku akan tetap mengejarmu.”


Aaaaaaaa… Ayo Sam! Buktikan jika kau memang mencintai Alice.


Alvino kira urusannya sudah selesai setelah bertemu dengan Samuel dan juga Famela, tapi ternyata belum, lelaki itu juga harus menyelesaikan adiknya yang satu lagi, Evelyn. Entah bagaimana Gadis itu bisa berada di sana padahal jelas-jelas kota itu terlarang baginya.


“Kau tidak perlu menebus kesalahan apapun atau membuktikan cintamu sebagai adikku dengan cara seperti itu, Jika kau memang ingin menjadi adik yang baik Kau pasti mendengarkan ucapanku sebelumnya.  selesaikan pendidikan dan jaga Ibu mu di sana. kita akan berkumpul lagi, tapi nanti. Jangan anggap ini hukuman Eve.. Meskipun kita tidak selalu bersama tapi kau tetaplah adikku, Aku Menyayangimu.”


Beruntungnya gadis itu memang Evelyn, bukan Laura yang pembangkang dengan segalanya niat jahatnya. Sekali Alvino memberikan pengertian gadis itu hanya memeluk lalu menurut.


Dan kini tiba saatnya Alvino untuk menemui Bianca, Lelaki itu masih berbesar hati untuk menemui Bianca lagi sebelum akhirnya dia akan benar-benar pergi menyembuhkan lukanya.


Berkali-kali Alvino membuang nafas berat sebelum memasuki ruangan dimana Bianca berada,  luka itu memang tidak mudah untuk disembuhkan, tapi Alvino bukanlah seorang pendendam. Meskipun keputusannya sudah bulat tapi kata maaf masih akan diberikan untuk wanita itu.


“Al, Terimkasih sudah mengizinkan aku untuk bertemu Aluna.” Dua orang itu berdiri bersampingan,  menatap Aluna yang tertidur dengan wajah damainya.


Sungguh, Bianca sangat menyesal telah menyakiti seseorang seperti Alvino. Lelaki yang dia sakiti ternyata adalah seseorang berhati malaikat.  Alvino ternyata berbeda, dia tidak sama seperti Alfian ataupun Ken. Bianca sangat malu.


Jika Alvino adalah Alfian,  sudah dipastikan bahwa lelaki itu akan menjadi badjimgan.  menggunakan kekuasaannya untuk melakukan apapun.  Jika Alvino adalah Ken, maka Bianca tidak akan punya kesempatan.  Jangankan untuk melihat Aluna lagi, nyawanya pasti sudah terbang saat itu juga. Yang dia lakukan hanya menuntut rumah sakit, itupun Ken yang melakukannya.


Bukan hanya Kebohongan soal kematian yang Bianca  lakukan, tapi sejak awal dia memang tidak pernah jujur tentang hidupnya. Jika sebelumnya Bianca beralasan bahwa dia melakukan semua itu untuk membuat Evelyn dan Alvino berdamai, tapi kenyataan sesungguhnya adalah dia dalang dari semua kekacauan tersebut. Bukan Keely_Ibunya Ken. Dan pertemuan pertama mereka saat Bianca menjadi penari adalah skenariomya.


Yep, Bukan Keely atau Evelyn yang memiliki dendam terhadap keluarga terhadap Alvino,  Bianca yang mencuci otak wanita-wanita itu.


Bukan tanpa alasan, gadis itu memiliki dendam yang teramat karena masa kecilnya. Masa kecil yang berantakan karena kehancuran keluarganya.


Semula hidup Bianca normal dengan keluarga yang utuh. Namun semuanya berubah setelah ayah Bianca selingkuh, meninggalkan Bianca dan sang ibu begitu saja hanya karena ayah Bianca tidak sengaja melihat sang Ibu berbicara dengan ayah Alvino_Alfian. Dan bodohnya Bianca ikut-ikutan menyalahkan sang Ibu dan mengira Ibu berselingkuh dengan Alfian. Hingga kebencian itu tertanam cukup dalam, membuat Bianca bertekad untuk membuat keluarga Alfian berantakan juga.  Padahal kenyataannya tidak ada yang seperti itu, tidak ada perselingkuhan apapun di masa lalu.


“Kau lebih berhak atas Aluna, jaga dia dengan cintamu yang agung.”


Selamat tinggal..


Apakah kita sudah sampai di penghujung cerita? cerita tentang dua sosok manusia yang saling menyerah dengan keadaan dan rasa..


Memilih untuk meretas lubang Kebimbangan dibanding bertahan dalam sebuah kegundahan..


Mempertanyakan tentang akhir yang bahagia namun tak mau bersusah payah..


Layaknya Kompas yang kehilangan arah, Kau dan aku terjebak dalam suatu waktu yang tak tahu kemana arahnya..


Tetapi memang benar bahwa terkadang tak semua cerita berakhir bersama,  seperti sekarang misalnya.. kau dan aku memilih untuk menggugurkan semua memori yang tercipta.  padahal sebelumnya kita adalah dua orang yang tak pernah siap akan sebuah Kehilangan.  ketika dulu kau dan aku yakin bahwa kita sanggup untuk saling mencintai dalam jangka waktu yang takkan berujung. Tapi kenyataannya kita sampai di sini,  sampai di titik dimana kita harus memilih Jalan bahagia masing-masing..


Dunia kadang memang selalu berlebihan dalam bercanda.


Tamat.