
Bianca, ternyata gadis itu tengah berada ditoko. Bingung harus kemana ia pergi, karena dikota itu hanya Laura saudaranya. Tidak mungkin Bianca kesana, gadis itu pasti masih marah karena mengetahui hubungan antar dirinya dengan Alvino.
Meskipiun berusaha untuk mencari kesibukan, tapi tetap saja pikiran gadis itu fokus terhadap Alvino. Apa kabarnya lelaki itu? Dia pasti sedang mencarinya. Mungkin. Bianca rindu tapi belum berani untuk bertemu, banyak ketakutan yang tiba-tiba bersarang dihatinya. Bianca sedang melamun kala itu, lalu suara seorang wanita membuat gadis itu tersadar.
"Permisi Nona."
"Eh iya." Bianca mengerjap.
"Aku ingin membeli kue tart, apa disini menyediakan kue seperti itu?" Famela menatap wanita yang sepertinya adalah pemilik toko itu. Wanita itu sudah pasti bossnya, sudah terlihat dari bagaimana ia berleha-leha sejak tadi.
"Tentu saja, Etalase sebelah sana." Bianca menunjuk salah satu etalase yang memang berisi tumpukan khusus kue tart. Tapi tidak berubah dari posisi semula saat gadis dihadapannya menyapa.
"Aku ingin memesan kue yang special, sahabatku berulang tahun hari ini." ujar Fam yang tidak langsung menuju etalase yang tadi ditunjuk.
"Memangnya ada ya yang lebih special dariku?" Lelaki disamping Fam menyahut. Jackob.
"Kau ini, masa iya kau menyamakan dirimu dengan kue." Fam melemparkan senyuman manis.
Kenapa harus pacaran seperti itu dihadapanku sih!~
"Kau bisa menemui pegawaiku disana, kau bisa mengatakan apa yang kau mau padanya." Bianca tersenyum tipis.
"Baiklah." Fam dan Jackob pun berlalu menuju etalase yang tadi ditunjuk. "Setelah ini aku ingin membeli hadiah dan juga beberapa dekorasi untuk ulang tahun Rose, kau masih mau menemaniku kan?" Fam menatap lelakinya. Meminta persetujuan Jackob untuk membantu menyempurnakan kejutan untuk Rose malam ini.
"Tentu sayang, Seharian menemanimu adalah sebuah hal yang langka."
Aaa~ Melihat orang yang berpacaran seperti itu rasanya ada rasa iri dihati Bianca.
~
James menginjak pedal gas mobilnya cukup dalam, berada dikecepatan penuh untuk menuju toko kue Bianca. James meyakini jika wanita menyebalkan itu ada disana. "Kau sangat senang sekali membuatku repot!" James mengumpat sambil sibuk memutar kemudi.
Sudah sampai.
James menutup pintu mobil cukup keras. Kemudian mengayunkan langkahnya cukup cepat untuk memasuki toko yang ia tuju. Tidak sabar untuk menemui Bianca dan mendengar alasan gadis itu keluar dari rumah sakit tanpa memberitahu dirinya.
"James?" Bianca yang memang sedang duduk tidak jauh dari pintu masuk menatap James dengan gelagat gugup seperti maling yang tertangkap basah.
"Kenapa kau sangat kaget?" Seperti biasa, James pasti selalu menghardik Bianca dengan tatapannya. Tidak bisa saling bersikap baik meskipun satu kali.
"Kau? untuk apa kau kesini?" Bianca sangat gugup. Entah apa yang harus ia katakan kepadala lelaki menyebalkan itu. James pasti datang untuk marah karena dirinya pergi dari rumah sakit, atau marah karena Alvino sedang mencarinya sekarang.
Apapun alasannya, James pasti sedang marah!
"Aku tidak mengerti apa yang ada dikepalamu Bianca? tidak bisakah kau menurut dan mempermudah pekerjaanku?" ujar James dengan nada frustasi.
"A-aku.. Aku sengaja pulang dari rumah sakit tanpa memberitahumu, aku tau kau akan melarangku pulang sebelum dokter itu memberi izin." Tanpa menunggu James mengatakan titik permasalahannya, Bianca buru-buru melakukan pengakuan dosa.
Huh~ James mendesah kesal. Tidak tau apa yang harus ia lakukan. Menghadapi situasi Alvino ketika marah adalah hal yang menakutkan,Dan sekarang justru ialah penyebab tuan mudanya itu marah.
"Tuan Muda ada diapartemenmu, dia sudah tahu bahwa kemarin kau masuk rumah sakit dan sekarang dia sedang marah karna kau dan aku tidak memberitahu soal hal itu." James berkacak pinggang, kesal dan juga gusar bercampur menjadi satu. "Apa yang akan kau katakan padanya? Apa kau akan mengatakan segala hal buruk tentangku untuk menyelamatkanmu?" Aaaah~ Kenapa rasanya James sangat ketakutan. Lelaki itu akhirnya sadar bahwa sikapnya terhadap Bianca selalu tidak baik. Apa dia akan mengadu dan memperburuk hubungan antar dirinya dan Alvino?
Apa maksudnya? dia mengira aku akan melakukan apa? kenapa cemas sekali?
"Terimakasih Nona, aku sudah mendapatkan apa yang ku mau dari tokomu." Fam dan Jackob kembali menemui Bianca setelah selelsai memesan kue, gadis itu berencana akan pergi mencari kado dan juga pernak-pernik yang lain sambil menunggu pesanan kue itu siap.
"Iya. Terimakasih sudah datang." Bianca tersenyum.
"Nona, apa yang anda lakukan disini?" James menatap Fam yang kini tengah saling menautkan tangan bersama Jackob.
Astaga!! James? sedang apa dia disini? Refleks Fam langsung melepaskan tangannya dari tangan Jackob.
"James, hehe. A-aku.. Aku sedang memesan kue." Fam cengengesan dengan tawa yang dibuat-buat.
Kenapa harus ada James sih? Gawat! ini gawat! Dia pasti melihatku dan Jackob berpegangan tangan kan? OMG I'm done! Fam meremat tangannya sendiri. Sudah yakin bahwa hal ini akan sampai ditelinga Alvino atau bahkan orang tuanya. Apa jadinya? mereka pasti akan memarahiku. Hiks.
"Dimana Bidy yang mendampingimu? dan dimana Nona Rose?" James melemparkan lagi pertanyaan yang membuat leher Fam rasanya semakin tercekik.
"Mereka.. hm.. mereka ada diluar, kalo begitu aku pergi dulu." Fam berlalu tanpa menunggu James melemparkan kalimat yang akan lebih membuat lidahnya kelu.
"Ada apa sayang?" Jackob mensejajari langkah Fam yang terasa sangat lebar disetiap pijakkan kakinya.
"Gawat. Hubungan kita dalam bahaya!" Fam masih melangkahkan kakinya dengan buru-buru. Kenapa harus berytemu James sih? Fam kesal.
"Apa maksudnya? apa lelaki tadi kekasihmu?'
"Yang benar saja, sudahlah. aku akan bercerita dimobil nanti."
"Kau mengenal gadis itu?" Bianca menatap James yang sedikit sudah berubah ekspresinya.
"Sudahlah, jangan menanyakan hal yang bukan urusanmu. Lebih baik kau menemui tuan muda sekarang!"
"Tapi..."
"Jangan membantah, atau kepalaku akan pecah dihadapanmu!" Nada suara James kembali cemas.
Bersambung~