You Decided

You Decided
Bohong



Sesuai ucapannya hari ini Alvino akan menemui Bianca. Menemui gadis yang sudah satu bulan lebih tidak ia temui. Alvino langsung saja datang tanpa menghubungi Bianca lagi, Alvino bahkan tidak menghubungi James terlebih dahulu. Anggap saja kejutan.


Ting!! Alvino sudah tiba di lift yang langsung terhubung dengan unit Bianca. Berjalan masuk sambil mengedarkan pandangannya. Tapi sepertinya Bianca tidak ada disana, rumah itu terasa sangat sunyi dan sepi. "Bee?" Alvino memanggil, tapi tidak ada sahutan. Dengan perlahan Alvino mengayunkan kakinya menuju kamar gadis itu, mencari keberadaan Bianca sambil menyerukan panggilan untuk gadis itu. "Bee?" Alvino memanggil lagi. Tapi Bianca tidak menyahut, Bianca tidak ada disetiap sudut rumah itu.


Kemana dia?


Alvino kemudian mendudukan diri di bar, memilih minuman yang memang ia koleksi sengaja ditaruh disana. "Ah.. Untuk apa aku minum?" Alvino mengurungkan niatnya. Lelaki itu kemudian merogoh saku untuk mengambil ponsel, siapa tahu Bianca memberikan pesan kenapa dia tidak ada. "Apa dia pergi ke toko?" Alvino menerka-nerka.


Bianca sebenarnya sengaja pergi darisana, meskipun semula Bianca sangat ingin bertemu Alvino dan ingin menyambut lelaki itu, tapi semenjak kedatangan Laura yang mengatakan Alvino adalah kakaknya membuat Bianca rasanya tidak siap untuk bertemu Alvino. Bianca takut. Bianca takut Alvino mengetahui segalanya. Jika itu terjadi Bianca pasti malu bukan main.


Sejak awal Bianca memang memulai semuanya dengan sandiwara, Bianca sebenarnya bukan seorang yang lemah, Bianca menjadi seperti itu karena ada alasannya. Bianca memutuskan untuk menjadi seorang penari yang menghibur lelaki hidung belang hanyalah sebagi cara membalaskan dendam kepada orang tuanya dengan merusak dirinya sendiri. Ingin membuat orang tuanya menyesal.


Dulu ayah dan ibuku punya bisnis kue, namun saat usiaku menginjak 10 tahun tiba-tiba mereka menghilang, pergi entah kemana, meninggalkanku bersama nenek, membuat hidupku rasanya berantakan dan hancur sekali.. Hingga akhirnya setelah aku dewasa, nenek bercerita bahwa ayah dan ibuku mengalami kecelakaan dan tewas ditempat saat usiaku 10 tahun itu. Sebuah kisah kelam yang sebenarnya enggan aku ungkit lagi.. Luka itu seolah tidak kunjung sembuh, antara sakit karena ditinggal atau dibohongi selama bertahun-tahun. Cih!! Bahkan Bianca malu saat kembali mengingat bagaimana ia menuturkan cerita yang dibuat-buat.


Ting!! Suara lift lagi.


"Bee.." Itu pasti Bianca. Alvino langsung berdiri dan menanti kedatangan gadis itu. Akhirnya Bianca datang juga.


"Kenapa kau pulang gadis keras kepala?"


Eh.. Itu bukan suara Bianca. Suara itu suara milik seorang lelaki, sudah dipastikan bahwa orang itu adalah James.


"Apa maksudmu James?" Suara Alvino begitu dingin dan penuh selidik. Pulang? pulang darimana! Dari kejauhan bahkan tatapan Alvino begitu mencekam.


"Tu-tuan, Anda---." James kaget bukan main. Kenapa Alvino ada disana. Apalagi tadi James juga mengatai Bianca si gadis keras kepala. Astaga!!


"Sejak kapan anda hm--"


"Dimana Bianca?"


"Tuan.. Sebenarnyaa----."


"Apa? kau menyembunyikan sesuatu dariku ternyata."


"Bukan begitu Tuan, saya hanya---"


"DIMANA BIANCA!!" Alvino marah. Lelaki itu paling tidak suka berhadapan dengan pengawal gugup seperti itu. Kenapa tidak berbicara lugas dan mengatakan segalanya apa adanya.


James benar-benar gugup. Lidahnya begitu kelu untuk mengatakan kebenaran soal Bianca yang kemarin masuk rumah sakit. James tidak mengabari Alvino karena berfikir hal itu tidak perlu dilakukan, James tidak ingin membuat Alvino jadi khawatir ditengah kesibukannya. James benar-benar tidak menyangka jika kejadian seperti ini akan terjadi, siapa yang tahu bahwa Alvino akan datang.


"Kau cari dimana gadis itu!" Alvino mendengus kesal setelah James bercerita yang sesungguhnya. Bukan hanya James, ternyata Bianca juga berbohong. Kenapa mereka menyembunyikan soal Bianca yang sempat masuk rumah sakit?


"Baik Tuan." James mengangguk patuh. Kemudian segera berbalik badan dan pergi dari tempat itu.


Astaga!! Apa yang akan terjadi sekarang? Apa aku akan benar-benar kehilangan posisiku disamping Tuan Muda untuk selamanya?


Alvino menghembuskan nafas lelah sambil memijit pangkal hidungnya. Menjatuhkan diri tanpa tenaga di sofa besar yang membentang diruangan.


Beginikah yang terjadi ketika mereka dibelakangku?