
Sudah berminggu-minggu Sam hanya dikurung di dalam ruangan untuk proses pemulihan tulang-tulang yang patah akibat kecelakaan mobil yang dialaminya. Namun hari ini Sam kembali menunjukan perkembangan lumayan pesat, hari ini dokter mengijinkan lelaki itu untuk keluar dari rumah. Sam sudah menunjukkan perkembangan yang cukup drastis dalam kasus patah tulang yang hebat, satu persatu alat medis yang menempel ditubuhnya sudah terlepas, bahkan lelaki itu kini sudah bisa untuk sekedar duduk dikursi roda.
Sementara Alice, Gadis itu masih tetap setia berada di samping Sam, meskipun sesekali Alice juga pulang ke apartemen saat mendapat panggilan pekerjaan paruh waktu yang dilakoninya.
"Kau pasti sudah sangat bosan, Ayo.. Aku akan membawami ke Taman, kita akan menghirup udara segar bersama-sama." Alice tersenyum manis kepada Sam yang sudah berada di kursi roda, lelaki itu sudah siap untuk dibawa menuju taman.
"Maaf selalu merepotkanmu Alice." kini Sam juga sudah lumayan lancar dalam berbicara, perlahan-lahan tapi pasti lelaki itu menunjukkan bahwa dia memang akan sembuh 100%.
"Ayoo." Alice tersenyum manis kemudian mengitari kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati.
"Permisi Nona, anda akan membawa Tuan Sam kemana?" Seorang lelaki berseragam hitam menyapa ahli saat tiba di pintu, sebuah pemandangan yang tidak asing bagi Alice, karena di rumah itu memang banyak sekali orang-orang yang seperti itu disetiap penjuru.
"Kami akan ke Taman." Sam yang menyahut.
"Biar saya yang membantu Anda mendorong kursi roda Itu, Nona. menuju taman itu lumayan jauh." Pengawal itu menawarkan diri dan Alice pun tidak bisa membantah. Karena meskipun Alice menolak, para pengawal pasti akan mengikuti mereka. Jadi lebih baik dibiarkan saja pengawal itu membantu mendorong Sam sampai menuju Taman.
Sudah ditaman~
Udara hari ini cukup sejuk, sesejuk senyuman antara Alices dan Sam yang saling dilemparkan pada masing-masing. Dua insan itu saling bercanda dan bercengkerama, meskipun di belakang mereka ada mata yang mengawasi.
"Sam.... Aku ingin mengajukan suatu pertanyaan. Tapi aku harap kau mau menjawabnya dengan jujur." air muka Alice berubah, wanita itu sepertinya akan mengatakan sesuatu yang serius.
"Ada apa? katakan saja.. aku akan menjawabnya jika memang itu harus dijawab." Sam balas memandang ke arah Alices, menunggu Gadis itu mengutarakan pertanyaan yang sepertinya hal Serius.
"A-ku.. aku ingin menanyakan soal wanitamu, Laura." Sejenak Alices menghela nafas dan melihat bagaimana Sam bereaksi saat nama itu disebut. Namun sepertinya Sam hanya datar-datar saja. "Dia kekasihmu kan, Tapi di sini aku yang mengaku sebagai kekasihmu. Aku merasa bersalah kepada-nya."
Laura~ Sam mengulang nama itu dalam hatinya.
Laura.. Seorang wanita yang menemani Sam hampir dua tahun lamanya. Wanita yang sangat dicintai Sam meskipun Sam selalu bergonta-ganti wanita. Secantik apapun wanita yang Sam temui, Laura tetaplah nomor satu di dalam hati.
Dan karena pertanyaan Alice tersebut, Sam kemudian jadi mengingat bagaimana kabar Laura? sudah lama mereka tidak bertemu, bahkan untuk saling menanyakan kabar pun tidak.
"Laura... Dimana ponselku?" Sam terlalu larut dalam keadaan. Terlalu fokus untuk kesembuhan dan terlalu terlena dengan hadirnya Alice, Sam benar-benar lupa akan Laura.
"Ponselmu hancur bersama mobil itu." Alice berujar datar. Reaksi Sam jelas menunjukan dia menginginkan Laura sekarang.
"Iya. Aku melihatnya, tapi wanita itu di usir sebelum dia bisa melihat keadaanmu." Alice mengutarakan yang sesungguhnya karena ia juga tidak mengerti kenapa Laura diusir, sementara dirinya diterima.
"Pasti kakak ku yang melakukan itu." Sam menunduk sambil mengepalkan tangan. Tidak habis pikir dengan cara Alvino memperlakukan Laura. Kakak tertuanya itu sangat membenci wanita yang Sam cintai.
"Bukan, Sam. Bukan kakakmu yang melakukan itu,- Laura diusir oleh pria berbaju hitam seperti mereka." Alice mencoba menyembunyikan kebenaran itu, tidak mau ada salah paham antara Sam dan Alvino nantinya.
"Jangan menyangkal, aku tahu betul situasinya. Kakak ku sangat membenci Laura!"
"Benci? atas dasar apa kak Alvino membenci Laura?" Alice ingin mengetahui tentang Sam dan Laura lebih dalam lagi. Ingin menyelamatkan hatinya sebelum tenggelam terlalu dalam kepada Sam.
"Entahlah.." Sam juga tidak mengerti kenapa Alvino bersikap demikian. Yang jelas Alvino seperti itu semenjak dia mendapati bahwa Sam dan juga Laura sering mendatangi klub malam, bermabuk-mabukan dan pesta dimana-mana. Dan yang lebih parah lagi adalah kini Alvino mengetahui bahwa Sam memiliki hobi balapan liar dan itu semua Laura lah penyebabnya. Wanita itu yang merekomendasikan Sam masuk kedalam klub balap setan. Laura benar-benar dianggap sebagai pengaruh buruk untuk Sam. Sam menjadi liar gara-gara wanita itu.
Jangan menyalahkan seseorang atas apa yang kamu lakukan! Jika kamu mempunya prinsip, kamu pasti tidak akan terbawa arus sederas apapun. Lagipula yang Sam lewati mungkin semata-mata karena lelaki itu masih berpetualang mencari jati diri.
"Bidy!" Sam berteriak memanggil pengawal yang memang mengawasi mereka dari belakang.
"Iya Tuan." Dua orang pengawal sigap menghampiri Sam.
"Bawa aku kembali ke kamar." Tanpa menjawab lagi, pengawal itu langsung saja membawa Sam kembali ke dalam rumah. Sam bahkan tidak berbasa-basi untuk mengajak Alice untuk ikut masuk.
"Bawakan ponsel baru untukku, salin semua data yang ada diponsel lamaku." Titah Sam kepada pengawal itu.
"Tapi ponsel lama anda benar-benar rusak parah Tuan." Bagaimana mungkin data diponsel yang sudah hancur bisa dibuka kembali kan, keinginan anak sultan memang terkadang diluar nalar.
"Aku tidak mau tahu." Pandangan Sam memicing kedepan, merasa bersalah kepada Laura yang ia lupakan begitu saja.
Sementara Alice, gadis itu masih terpaku dibangku taman dengan sejuta tanda tanya. Apa yang terjadi sekarang?
Apa dia akan bersama Laura mulai saat ini?
Memangnya siapa dirimu Alice. Kau hanya wanita yang sekedar dikagumi Sam. Kau hanya wanita bodoh yang dipermainkan perasaanmu sendiri. Apa yang sebenarnya kau cari?
Bersambung~