
Kali ini Alice sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Merasa senang namun sedikit aneh juga karena langsung mendapat kesempatan interview dan lolos begitu saja disebuah anak perusahaan raksasa yang sangat terkenal di Negara nya.
Belakangan ini Alice juga merasa dirinya sedang diikuti seseorang, seperti ada mata yang mengawasi dirinya. Namun entah apa karena Alice tidak bisa melihatnya.
"Hidupku rasanya penuh teka-teki setelah masuk kedalam keluarga Sam." Gadis itu berujar sambil bersiap untuk pergi di hari pertama bekerja sebagai seorang karyawan.
Satu persatu kancing kemeja itu Alice tautkan, lalu dipadankan dengan rok hitam di atas lutut kemudian ditambah lagi dengan sebuah jas hitam, Alice jadi orang kantoran sekarang.
Ketika sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba beberapa notifikasi masuk kedalam ponsel Alice. Sebuah pesan dan panggilan tidak terjawab yang sangat banyak sekali, dan itu ia dapatkan dari lelaki yang belakangan ini Alice hindari. Sam.
"Come on, Sam. Jangan menghubungi aku lagi. Aku sudah tidak ingin berharap kepadamu!"
Alice hanya melirik notifikasi itu tanpa membukanya, kemudian kembali memasukkan ponsel itu lalu pergi menuju kantor tempat ia akan bekerja. Alice akan memulai hidupnya kembali mulai hari ini.
~
"Sesuai perintah Anda, Tuan.. Hari ini gadis itu akan masuk ke anak perusahaan Lucatu. Gadis itu hanya akan ditugaskan untuk menyalin data tanpa mengerjakan hal yang lain." Seorang pengawal yang sejak kemarin memang diperintahkan untuk mengikuti Alice itu melaporkan perkembangan kepada Alvino. Memberikan informasi bahwa semuanya sudah berjalan seperti yang Alvino inginkan.
"Kerja bagus! Kau akan mendapat hadiah untuk ini." Alvino tersenyum kecil mendengar berita yang dibawa pengawal itu, keinginannya untuk tidak membuat gadis itu sengsara perlahan mulai terwujud. "James!" Alvino memanggil sekretarisnya yang paling setia.
"Iya Tuan.." Lelaki itu datang sambil menunduk patuh.
"Beri dia hadiah yang pantas." titah Alvino.
"Baik, Tuan." James kemudian mengeluarkan sesuatu dalam sakunya, juga mengeluarkan sebuah bolpoin kemudian menuliskan sesuatu di atasnya dan memberikan itu kepada pengawal yang berdiri di sampingnya.
"Apa ini sungguhan Tuan? terima kasih banyak." Pengawal yang diperintahkan untuk mengikuti Alice itu begitu senang ketika melihat cek yang ia dapatkan dengan deretan angka yang cukup fantastis.
"Kau akan melanjutkan tugasmu, Bidy! Kau harus memastikan bahwa dia selalu baik-baik saja. Dan satu lagi.. ubah penampilanmu, jangan sampai dia curiga." Sahut Alvino lagi.
Dia? dia siapa? James.
"Dengan senang hati, Tuan." Pengawal itu kembali mengangguk patuh.
Alvino kemudian melenggang dari tempat itu, diikuti James yang memang selalu setia dibelakangnya. Rencananya hari ini Alvino akan menemani Bianca untuk pembukaan toko kue. Sudah lama juga Alvino tidak menemui gadis itu dan sepertinya ia merindukan Bianca.
"Bawa aku ke toko Bianca." titah Alvino kepada James. Dan sedetik kemudian lelaki itu mengangguk sambil berlari kecil menuju mobil yang akan mereka kendarai hari ini.
Sudah dimobil~
Hampir tiba.
"Owh James, aku lupa membeli sesuatu untuk Bianca. Mana mungkin aku datang dengan tangan kosong." Alvino mengaduh ketika mereka sudah hampir tiba di toko kue milik Bianca, lelaki itu sudah melupakan sesuatu.
"Putar arah. Aku ingin memberikan bunga yang cantik untuk kekasihku." Pinta Alvino. Dan tanpa menunggu lama lagi, James langsung memutar arah untuk mencari toko bunga yang Alvino inginkan.
Ditoko bunga~
"Berikan aku bunga yang paling disukai oleh wanita." ujar Alvino kepada penjaga toko bunga itu. Sebagai seorang lelaki yang tidak pernah berkencan dengan wanita manapun, Alvino bahkan awam tentang bunga yang disukai oleh wanita.
"Biasanya wanita akan merasa senang jika mendapat bunga mawar, Tuan." jawab penjaga toko itu.
"Berikan aku yang paling besar dan juga yang paling cantik." Pinta Alvino.
"Ada mawar merah dan ada juga mawar putih, Anda tinggal memilihnya Tuan."
Detik selanjutnya Alvino sudah menjatuhkan pilihan pada buket bunga besar yang akan ia berikan untuk Bianca, bunga itu teramat besar bahkan tidak bisa diangkat oleh satu orang. Alvino bahkan harus menyewa jasa mobil yang lain untuk mengangkut bunga tersebut.
Satu buket bunga mawar merah dan juga satu buket mawar putih berukuran besar sudah Alvino beli dan kini bunga-bunga itu akan segera meluncur ke tempat Bianca. Semoga saja wanita itu senang, pikirnya.
"Apakah kita sudah selesai Tuan?" James menghampiri Alvino yang masih melihat-lihat bunga-bunga yang terpajang disana. Padahal James sudah selesai dengan pembayaran dan juga yang lainnya. Bunga-bunga itu bahkan sudah meluncur.
"Aku ingin membeli yang ini juga." Alvino meraih sebuah bunga Tulip yang sangat indah. Selain keindahan warnanya yang memberikan kesan cantik namun juga memberikan kesan elegan dan premium.
"As u want, Tuan."
Lalu dengan sebuket bunga tulip yang digenggamnya, akhirnya James dan Alvino meninggalkan toko bunga. Melanjutkan perjalanan menuju toko kue Bianca, acara pembukaan itu akan berlangsung sekitar 30 menit lagi.
"Apa wanita akan senang jika hanya diberi bunga, James?" Alvino bertanya sambil melirik kearah James, sedikit ragu dengan tindakannya memberikan bunga untuk Bianca. Karena sekalipun Alvino tidak pernah berbuat demikian.
"Apapun yang anda berikan nona Bianca pasti akan senang Tuan, karena hadiah itu terkadang bukan dilihat dari jenisnya tapi juga dari ketulusan." Cih, James berujar seolah ia mengetahui tentang wanita. Padahal kenyataannya ia sangat awam tentang makhluk Tuhan yang paling rumit itu.
Lagipula kenapa Alvino selalu bertanya mengenai cinta dan wanita sih?
"Apa kau juga pernah memberikan seorang wanita bunga seperti ini?" Alvino bertanya lagi dan itu sukses membuat James sedikit risih. Apa yang harus dia jawab? jelas-jelas Tuan Mudanya itu tahu bahwa dia tidak pernah berurusan soal wanita.
"Kita sudah sampai tujuan, Tuan." akhirnya sampai juga. James jadi tidak perlu menjawab pertanyaan terakhir Alvino.
"Aku takut Bianca tidak suka dengan apa yang aku berikan hari ini." Alvino masih ragu, padahal ia belum menemui wanita itu.
"Tidak akan ada yang berani menolak anda, Tuan." James mencoba membuat Tuan Mudanya itu percaya diri.
Come on, Al..