You Decided

You Decided
Permainan Dimulai



James berusaha semampunya untuk mengusut tuntas apa yang sebelumnya tidak diketahui. Ingin membalas kemarahan Alvino dengan cara menunjukkan kerja keras nya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik. Setelah pertikaian yang terjadi antara Laura dan juga Bianca, James sebenarnya masih ambigu tentang itu semua. Merasa aneh dan ada sesuatu yang janggal di antara mereka. Antara Laura dan juga Bianca.


Aneh bukan? Laura yang tadinya adalah kekasih Sam kini tiba-tiba menjadi Evelyn adiknya Alvino. Bagaimana bisa itu terjadi? Dan bagaimana Bianca bisa mengenal Laura, bahkan tahu bahwa Laura adalah Evelyn. Semuanya begitu membingungkan. Sangat rumit mirip kisah hidup authornya.


Sssstt.. Apa Sih James!


Hehe..


“Dimana aku harus mencari sumber data-data mereka? Aku harus tahu dulu siapa mereka sebenarnya.” Lama tidak berada disamping Alvino memang membuat James jadi ketinggalan banyak kisah. Dan kini, jika biasanya James selalu marah-marah karena harus terlibat dalam kehidupan wanita, terutama Bianca, Kini James justru akan masuk lebih dalam lagi. Mendalami hidup Bianca dan Laura tanpa diminta. Setidaknya James harus berusaha menemukan benang merah dulu, agar sebab musabab kejadian-kejadian itu tidak terlalu rumit meskipun aslinya sudah sangat rumit.


Berfikir, berfikir, berfikir..


“Rose..” Aha~ eh tiba-tiba malah mengingat Rose. “Tidak. Aku akan melakukan ini sendiri, kenapa harus selalu melibatkan Rose?” Berbicara sendiri dan dijawab sendiri. Kau ini!.


“Bidy, Hubungi Bidy Sam. Bukan Rose!” Sedang pusing dan kasmaran di waktu bersamaan kenapa membuat James malah jadi lemot sih. Haha. Tertawa sendiri sambil geleng-geleng kepala.


Setelah diingatkan Author untuk menghubungi Bidy daripada Rose, dengan segera James pun melakukan itu. Otak yang sudah nge-hang itu kembali menemukan secercah harapan ketika Bidy Sam mengatakan bahwa Sam dan Laura kuliah di satu Universitas yang sama. “Ahaa~ Bodoh! Bukannya aku tahu Tuan Muda dan Bianca juga kuliah di Universitas yang sama? Kenapa harus repot-repot menghubungi Bidy-nya Sam.”


Sejurus kemudian, daripada terus meratapi kebodohannya langsung saja James menuju Universitas itu untuk mengetahui lebih detail dua wanita yang selalu berulah dan menyebabkan kepalanya sering akan pecah, mencari data yang menjurus untuk mengungkap siapa sebenarnya Laura dan Bianca versi dirinya. Dan James masih saja kaget ketika mendapati ternyata mereka berasal dari kota yang sama, yang artinya Bianca dan Laura memang saling mengenal satu sama lain.


Kesana. James segera menuju kesana. Menuju alamat yang baru saja dia dapatkan. Mencari narasumber utama yaitu orang tua gadis-gadis itu sendiri.


Tanpa menunggu lama atau kesulitan lagi, dengan mudah James sudah tiba di tujuannya. Dan yang pertama lelaki itu tuju adalah rumah Bianca. Rumah keluarganya Bianca.


“Ding!” Menekan tombol bel rumah.


“Ding!” Menekan lagi. Tapi tidak ada sahutan atau tanda-tanda bahwa ada kehidupan di dalam sana. Tapi James tidak menyerah, lagi dan lagi menekan meskipun tidak ada jawaban meskipun sudah berulang kali.


“Bianca dan Laura ternyata tinggal berdekatan, yasudah, lebih baik aku ke tempat Laura saja.” Sudah menyerah menekan tombol, James kemudian memutuskan untuk langsung ke rumah Laura yang jaraknya tidak terlalu jauh. Rumah itu sepertinya lebih hidup ketimbang rumah Bianca.


“Ding!” Menekan tombol.


“Ding!” Menekan lagi setelah menunggu sebentar.


Krek! Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dan itu adalah Cynthia.


“Permisi, Nyonya. Apa ini kediaman Laura?” James berbasa-basi. Sementara Cynthia hanya menatap James dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa bertanya siapa pria asing itu, Cynthia sudah bisa langsung menebak dari pakaian yang lelaki itu gunakan. Itu pasti utusan Lucatu. Gumamnya dalam hati.


“Silahkan masuk.” Cynthia mempersilahkan. Sudah bisa menebak bahwa utusan itu pasti suruhan Alvino.


Detik selanjutnya James masuk, meskipun sedikit aneh karena dipersilahkan masuk tanpa ditanya siapa dirinya tapi James masuk saja. Mungkin ibu itu tidak merasa kaget karena kemarin Tuan Muda juga kemari, pikirnya. Dan saat memasuki rumah itu James langsung bisa menyimpulkan bahwa Laura memang tinggal di rumah itu, memang putri ibu itu.Terlihat dari banyaknya foto-foto yang terpajang di dinding ruang tamunya. Disana juga James melihat foto Tuan Alfian, juga foto Tuan Mudanya Alvino.


Jadi soal Laura adalah adik Tuan Muda memang benar..


“Aku sudah mengira kau memang utusan Alvino. Duduklah..” Cynthia tersenyum dan mempersilahkan lelaki asing itu. Bersikap ramah dan menunggu James menyampaikan kabar apa yang dibawa.


Semoga dia membawa kabar baik tentang Eve dan Nino..


“Nyonya pasti tahu kan Tuan Muda dan Nona Laura adalah kakak beradik?” Pertanyaan konyol si robot menyebalkan itu terdengar aneh. Sekaligus memastikan bahwa kesimpulan tentang Laura dan Alvino adalah benar.


“Tentu..”


Tuh kan..


“Tapi disana juga ada Bianca, boleh aku mengetahui latar belakang gadis itu? Ada masalah yang terjadi dan melibatkan Tuan Muda.” To The Point. Untuk menyelamatkan Bianca dari jerat hukum Polisi, James harus mengetahui segalanya dulu. Agar dia bisa lebih mudah nantinya.


“Apa Alvino belum bercerita kepadamu? Bianca, dia anak kakakku. Dia teman kecil Evelyn. Mm maksudku Laura.”


James kemudian bertanya lebih dalam lagi, seputar Laura dan juga Bianca. Dan Cynthia menceritakan itu semua dengan gamblang. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Membuat James jadi tahu siapa Bianca sebenarnya. Bianca ternyata gadis broken home korban keegoisan orang tuanya yang mementingkan kebahagiaan mereka sendiri. Seketika rasa kasihan James terhadap gadis itu semakin bertambah.


Bukan. Ternyata Bianca bukan orang jahat..


“Bagaimana keadaan mereka disana? keadaan Laura, keadaan Bianca, keadaan Alvino dan keluarganya. Mereka Baik-baik saja bukan?” Setelah bercerita panjang lebar kini giliran Cynthia yang mengajukan pertanyaan.


“Aku sangat berharap begitu, tapi kenyataan tidak. Sedang terjadi kekacauan disana.”


Deg! “Kekacauan? Maksudnya?” Cynthia langsung tertegun. Kekacauan macam apalagi? Apa putrinya berulah lagi?


“Laura dan Bianca berada di rumah sakit, mereka terlibat pertikaian dan membuat mereka sama-sama terluka. Itu semua terjadi saat Tuan Muda disini kemarin.”


“Terluka? bagaimana bisa mereka bertikai seperti itu."


"Entahlah, mereka saling menyerang satu sama lain."


Astaga!!


"Ayo, antar aku kesana. Aku ingin melihat keadaan putriku.” Cynthia langsung panik. Sudah tidak ingat lagi dengan rasa malunya jika bertemu Monica dan juga Ken disana, yang ada di kepalanya sekarang hanyalah Laura. Juga Bianca yang katanya sama-sama sedang terluka.


“Tentu. Aku akan membawamu kesana.”


Dan tanpa diketahui seorang wanita menguping percakapan mereka, wanita itu adalah Keely. Dalang dari semua kekacauan itu.


“Permainanku sudah bermula ternyata..” wanita iblis itu tersenyum smirk.


JENG..JENG..JENG