
Fam sedang asik menjelajahi kehidupan sehari-hari yang sangat baik. Gadis itu sedang senang mengeksplor hal yang belum pernah ia lakukan. Salah satunya adalah asmara, Fam sangat tertarik dengan hal itu.
Fam dan Jacob nampak semakin dekat, mereka sudah saling mengenal dan mencintai satu sama lain. Meskipun harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, tapi mereka menikmati itu.
Di perpustakaan~
Fam dan Jacob sedang sama-sama di perpustakaan. Sedang membaca buku sambil berpacaran. Yaaa.. Itulah gaya berpacaran ala Fam dengan Jacob selama berada di Universitas. Mereka akan mencari spot yang tidak bisa dijangkau oleh pengawal yang selalu mengikuti kemana saja Fam pergi.
"Nanti malam adalah pesta ulang tahun ibuku, apa kau bisa hadir?" Tanya Jacob sambil tersenyum manis.
"Nanti malam? A-kuuuu.."
"Kau pasti tidak akan diizinkan ya?" Jacob sudah bisa menebak. Wanita yang sudah ia pacari itu memang cukup sulit untuk diajak bepergian.
"Maaf, tapi nanti aku akan coba meminta izin." Fam menatap sendu, tidak ingin mengecewakan lelaki yang dicintainya itu.
"Oke, tapi jangan terlalu memaksa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada mu. Atau jika boleh, biar aku yang meminta izin untuk mu."
"Ja-jangan." Fam langsung gugup. Status berpacaran dengan Jacob tidak boleh diketahui oleh siapapun, apalagi Alvino. Orang yang boleh tau hanyalah Rose saja. "Akan ku usahakan untuk datang nanti malam, kau tunggu saja kabar selanjutnya yaa." Fam tersenyum canggung.
"Baiklah.. Tapi aku sangat berharap agar kau bisa hadir, aku ingin memperkenalkan mu kepada keluarga ku." Tangan Jacob meraih tangan Fam. Menautkan jari-jari mereka sambil tersenyum.
"I-iya." Fam semakin gugup. Jantungnya berdegup dengan kencang bahkan seperti akan meloncat dari tempatnya. Disentuh oleh lelaki itu rasanya tidak karuan. "Aku harus kembali, Rose pasti sudah menunggu." Fam buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jacob.
"Kita sudah dua bulan bersama, kenapa kau masih malu meskipun aku hanya menyentuh tangan." Jacob terkekeh kecil melihat tingkah laku Fam yang selalu gugup saat ia menyentuhnya. Gadis itu sangat unik.
"A-aku.... Eh, itu Rose. Aku harus mengejarnya. Sampai jumpa, Jack." Fam bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan Jacob begitu saja tanpa menunggu lelaki itu menjawab. Padahal dia tidak melihat ada Rose disana. Ia hanya ingin menghindari Jacob saat rasa gugupnya semakin besar.
Aaaaaaa, Kenapa hatiku berdebar-debar begini sih?
~
Sudah dua hari Alice tidak menampakan diri di rumah Alvino, gadis itu seperti menghilang ditelan bumi tanpa kabar atau apapun. Namun anehnya bukan Sam yang mencari gadis itu, justru Alvino yang menyadari ketidak beradaan Alice.
"Bidy!" (Bidy \= panggilan untuk para pengawal yang bertugas di rumah.)
"Ya Tuan."
"Aku ingin kau mengikuti seseorang yang tinggal di apartemen milik Sam, cukup ikuti dan pantau pergerakan dia. Jangan sampai mengganggu nya, kau mengerti?" titah Alvino kepada pengawal itu.
"Baik tuan." pengawal itu mengangguk patuh.
"Kabari aku nanti malam. Dan ingat!! jangan sampai ada satu orang pun yang tahu!"
"Sesuai perintah Anda Tuan." Lagi-lagi pengawal itu mengangguk patuh dan sedetik kemudian pengawal itu pun pergi untuk menjalankan tugasnya.
Setelah kepergian pengawal, Alvino kemudian bersiap untuk pergi menuju kantor. Ada urusan yang harus ia selesaikan yang tidak bisa dihandle oleh James. Padahal rencananya Alvino akan menemui Bianca hari ini.
"Ekhem." Alvino berdekhem. Membuat dua orang didalam sana langsung menoleh ke arah dirinya.
Laura~ itu Laura.
Gadis yang amat dicintai Sam itu menoleh gugup. Seperti bergemetar dan bermunculan keringat dingin. Melihat Alvino rasanya seperti melihat musuh, karena lelaki tampan itu memang sangat membenci dirinya. Sementara Sam, lelaki itu hanya memutarkan kedua bola matanya. Merasa jengah melihat tingkah Alvino yang sudah menghardik meskipun tanpa berucap satu patah kata. Kakaknya itu pasti menentang kehadiran Laura di rumahnya.
"Tinggalkan aku bersama adikku." Pinta Alvino dengan suara dingin.
Eh.. Laura semakin gugup.
"Aku sedang sarapan, kak. Apa kau tidak melihat?" Sam menyahut seruan itu dengan cepat.
"Tinggalkan aku dan adikku." Alvino menyeru lagi dengan nada yang semakin mencekam.
Sam yang sudah mengetahui gelagat Alvino yang mulai marah seperti itu, tidak bisa membantah lagi. Ia kemudian memberikan kode mata kepada Laura agar gadis itu meninggalkan dirinya dan Alvino. dan sejurus kemudian Laura pun meninggalkan mereka berdua, meninggalkan adik kakak itu dengan perasaan berkecamuk. Andai saja Sam tidak mencintai dan melindungi dirinya, mungkin para pengawal yang bergentayangan di rumah itu sudah mencekiknya.
Dia sangat membenciku, memangnya aku salah apa?
"Kau sangat tidak tahu malu!" Kalimat pertama Alvino cukup sarkas, menatap ke arah Sam yang tidak menyukai kehadiran dirinya.
"Aku tahu kau tidak menyukai Laura, tapi dia kekasihku dan aku mencintainya. Jika aku sudah sembuh, aku tidak akan membawa Laura ke sini lagi." Sam sudah menebak titik dari maksud kalimat sarkas Alvino tadi. Kakak tertuanya itu pasti protes karena kehadiran Laura.
"Kau punya apa sampai-sampai berani menyakiti hati seorang wanita hah?" Netra adik kakak itu saling bertemu, saling menyampaikan apa yang mereka inginkan.
"Apa maksudnya?" Sam mengernyit tidak mengerti.
"Tidak sadarkah kau sudah mencampakkan seorang wanita? kau berlagak seperti dewa tapi pada akhirnya kau membuang dia."
"Apa maksudmu Alice? Tunggu sebentar,,, sepertinya kau menyukai dia?"
"Kau bisa tinggal disini dan hidup bebas itu karena aku, jadi kau harus mengikuti peraturanku. Aku tidak mau kau berperilaku buruk karena kau adalah tanggung jawabku. aku tidak mempermasalahkan kau mencintai siapa, Laura ataupun Alice itu pilihan mu. Tapi jangan sampai kau menyakitinya. Ingat Sam, Fam juga wanita, Mami kita wanita. Mereka punya perasaan yang sama."
"Apa kau sudah merestui hubungan antara aku dan Laura sekarang?"
"Jika memang dia pilihanmu dan dia bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak? Dengan syarat kau bisa meninggalkan kebiasaan burukmu."
"Artinya kau tidak akan memusuhi Laura lagi kan? Kau memang terbaik, aku janji akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih sudah memberikan apapun yang aku inginkan." Sam tersenyum lebar, akhirnya setelah menunggu selama beberapa tahun hubungan antara Sam dan Laura direstui juga.
"Satu lagi! Kau juga harus meminta maaf kepada Alice, kau sudah mempermainkan perasaan gadis itu. Berterima kasih juga dia sudah merawatmu saat kau sedang sakit."
"Tentu.. Aku akan menemui Alice nanti."
Setelah perbincangan itu Alvino keluar dari kamar Sam dan melanjutkan niatnya yang akan pergi menuju kantor. Namun saat diperjalanan tiba-tiba Alvino mengulang kembali percakapan dengan Sam tadi.
Kenapa aku merasa senang saat Alice dilepaskan Sam?~