
Karena bertemu orang yang menggangunya saat sedang asyik memandangi Alice, Sam menjadi sangat kesal. Lelaki itu langsung pulang dan mengehentikan acara magangnya padahal Sam belum melakukan interviewnya.
Sam mendatangi flatnya, sekaligus ingin melampiaskan rasa kesalnya kepada Laura. Sam berharap gadis itu bisa meredam kemarahan yang entah kenapa terasa sangat menggebu, mudah-mudahan Laura bisa mengembalikan moodnya.
Bukan orang itu yang membuat Sam jadi kesal, tapi tentang Alice yang berada disana karena pertolongan Alvino. Sam rasanya tidak rela. Kenapa kakaknya sendiri bisa melakukan itu, sudah terlalu keterlaluan Alvino mencampuri kehidupan pribadinya. Harusnya soal asmara menjadi ranah pribadi bukan? Alvino sepertinya benar-benar tertarik kepada Alice. Sam bahkan kembali mengingat hari dimana Alvino tiba-tiba merestui hubungannya dengan Laura, padahal Alvino sangat menentang keras tanpa alasan.
"Kau punya apa sampai-sampai berani menyakiti hati seorang wanita hah?"
"Apa maksudnya?" Sam mengernyit tidak mengerti.
"Tidak sadarkah kau sudah mencampakkan seorang wanita? kau berlagak seperti dewa tapi pada akhirnya kau membuang dia."
"Apa maksudmu Alice? Tunggu sebentar,,, sepertinya kau menyukai dia?"
"Kau bisa tinggal disini dan hidup bebas itu karena aku, jadi kau harus mengikuti peraturanku. Aku tidak mau kau berperilaku buruk karena kau adalah tanggung jawabku. aku tidak mempermasalahkan kau mencintai siapa, Laura ataupun Alice itu pilihan mu. Tapi jangan sampai kau menyakitinya. Ingat Sam, Fam juga wanita, Mami kita wanita. Mereka punya perasaan yang sama."
"Apa kau sudah merestui hubungan antara aku dan Laura sekarang?"
"Jika memang dia pilihanmu dan dia bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak? Dengan syarat kau bisa meninggalkan kebiasaan burukmu."
Sialan!! Sam menjadi semakin kesal.
Kenapa kesal? Bukannya Laura yang kau cintai? Kenapa masih merepotkan dirimu tentang Alice? #Author
Lah elo yang bikin naskah! #Sam
HAHAHAHA!!!!
Aaah~ Sam mendesah lebih kesal lagi. Laura tidak ada diruangan manapun!
Yang dilakukan Sam selanjutnya adalah menghubungi ponsel Laura. Berkali-kali namun tidak terhubung juga. Tsk. "Kemana dirimu?" Sam berdecak sambil menuju kasur, menumpahkan diri tanpa tenaga. Sepersekian detik.. Ditatapnya sekeliling ruangan kamar itu dan tiba-tiba pandanganya terfokuskan pada sebuah kamera yang terletak dilemari hias.
Sam bangun lagi. Kemudian menghampiri kamera yang cukup lama tidak ia sentuh, entah kenapa kamera itu membuatnya tertarik lagi. Slide! Slide! Slide! Kamera itu menunjukan foto-foto saat dirinya bersama Alice.
Sejurus kemudian Sam duduk lagi, dengan kamera yang masih ia lihat hasil-hasil tangkapannya. Aaah~ Moment-moment itu terasa sangat manis.Sam bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. "Kenapa hatiku rasanya selalu berdetak saat mengingat segala tentangmu?"
Sam menyimpan kembali kamera itu, namun saat baru saja berdiri tiba-tiba ia menemukan sebuah surat yang tergeletak di atas nakas. Sebuah surat yang ditulis oleh Laura.
~
Laura.. As Evelyn Mahendra.
"Hari ini, tepat dihari kematian ayahku aku akan benar-benar memulai segalanya. Aku akan memulai apa yang selama ini aku rencanakan, aku akan membuat hidupmu dan keljuargamu jadi hancur dan berantakan!" Laura sudah berada disebuah rumah, sebuah lokasi yang sudah ia manipulasi sebagai alamat tempat tinggal Alfian. Gadis itu sudah siap untuk mulai membalaskan dendam setelah hanya diam selama dua tahun terakhir. Gadis itu sudah berhasil mengumpulkan segala yang ia butuhkan selama berada disamping Sam. Dan yang akan Laura lakukan terlebih dahulu adalah memulai semuanya dari Alvino. Laura akan menghancurkan Lucatu melalui Alvino terlebih dahulu.
"Aku akan menepati janjiku, ayah. Aku akan membalas semuanya untuk mu. Untuk hidup kita yang selama ini penuh penderitaan!" Laura kemudian bersiap untuk pergi dari rumah yang sudah ia atur sedemikian rupa, ia sangat yakin bahwa hari ini, ataaau cepat atau lambat, kakak yang paling ia benci itu akan datang kesana.
Laura kemudian pergi dari rumah itu, sudah masuk kedalam mobil lalu mengecek ponsel untuk kembali memastikan bahwa segalanya sudah berjalan sebagai mana mestinya. Gadis itu kemudian mengulum senyuman lebar, semuanya sudah sempurna seperti yang ia inginkan. Gadis itu hanya tinggal menunggu kapan Alvino akan datang.
Dan yang lebih membuat Laura semakin tersenyum lebar adalah notifikasi Sam yang gagal menghubunginya setelah berkali-kali. Tidak sia-sia selama dua tahun ini dirinya masuk kedalam hidup Sam meskipun harus menyerahkan diri kepada lelaki itu, setidaknya ia menjadi sangat mudah untuk melancarkan aksinya, dan lihatlah betapa anjing kecil itu tidak bisa lepas darinya. "Thx you so much my sweety."
Bersambung~