
"Tuan, Anda akan pergi kemana?" James mengikuti Alvino yang baru saja keluar dari kamarnya. Lelaki muda itu terlihat berpenampilan santai namun tetap maskulin, tidak memberi perintah atau apapun ketika melihat dirinya.
"James, kau tidak perlu mengikuti aku. ini adalah malamnya anak muda, pergilah bersenang-senang." Alvino berlalu meninggalkan James, tapi James masih mengikutinya dari belakang.
Rose..
"Tapi Tuan.." James tiba-tiba mengingat wanitanya, namun masih bersemangat mengikuti Alvino.
"Kau sudah lebih dari cukup untuk mengabdi kepadaku. Kau selalu memastikan segalanya dengan baik. Tapi akhir-akhir ini masalah kita bukan hanya soal pekerjaan, kau pasti stress bahkan lebih dari diriku." Alvino berhenti dan membuat James hampir menabrak dirinya. "Pergilah bersenang-senang kawan, Aku bahkan mengizinkanmu untuk pergi liburan."
"Tidak, Tuan. Mana mungkin saya meninggalkan anda untuk bersenang-senang. Saya..."
"Ini perintah, James. Kau akan selalu menuruti perintah ku bukan?" Telak. James tidak mungkin bisa membantah lagi. Meskipun dia tidak mau, tapi dia tidak mempunyai keberanian untuk mengabaikan perintah.
Baiklah.. Aku akan menemui Rose malam ini. Lagipula, aku memang merindukannya.
"Baik, Tuan. Tapi hanya malam ini, besok saya akan kembali berada di samping anda."
Cih, seperti kekasih yang tak mau melewatkan sedetik saja untuk selalu bersama-sama. Alvino hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
Detik selanjutnya Alvino bergegas menuju salah satu mobil. Rencananya dia akan mengemudi sendiri. Tanpa supir.
Tapi bukan Alvino namanya jika tanpa pengawalan. Meskipun James berhasil dia pukul mundur, Alvino tidak bisa mencegah bidy lain yang akan mengikuti dirinya.
"Hallo.." Panggilan tersambung, sudah menginjak pedal gas tapi baru ingat belum menghubungi Alice. "Aku dalam perjalanan menjemputmu." Tambahnya.
"Al.. kau sungguh-sungguh soal makan malam itu? tapi..."
"Tentu.. apa kau akan menolak?" Kaki yang tadi menginjak pedal gas kini berganti menginjak pedal rem. Kenapa Alvino begitu percaya diri bahwa Alice akan mau makan malam bersamanya.
Jangan berpikir karena kau telah membantunya lalu dia akan setuju..
Tidak, Alvino tidak bisa memaksa.
"Bukan begitu, tapi kau akan membawaku kemana?"
"Kau yang menentukan." Ah, kenapa rasanya seperti takut mendapat penolakan.
"Baiklah, kita bisa bicarakan itu diperjalanan."
"Jadi... kau setuju dengan makan malam kita? hm maksudku makan malam ini?"
"Tentu.. aku akan menunggumu."
Senyum manis itu muncul lagi. Padahal hanya untuk persetujuan makan malam. Apa yang terjadi pada Alvino? mungkinkah dia jatuh cinta lagi?
Dan pertemuan itu terjadi lagi. Alice dan Alvino menjadi dua orang yang seperti baru mengenal satu sama lain, dan terkadang suasana menjadikan mereka seperti kawan lama yang baru bertemu lagi.
Festival kuliner malam menjadi pilihan Alice untuk menghabiskan waktu mereka, tempat yang sama yang pernah mereka kunjungi saat Alvino menjadi Pierce.
"Sepertinya kau sangat menyukai tempat ini." Tawa dan antusias Alice benar-benar diluar dugaan. Perempuan itu seolah tidak memanfaatkan situasi bahwa Alvino mampu membawanya makan malam di tempat mewah. Perempuan itu justru memilih tempat yang terkesan seperti pasar malam, namun dengan aura bahagia yang tulus.
"Saat aku masih kecil, ayah dan ibu selalu membawaku ke tempat ini. Mungkin ini salah satu cara untukku mengenang mendiang ayah." Alice tersenyum kecil, namun air mukanya sedikit berbeda. Gadis itu merindukan ayah. Tak jarang Alice berharap sang ayah masih ada di tengah-tengah dirinya dan ibu. Mungkin keadaan mereka tidak seperti itu.
"Ayo, sebentar lagi puncak festival ini tiba." Refleks Alice meraih jari-jemari Alvino, menyeret lelaki itu untuk mengikuti dirinya.
Sementara Alvino hanya mengikuti, Alvino akan membiarkan Alice untuk menikmati malam itu. Juga, membiarkan Alice untuk menunjukkan apa yang Alvino tidak tahu tentang festival seperti itu.
Permen kapas, ternyata Alice membawa Alvino untuk membeli permen kapas.
"Seperti anak kecil memang, tapi ini akan sangat menyenangkan. Sebentar lagi akan ada pesta kembang api."
"As you want." Alvino tersenyum kecil. "Tapi sepertinya akan lebih menyenangkan lagi jika kita menanti pesta kembang api itu di dalam sana." Alvino menunjuk sebuah biang lala yang cukup besar disana dengan kode matanya. Meskipun belum pernah, tapi dia tidak merasa risih.
"Ide bagus, tunggu apa lagi."
Untuk pertama kalinya Alvino melihat pemandangan ketinggian dari dalam sebuah kapsul kincir angin yang berputar. Berdua bersama perempuan dengan permen kapas di tangannya. Dan lelaki itu menikmatinya.
"Kau pasti belum pernah seperti ini sebelumnya, kan?" Alice mulai mencubit permen kapasnya, sambil melirik Alvino yang duduk dihadapannya. Dan lelaki itu hanya menggeleng kecil.
"Whaaaa, pesta kembang api itu sudah dimulai. Lihat.." Alice berdiri dan mulai berteriak, hanya melihat kembang api tapi seperti menemukan harta Karun.
Gadis itu sibuk memperlihatkan kembang api yang meledak di atas awan. Seolah hal tersebut adalah fenomena langka.
"Apa kau se-senang itu?" Alvino ikut berdiri, mendekati Alice lalu menikmati pemandangan yang sama.
"Ya, bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku kesini. Ahaaa, bersama Pierce. Aku pernah kemari bersama Pierce. Tapi kami hanya makan biasa di bawah."
"Pierce? kau masih mengingat orang itu?" Itu aku..
"Dia menghilang entah kemana, kami pernah bertemu saat aku bekerja di perusahaan cukup terkenal di kota ini." Alice terus saja berbagi kisah, padahal orang yang dia kisah kan ada dihadapannya.
~
Mungkin hanya James yang tidak senang ketika mendapatkan waktu libur. Lelaki itu lebih senang berada disamping Alvino, Tuan mudanya. James benar-benar mengabdikan hidupnya, hingga apapun tentang Alvino adalah tanggung jawab dirinya.
Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu berkualitas bersama Rose, untuk itu James tidak ingin membuang waktu. Langsung saja lelaki itu menghubungi wanitanya, membuat rencana untuk sebuah pertemuan.
"Apa kau tidak salah ingin menghabiskan malam ini bersamaku? kemana Alvino?" James dan Rose sudah bersama. Dua orang itu menikmati makan malam bersama seperti halnya Alvino dengan Alice.
"Dia sedang menemui seseorang." James menjawab malas. Kenapa harus membahas itu sih.
"Seseorang? siapa?" Rose tiba-tiba diserang oleh rasa penasaran. Biasanya James tidak memiliki waktu banyak untuk mereka habiskan berdua. Lelaki itu lebih sering menelepon dirinya ketika mereka sama-sama akan beristirahat di malam hari. Saat apapun tentang Alvino sudah dipastikan berjalan sebagaimana mestinya. "James.. Apa maksudmu Alvino sedang pergi berkencan? dengan seorang wanita?"
"Apa kau tidak ingin membahas yang lain? bagaimana kabarku atau bagaimana kita? mengapa kau lebih tertarik membahas tuan muda?" Ih, James masih kesal dengan waktu liburnya. Tapi Ross malah membahas itu lagi dan lagi, membuat suasana hatinya justru malah semakin memburuk.
"Maaf.. Maksudnya bukan seperti itu.. Hanya saja aku sedikit heran tentang pertemuan kita malam ini."
Jangan! jangan sampai! Bianca, lihatlah! Kau akan menyesal jika kau terlambat!
"Justru itu, Rose. Kita jarang menghabiskan waktu bersama. Tidak kah kau ingin memanfaatkan itu untuk kita?"
"Oke, mari kita lanjutkan makan malam kita." Rose tersenyum simpul. Tapi pikirannya langsung tidak karuan. Pemikiran gadis itu kini berpusat tentang Bianca yang masih kukuh dengan egonya.
Sudahlah.. Bianca memang tidak memerlukan diriku lagi. Percuma aku membantunya tapi dia selalu punya rencana lain. Haruskah aku memberitahukan James soal ini?