
“Hey! Kau mau membawaku kemana! Aku bilang kita ke flat Sam!” Famela menggerutu ketika mendapati dirinya dibawa melalui jalan berbeda. Harusnya sopir itu mengemudi dan membawa dirinya ke tempat Sam. Tapi entah kenapa sopir itu seolah tuli. “Apa kau kehilangan telingamu?!” Fam semakin kesal. Sejak tadi sopir itu hanya diam saja.
“Kau berani membantahku ya? lihat saja, kau akan menyesal. Aku akan menelpon…”
Siapa yang akan kau telpon Fam? Kakak? atau Daddy?
Sial! Tidak mungkin dia menelpon kakak dan merepotkannya hanya karna hal seperti itu. Dan tidak mungkin dia menelpon daddy, Fam masiah sedikit memiliki rasa takut terhadap ayahnya karena kejadian bunga itu.
Sudahlah! Tenang saja. Sopir itu tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh. Dia tidak akan berani menyakiti putri Lucatu. Tenang Fam.
Oh, Sam! Aku harus menelponnya.
“Halo.”
“Sam.. Aku akan kesana tapi entah kenapa sopirku tidak mau mendengar. Dia membawaku entah kemana.” Fam bisik-bisik kepada adiknya dalam panggilan yang baru saja terhubung.
“Aku tidak kaget, Fam. Karena akupun sama denganmu, dalam perjalanan entah kemana.”
“Maksudnya?”
“Kita akan menghadap Daddy.”
Mati!
Ternyata Fam belum cukup mahir untuk masuk ke dalam permasalahan orang dewasa. Lihatlah, baru saja akan memulai dia sudah mendapatkan kegagalan. Terlalu percaya diri bisa menyelesaikan masalah orang lain padahal dirinya sendiri berada dalam masalah.
Sementara di lain tempat..
Bagai mendapatkan durian runtuh, setelah berhasil didamaikan oleh Famela kini Rose dan James juga memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Alvino. Meskipun tidak tahu apa yang akan diperbincangkan setidaknya mereka memberi kesempatan untuk sekadar meminta maaf.
"Jangan meminta maaf atau mengutarakan penyesalan." Jurus pembicaraan dua orang itu sudah jelas merujuk bahwa mereka memang ingin membahas kejadian soal Bianca lebih dalam lagi. Tapi tidak dengan Alvino, lelaki itu sudah enggan untuk bertele-tele, yang dia inginkan hanya berdamai dengan diri sendiri dengan memaafkan kesalahan orang lain dan juga kesalahan dirinya.
"James, ada satu permintaanku dan kuharap kau tidak akan menolaknya."
"Bagaimana mungkin saya berani menolak anda, Tuan." Seperti biasa, tunduk dan patuh.
"Mulai sekarang kau bukan lagi kaki dan tanganku."
"Tuan, tapi itu bukan perintah. Saya tidak mungkin.."
"Bertahun-tahun kau menemaniku dan memberikanku yang terbaik, sudah tiba saatnya kau membangun kebahagiaan untuk dirimu sendiri.. dan Rose, kuharap kau pun tidak menolak permintaanku."
"Selama aku bisa melakukannya, mungkin aku tidak akan menolak." Rose dan James sama-sama menelan ludah. Entah apa yang akan dikatakan Alvino, sosok itu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan misterius.
"Aku ingin kalian menikah."
Uhuk! James terbatuk.
"Sudahlah James aku tahu kalian berdua saling mencintai satu sama lain. Meskipun kalian masih muda tapi ini adalah waktu yang tepat. Tenang saja James, kau akan tetap menjadi bagian dari Lucatu hanya saja posisi mu kali ini akan berbeda."
“Kemari James, peluk aku dan anggap aku teman. Sudah cukup lau mengabdi dan menganggapku sebagai Tuan.”
“Tuan..”
Mereka berpelukan sebentar.
“Saya tahu anda telah membuat keputusan yang terbaik, bahkan kapasitasku tidak bisa mencernanya. Tapi apapun itu, saya tahu anda akan memilih yang terbaik.” Suasana itu tiba-tiba menjadi haru. Meskipun tidak rela harus berhenti dari posisinya sebagai kaki tangan Alvino, tapi James sadar bahwa dia tidak bisa memaksa. Toh, yang ia lakukan selama ini juga belum cukup berhasil membuat Alvino terjaga dari masalah-masalah.
“Aku mempercayakan teman kecilku padamu. Lindungi dan bahagiakan dia selalu.” Alvino menepuk-nepuk pundak James.
“Kalian berpelukan sementara aku hanya jadi penonton.” Rose menimpali.
“Ow, kemari Rose.” Kali ini Alvino memeluk teman kecilnya. Sebentar. “Terima kasih kau sudah menjaga Alunaku selama dalam perut Bianca.” Lelaki itu tersenyum kecil. Terlepas dari kesalahan Rose, tapi Alvino harus berterimakasih. Selama dalam persembunyian, teman kecilnya itu yang memenuhi segala kebutuhan calon bayinya. Mungkin Aluna akan terlahir kurang nutrisi jika Rose tidak ikut berperan.
“Aku berharap kau menemukan kebahagiaan, Al. Kebahagiaan lebih dari saat kau selalu mendapatkan piala ketika kita berada di bangku sekolah dasar.”
Ahaha.. Kenangan manis itu..
Selesai dengan itu, kini tiba saatnya Alvino untuk menemui adik-adiknya. Famela dan Samuel. Selain untuk berpamitan, lelaki itu harus memastikan adik-adiknya berada dalam jalan yang benar.
Sudah tiba..
Sejenak Alvino menatap tempat tinggi dengan ribuan kemenangan didalamnya, ya, dia sudah tiba di Lucatu. Perusahaan kecil yang sudah berhasil dia lebarkan sayapnya. Hadiah kecil dari Ken saat dia beranjak dewasa. Sebuah tempat kecil yang tadinya hanya sebuah cabang, tapi kini mampu menyaingi pusatnya.
“Aku tahu kau bukan gadis kecil lagi, meskipun sampai kapanpun, dimataku kau akan selalu begitu. Dengan segala rentetan peraturan Daddy, kau mungkin merasa tidak memiliki kebebasan. Tapi itu adalah bentuk cinta ayahmu.”
“Jika memang begitu, Daddy tidak mungkin menghalangi kebahagiaanku.”
Hehe.. Monica tersenyum kecil.
“Kau hanya tidak pernah bersyukur, Fam. Diluar sana banyak anak gadis yang mendambakan cinta dari ayahnya. Karena pada dasarnya seorang ayah adalah cinta pertama anak gadisnya. “ Monica mengambil tangan Fam untuk di genggam olehnya. “Kau hanya tidak pernah merasa terluka. Dan jika itu terjadi, Daddy akan lebih terluka darimu.” Selama ini Fam hanya merasakan manisnya kehidupan, dia tidak tahu bahwa dunia yang sesungguhnya begitu keras dan kejam. Fam tidak pernah tahu bahwa Monica dan Ken selalu berusaha melindunginya. “Daddy tidak akan membiarkanmu terluka, itu saja.”
“Tapi Jackob tidak pernah membuatku terluka, Mam. Dia lelaki yang baik.”
“Aku tahu, tapi kekhawatiran daddy sangat besar Fam. Dia tidak mungkin semudah itu membiarkan anak gadisnya mencintai lelaki lain selain dirinya.”
“Lalu? Apa ini harus selamanya?”
“Kau adalah berlian yang paling berharga, siapapun yang akan memiliku maka dia harus berjuang lebih keras lagi.” Monica menghela nafas, semenjak Ken mendapati buket bunga untuk Fam dari seorang lelaki, tentu saja Ken tidak tinggal diam. Belahan jiwanya itu dengan segera mencari darimana bunga itu berasal. “Daddy sudah menemui lelaki yang bernama Jackob itu.”
“Ha? benarkah? apa daddy melukai Jackob?”
Jawabannya adalah tidak. Mendapatkan riwayat kehidupan seseorang adalah hal mudah bagi Ken. Dengan sekali bertindak, Ken bahkan bisa tahu bagaimana Jackob semenjak lelaki itu lahir. Ken juga menyisir bagaimana hubungan antara Jackob dan Famela berawal dan berjalan. Dan Ken, Ken mendapati bahwa lelaki yang bernama Jackob itu memang mencintai Famela_putrinya.
Namun bagaimanapun Jackob mencintai Fam, lelaki muda itu harus berurusan dengan Ken. Lelaki muda itu harus melalui rintangan dulu sebelum mendapatkan berliannya Lucatu.
Di sisi lain..
“Sudah cukup kau menikmati kebebasanmu, Sam. Kau harus mulai melakukan sesuatu yang berguna untuk masa depanmu. Daddy sudah tua dan tidak bisa selalu disampingmu. Jika tidak bisa membanggakan Daddy, setidaknya buat mami bangga terhadapmu.” Ken sedang berhadapan dengan putra bungsunya. Setelah merangkum riwayat kehidupan Sam, Alvino dan Ken sepakat untuk menempa Sam dengan hukuman. Agar lelaki muda itu mampu menjadi seseorang yang bertanggung jawab. “Kau memang si bungsu, tapi kau tidak bisa selalu menjadi anak manja.”
“Dad, aku memang salah tapi aku bukan anak manja.”
“Sungguh? kalau begitu kau siap untuk memimpin Lucatu, kan?”
“Tidak! Aku tidak mau menggantikan kakak, apalagi bakatku bukan disana.” Jelas Sam menolak, dia memang pewaris Lucatu tapi selain tidak mau mengganti Alvino, Sam tidak pernah tertarik untuk memimpin perusahaan raksasa itu. Sam tidak memiliki passion untuk itu.
“Kau akan, Sam. Kau akan menggantikanku selama aku pergi.” Suara seorang lelaki terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang semakin mendekat. Dan itu adalah Alvino.
“Kak..” Mata Sam mengekori Alvino hingga lelaki itu berada dihadapannya. “Kau pergi? maksudnya?”
“Kakak.” baru saja tiba Alvino sudah di suguhi oleh pelukan juga air mata Famela. Gadis manja itu memang selalu berlebihan. “Apa kau benar-benar akan pergi meninggalkanku?”
“Jangan berlebihan Fam, aku hanya akan pergi berlibur.” Alvino tertawa kecil sambil mengusap punggung Famela.
“Jadi kau hanya akan pergi liburan? Astaga lalu untuk apa aku menangis.” buru-buru Fam mengusap air matanya.
“Dasar gadis kecilku.” Ken ikutan tertawa kecil.
“Aku gadis remaja Dad, bukan gadis kecil!”
“Tapi kau masih saja cengeng, Fam.” Sam ikut meledek sama seperti Ken.
Semuanya hanya saling tersenyum.
“Kalau begitu, tiba saatnya untuk berpamitan. Sam.. kau harus berjanji untuk menjaga Famela dan mami untukku. Kau juga harus membuktikan kepada daddy bahwa kau mampu bertanggung jawab. Dan kau Fam, jadilah gadis baik. Kau harus berhenti jadi pembangkang.”
“Kau sama saja seperti daddy dan Sam, terus saja menggodaku!” Mencebik sebal dengan mulut mengerucut dan tangan dilipat didada. “Eh tapi, dimana keponakanku, kak? Aku belum melihatnya.”
Aluna..
Bersambung~