You Decided

You Decided
Berkecamuk



Sam sedang berada di ruangan khusus bersama Laura, lelaki itu sudah selesai melakukan pengecekan lanjutan yang memang rutin dilakukan. Dan kabar baiknya adalah tulang-tulang Sam kini sudah benar-benar hampir seratus persen pulih. Alat-alat yang menempel pun satu persatu sudah dilepas.


"Congrats Boy, aku tahu bahwa kau akan segera bisa berlari." Wanita disamping Sam melemparkan sebuah senyuman. Ikut bahagia atas pencapaian yang diraih oleh Sam.


"Thx for your support, baby." Sam membalas senyuman itu dengan penuh rasa bangga karena sebentar lagi ia akan kembali seperti semula.


"Aku akan selalu ada di sampingmu, Sam."


Pasangan kekasih yang sudah lama tidak bertemu itu saling melemparkan senyuman. Meskipun berada di keadaan seperti itu, nyatanya mereka masih bisa bersama-sama. Senyuman dan juga canda tawa kecil selalu tercipta diantara mereka. Menambah level bahagia karena kabarnya Alvino sudah memberikan restu untuk mereka berdua. Dan artinya Laura tidak perlu takut lagi akan tatapan Alvino yang selalu menghardiknya. Meskipun tidak tahu apa kesalahan dirinya tetapi Laura tidak bisa melawan. Dan setelah penantian panjang akhirnya kini kebencian itu luntur juga. Namun lagi-lagi Laura tidak tahu apa penyebabnya. Entahlah baginya Alvino adalah lelaki yang aneh.


"Ini obatmu, sayang. Kau harus segera meminumnya dan beristirahatlah." Laura menyodorkan obat-obatan yang tadi diberikan oleh dokter.


"Tunggu sebentar, sayang. Aku masih mau bercengkrama bersamamu." Sam menolak obat itu dan menyeringai manja.


"Oooh come on. Agar kau cepat sembuh." Laura memaksa Sam menerima obat itu.


"Okay. Tapi setelah ini aku akan mengantuk dan tidur berjam-jam. Kau pasti bosan menungguku." Sam sudah menerima obat itu namun masih menatap Laura.


"Aku akan pulang dan kembali lagi nanti."


"Aku masih sangat merindukanmu, sayang. Tinggalah sebentar lagi."


"Uuuu bayi besarku selalu saja manja. Cepat, minumlah."


"Kiss me." Lelaki itu mengerucutkan bibirnya. Meminta gadis itu untuk menciumnya.


Cuuupp!! Laura mencium Sam lembut. Sebuah kecupan manis yang membuat keduanya sama-sama terlena. Kecupan kilas yang kini berubah jadi hisapan kecil.


Mmmh~ Sudah lama mereka tidak melakukan hal ini. Rasanya manis sekali.


"Stop it, baby!! U will make me horny!" Laura melepaskan ciumannya. Me-lu-mat bibirnya sendiri tanda berakhirnya ciuman itu.


"Aaah~ aku jadi semakin merindukanmu, Beib." Dengan nafas terengah dan bibir yang masih dijarak yang sedekat itu, Sam memejamkan mata. Rasanya ia belum puas jika hanya berciuman saja.


"Cepatlah sembuh, jangan memikirkan hal yang lain, Anak nalal!" Laura menjawil hidung Sam dengan gemas.


Hehe~


Sam kemudian mulai meminum obat itu, lalu berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang memang membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat. Hanya tinggal menunggu beberapa waktu lagi agar ia bisa kembali berjalan dan menjadi orang normal.


"Beristirahatlah.. Aku akan kembali lagi." Cupp!! Laura mengecup kening Sam cukup lama.


"Love you."


"Love you more."


"Why me?"


Mungkin belum Sam!


Disela-sela menunggu rasa kantuknya, Sam menatap langit-langit ruangan itu. Tiba-tiba saja ia jadi mengingat Alice. Gadis manis yang menyihir Sam dengan senyumannya. Gadis yang berjasa besar selama Sam dalam masa kritis.


Sam jadi mengingat bagaimana ia meninggalkan gadis itu di taman sendirian. Dan setelah kejadian itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


"Kemana dia? biasanya kan selalu datang." Sam menghela nafas berat.


Tapi aku hanya mencintai Laura!


Bukan rasa kantuk yang Sam dapati, namun sebuah perasaan berkecamuk dalam dadanya. Seperti ia tidak mau kehilangan Alice, namun tidak ingin kehilangan Laura juga. Perasaan macam apa ini?


"Kenapa rasanya berat sekali melupakan gadis itu? padahal ini bukan kali pertama aku bersama wanita lain selain Laura. Tidak pernah ada wanita yang berhasil masuk ke dalam hatiku selain Laura. Mana mungkin hatiku ditinggali oleh dua wanita? tidak mungkin!"


Gadis itu~ tidak mungkin aku mencampakkannya begitu saja. Aku sudah meminta dia berhenti bekerja dan tinggal bersamaku. Mana mungkin aku bisa berlaku sesuka hati seperti ini?


Yalord! Ada apa dengan diriku?~


*


z Apartemen Sam..


*


Alice sudah dua hari tidak menampakkan batang hidungnya di rumah Alvino, tidak mengunjungi Sam dan merawat lelaki itu seperti biasanya. Alice sedang menyibukkan diri untuk mencari pekerjaan tetap, tidak mau tinggal ataupun menggantungkan hidup kepada Sam lagi.


Puluhan tempat sudah Alice datangi, namun tidak ada satu pun yang menerima dirinya untuk bekerja. Dengan uang yang masih tersisa, Alice berusaha bertahan hidup hingga ia mendapat pekerjaan.


Tempat ini~


Alice mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memutar kembali memori saat dirinya dan Sam sama-sama ada di tempat itu. Manisnya~


"Dulu aku hanya menikmati zona nyaman bersamamu, tanpa menginginkan status. Karena aku tahu kau memang memiliki kekasih.. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? rasanya aku tidak rela jika kau mencintai wanita lain. Apa ini artinya aku mencintaimu Sam?"


Tidak pernah sekalipun Alice terperangkap dalam lingkaran yang bernama cinta, tidak juga seintens itu bersama lawan jenis. Hanya Sam. Hanya bersama Sam Alice merasakan semua itu. Tapi kenapa harus secepat ini? tidak bisakah Alice menikmati rasa itu cukup lama?


Sudahlah~ untuk apa aku mengharapkan yang sudah menjadi milik orang lain. Memangnya apa itu cinta? cinta hanya menghancurkan hidupku.


Alice kemudian bersiap untuk pergi bekerja paruh waktu yang memang belakangan ini ia lakoni. Masih menunggu mendapatkan pekerjaan yang menetap. Rencananya, jika ia sudah memiliki pekerjaan tetap yang gajinya lumayan besar, Alice akan menabung untuk memiliki tempat tinggal dan juga memberikan kembali semua yang pernah Sam berikan.


Kau wanita kuat Alice! Kau tidak boleh lemah!