
Alvino baru saja kembali ke rumah, seperti biasa lelaki itu langsung melenggang menuju kamar utama diikuti James yang sudah selesai menemani Bianca tentang toko kue.
Perjalanan menuju kamar utama, Alvino harus melewati kamar-kamar yang lain yang diisi oleh anggota keluarga yang lain. Dan lelaki itu pasti saja selalu mengintip ke kamar Sam sebelum menuju kamar utama.
"James. Tunggu aku di ruang kerja." Titah Alvino kepada James yang sedang mengikutinya.
"Baik Tuan.. Apa Anda ingin disiapkan sesuatu?" James yang berjalan mengikuti Alvino mengiyakan perintah itu dan menanyakan keinginan Tuan_nya.
"Siapkan satu botol minuman, sepertinya aku butuh tenang malam ini. Masalah-masalah di kantor benar-benar membuatku penat."
"Baik Tuan."
James kemudian menuju ruang kerja Alvino, sementara Alvino melanjutkan perjalanan menuju kamar utama sendirian. Dan saat lelaki itu akan menghampiri kamar Sam, Alvino melihat Alice sedang berdiri di depan pintu. Gadis itu terlihat sedang mengintip.
Kenapa dia berdiri disitu? biasanya kan dia selalu setia disamping Sam..
"Alice.." Alvino menyapa lebih dulu saat dirinya hampir tiba di depan kamar Sam, membuat Gadis itu sedikit terperanjat kaget karena kedatangan Alvino yang tiba-tiba.
"Eh.. Kau.. Maksudku kak,." Tiba-tiba Alice merasa gugup, seperti maling yang tertangkap basah gadis itu menjadi sedikit salah tingkah.
"Sedang apa disini? Kenapa tidak masuk?"
"Eh.. itu.. Sam sedang melakukan panggilan, Aku hanya tidak ingin mengganggunya." Mata Alice melirik sebentar kedalam ruangan dimana Sam berada. Lalu menoleh ke arah Alvino juga. "Aku mau pamit pulang, tapi aku mau menunggu sampai Sam selesai menelpon dulu."
"Siapa yang sedang ditelepon Sam? Sejak kapan dia sudah bermain ponsel? bukannya..." Belum selesai berucap, Alvino membuka sedikit pintu ruangan Sam. Terlihat Sam memang sedang melakukan video call, entah dengan siapa tapi Sam sedang tersenyum sambil menatap layar ponsel itu.
"Kalau begitu lebih baik aku pamit sekarang, a-ku hm tolong katakan pada Sam bahwa aku pulang. Maaf merepotkanmu." Alice menatap Alvino sebentar kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu tanpa menunggu Alvino menjawab.
Ada apa sebenarnya? gadis ini sepertinya sangat gugup.. Wajahnya juga cemas. Apa Sam menghubungi wanita rubah itu lagi?
"Tunggu.." Refleks tangan Alvino meraih tangan Alice.
Alice menatap lengan yang ditahan oleh Alvino kemudian menatap wajah lelaki tampan itu. Kenapa dia menahanku pikirnya. Entah kenapa jika melihat Alvino rasanya gugup sekali.
"Ini sudah malam dan di luar sedang hujan.. Lebih baik kau menginap malam ini." Alvino menuturkan alasan kenapa dirinya menahan tangan Alice, namun setelah selesai mengucapkannya tangan itu belum juga dilepas.
"Eh..Hm.. Alice ingin berpamitan Mam, tapi aku menahan nya karena di luar sedang hujan." Lumayan gugup Alvino berujar.
"Sepertinya kau memang lebih baik menginap, Alice.. di luar sedang hujan dan itu cukup lebat." Monica juga mendukung apa yang Alvino sarankan. "Ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu. Apa kau tidak keberatan?"
"A-ku.. Tentu.. sepertinya kau ingin membicarakan sesuatu yang penting."
Alice yang semula akan berpamitan kini digiring menuju ruang tengah. Ada sesuatu yang katanya ingin Monica bicarakan. Entah apa~
Alvino yang melihat dua wanita itu ingin mengikuti tapi ia juga ingin memastikan dengan siapa Sam sedang melakukan panggilan. Apakah itu dengan Laura? Wanita yang sama sekali tidak disukai Alvino.
"Al.... kau juga ikut." Monica memanggil saat melihat Alvino justru mematung ditempatnya berdiri.
Tiga orang itu kemudian sudah duduk di ruang tengah, menunggumu Monica memulai pembicaraan yang ingin ia sampaikan.
"Besok aku harus pergi menemani Dady ke luar negri, aku akan meninggalkan Sam yang belum pulih disini." Monica menatap Alice dan Alvino bergantian.
"Poinnya adalah... aku akan menitipkan Sam kepada kalian, meskipun ada perawat dan juga dokter tapi aku tahu kalian akan menjaga dan memperhatikan Sam dengan lebih baik, terutama kau Alice. Kau sangat berjasa besar untuk Sam. Kau tidak keberatan kan selalu merawat Sam disini?"
Aku? Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan. Namun sekarang suasananya berbeda, aku pasti sedikit lebih canggung di depan Sam. Karena aku tahu bahwa lelaki itu menginginkan Laura, bukan aku.
Alice terdiam sejenak, belum bisa menimpali karena masih bingung harus menerima atau menolak. Semenjak kejadian di taman itu Alice belum berbicara dengan Sam lagi. Entah apa dan bagaimana hubungan Alice dan Sam sekarang, yang jelas Alice harus melindungi hatinya agar tidak terluka.
"Berapa lama kau akan pergi?" Alvino menatap sang ibu.
"Hanya satu minggu." jawab Monica untuk pertanyaan Alvino. "Maaf sebelumnya.. tetapi yang kudengar kau sudah tidak memiliki orang tua, Aku tidak akan membiarkanmu tinggal disini dengan cuma-cuma. Bukan berarti aku memberi upah, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri karena usiamu dengan Fam sepertinya tidak jauh berbeda." Monica melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, Tapi maaf sebelumnya. Spertinya aku tidak bisa untuk selalu bersama Sam, aku hanya akan menemani Sam waktu-waktu. Aku tidak ingin menggantungkan hidupku kepada kalian." Jawab Alice. Andai saja kejadian di taman itu tidak terjadi, mungkin Alice tidak akan menolak. Ia justru akan senang jika harus terus-menerus bersama Sam, tapi keadaannya sekarang berbeda. Alice harus mulai memikirkan tentang hidupnya lagi. Sebagai Alice yang mandiri, yang berjuang untuk kelangsungan hidupnya.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan tetap menitipkan Sam kepadamu. Kau sangat telaten saat merawat Sam melebihi aku, aku sangat mempercayaimu Alice." Monica menatap Alice dengan tatapan tulus. Gadis itu sudah berhasil mendapatkan hati Monica. Belum pernah keluarga Lucatu memperlakukan orang asing seperti itu. Mereka menerima dan menyayangi Alice.
"Alice juga punya kehidupan di luar, Mam. Mana mungkin dia harus terus menghabiskan waktu bersama Sam." Tanpa sadar perkataan Alvino itu menunjukkan bahwa dia memang tidak ingin Alice selalu bersama Sam. Lelaki itu seperti mendukung Alice untuk menuruti keinginan Monica. "Jika kau akan pergi bersama Dady, pergilah. Jangan khawatir. Banyak yang menjaga dan melindungi Sam disini, jangan membebankan semuanya kepada Alice."
Alice menatap Alvino yang duduk bersebrangan dengannya, entah kenapa raut wajah lelaki itu seperti mengerti perasaan Alice saat ini. Alvino seperti berusaha menutupi kegusaran Alice yang memang sulit disembunyikan dari gurat wajahnya~