You Decided

You Decided
Permintaan Ayah



Jatuh hati tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan.Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi dan bahagia adalah bonus.


“Kemana perginya dirimu sayang? setega itukah kau meninggalkan aku sendiri disini begitu saja? Kau bahkan menghilang tanpa jejak yang bisa menjadi celah untuk ku cari. Kau benar-benar jahat!! Tidakkah hatimu sakit seperti aku yang kesakitan setengah mati?” Alvino menatap Aluna yang sedang tertidur. Wajah anak itu begitu mendamaikan, tapi sejurus kemudian dia malah memutar kembali masalahnya dengan Bianca..


Waktu itu.. saat dimana tiada alasan sebagai penyebab perpisahan diantara kita. Bahkan tak ada sedikitpun penjelasan, yang mampu aku cerna dan terima.. Kamu pergi begitu saja. Meninggalkan sejuta luka yang membuatku ingin mati saat itu juga. Menyusulmu kesana lalu hidup bahagia di keabadian.


Sedalam itu cintaku pada mu Bianca, tapi kenapa kau membalasku seperti ini.


Semuanya begitu menyakitkan, bahkan seperti ada sesuatu yang melingkar di leherku, membuatku sulit untuk bernafas membuat lidahku kelu untuk berkata.


Bukankah perpisahan memang selalu berat bagi yang ditinggalkan? Ada rasa sesak seperti gelembung-gelembung yang memenuhi dada.


Masih lekat dalam ingatan saat kita masih bersama, menjadi sepasang kasih yang saling mencinta.


Senyum ituu... Tawa itu.... Wangi parfume yang selalu mendamaikan saat kau mendekapku, sentuhan lembut saat kau membelai wajahku. Dan saat aku berhasil melewati hari-hari berselimut kabut hitam, kau justru hadir kembali. Membuat ratapanku karena kehilangan hanyalah sia-sia.


Bagai badut bodoh berbulan-bulan aku meratap di atas nisan orang lain.


Hatiku sangat merindukanmu namun saat dirimu kembali dengan caramu yang seperti itu, hatiku justru kembali tersayat.


Aku pernah mencintaimu segila kemarin, namun setelah pada akhirnya aku mengerti bahwa logika harus dikedepankan.


Akhirnya.... aku memilih menyerah pada----Keadaan.


Karena ternyata kau tidak sepantas itu untuk aku perjuangkan.


Hari ini aku terbangun setelah hari-hari memuakkan, aku sudah selai untuk berperang dengan diriku sendiri.


Ku tatap pantulan diriku yang masih kusut berantakan di depan cermin, lalu aku menyadari sesuatu, aku mulai berbicara dengan diriku sendiri, bertanya apa yang diinginkan jiwa dan ragaku.


Mulai hari ini aku sudah berhenti. Berhenti mencintaimu, berhenti mengagumimu, berhenti mengharapkanmu, berhenti dari segala tentangmu. Meskipun aku harus kembali bersusah payah mengubur rasa itu, tapi aku akan berusaha lebih keras.


Krek!!


Suara pintu terbuka. Namun Alvino masih larut dalam pandangannya menatap Aluna. Suara langkah kaki yang semakin mendekat bahkan tidak Alvino sadari.


“Apa aku benar-benar sudah tua? Astaga, aku memiliki cucu sekarang.” Seorang pria tampan berdiri di samping Alvino, menyelipkan kedua tangannya di saku kemudian ikut menatap Aluna.


“Dady..” Kedatangan Ken akhirnya disadari Alvino, lelaki itu sedikit mengerjap kaget.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik, seperti yang kau lihat.”


Ken dan Alvino kemudian mulai berbincang, setelah Monica bercerita tentang keadaan  Alvino, dengan segera Ken hadir.


“Aku tidak akan ikut campur tentang apapun keputusanmu, tapi, ku harap kau mempertimbangkan tentang keputusanmu meninggalkan Lucatu. Aku sudah tua, bro.”


“Sam bisa menggantikanku, Dad.” Alvino tidak mau goyah lagi, keputusannya sudah bulat bahwa dia akan pergi hanya dengan Aluna. Alvino akan memulai segalanya hanya dengan gadis kecil itu, tanpa Bianca, tanpa Alice. Setelah kehadiran Bianca lagi, hati itu rasanya mati rasa. Mungkin jika tanpa kehadiran Aluna, Alvino tidak akan sanggup berdiri untuk hidupnya lagi.


“Jangan berpura-pura kau tidak mengenal Sam. Kau tahu adikmu itu seperti apa. Aku tidak mungkin mempercayakan Lucatu kepadanya.” Ken masih bersikeras. Lucatu adalah lambang kehidupannya. Perusahaan sang ayah yang dirintis dari nol hingga menjadi perusahaan raksasa seperti itu melalui banyak kisah juga. “Kau boleh pergi, tapi hanya untuk menyembuhkan lukamu. Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali, aku tidak ingin melihat perusahaan ayahku hancur saat aku masih berada di dunia. Berjanjilah.. Anggap ini permintaan seorang ayah.”


“Dad.. Tapi..”


“Pikirkan sekali lagi ucapanku. Jika kau pergi, bukan hanya Lucatu yang hancur. Tapi ibu dan adik-adikmu juga. Pergilah bersenang-senang. Bangun kembali energi positifmu.Hidup sebagai lelaki maka mentalmu harus sekuat baja. Anggap ini terlalu sederhana untuk kau anggap sebagai depresi.”


Alvino hanya mengangguk-ngangguk kecil.


“Satu lagi. Kau pasti sangat membenci wanita yang berpura-pura mati itu, bahkan kau akan enggan untuk mencintai wanita lagi. Kau pasti tau jika dulu aku pernah sangat membenci kaum wanita sebelum bertemu Monica, dan percayalah kau juga akan menemukan itu.”


 


 


 


 


 


 


Bersambung~


 


 


 


 


Note : Adegan Alvino sama Alice yang kemarin kissing aku hilangkan.