You Decided

You Decided
Pesawat



James menemui Rose terlebih dahulu dibanding menemui Bianca yang padahal lebih penting. Wajah bersedih gadis itu selalu saja nampak di dalam pandangannya, dan entah kenapa itu membuat James merasakan sebuah rasa bersalah. James datang ke rumah Alvino untuk mencari keberadaan Rose, namun ternyata gadis itu tidak ada disana.


Mungkinkah Rose masih berada di sekitar Flat Bianca tadi?


“Siapa Bidy yang menemani Nona Rose hari ini?” tanya James kepada kepala pengawas dirumah itu. Belum pernah James kepo seperti itu sebelumnya, apalagi tentang Rose.


“Nona Rose pergi sendirian, Tuan. Bidy yang seharusnya menemani Nona sudah pulang. Nona Rose yang menyuruh begitu.” Kepala pengawas itu menunduk, meskipun posisinya seorang kepala tapi tetap saja ia masih di bawah James.


“Kenapa kau membiarkan dia sendirian, panggilkan Bidy itu!”


Sejurus kemudian kepala pengawas itu memanggil Bidy yang memang bertugas mengantar Rose kemanapun gadis itu pergi. Mempertemukan Bidy itu dengan James yang sudah tidak sabar untuk mempertanyakan dimana keberadaan Rose.


“Dimana Nona Rose? Kenapa kau meninggalkannya sendirian, bodoh!” Baru bertemu tapi James sudah menghardiknya, membuat Bidy yang memang tidak berani untuk menatap langsung tertunduk dalam.


“Saya tidak meninggalkan Nona Rose, Tuan. Tadi saya mengantar Nona Rose untuk mencari keberadaan anda, namun tidak lama kemudian Nona Rose meminta untuk pulang.” jawab Bidy itu dengan takut-takut.


“Jadi Nona Rose sudah pulang? Lalu dimana dia sekarang?” James bertanya lagi dengan rasa penuh penasaran.


“Sopir pribadi mengantar Nona Rose pergi ke bandara. Nona Rose bilang ia akan pulang untuk menemui orang tuanya di kota A.”


“Bandara? Pulang?” James mengulang kalimat itu.


Siapa yang mengizinkan Rose pulang? Tapi sepertinya dia tidak meminta izin kepada siapapun..


“James!! Roseeee…” Fam keluar dari rumah. Hari itu kebetulan dirinya dan Rose memang sedang libur untuk pergi ke kampus.


“Ada apa Nona?” James segera menghampiri Fam yang berada di ujung pintu.


“Rose pergi ke bandara, dia akan pulang.Tolong kejar dia sebelum kakak tahu soal ini. Apa jadinya jika bibik Emily tahu Rose pergi tanpa pengawalan. Ayo James!!” Fam sudah panik, terakhir ia bertemu dengan Rose adalah ketika Rose sudah menemui James dan mengatakan bahwa ia tidak berhasil mengajak James untuk berbicara mengenai masalahnya. Dan saat Fam akan mengunjungi Rose di kamarnya ia hanya mendapati sepucuk surat yang ditulis Rose yang mengatakan bahwa gadis itu pamit pulang.


Astaga!! Apa lagi ini..


“Baiklah, saya akan segera menyusul Nona Rose, semoga saja dia belum benar-benar pergi. Permisi Nona!” James menundukan kepalanya sebelum akhirnya berlari menuju mobilnya. Ia harus segera menyusul Rose sebelum ada kemungkinan terburuk yang terjadi pada gadis itu.


Apa Rose pergi karena ia tidak menerima permintaan tolongnya tadi? Kenapa rasanya James sangat merasa bersalah.


James segera menginjak pedal gas untuk menuju bandara, berharap dengan kecepatan mobil itu ia masih bisa menemui Rose yang akan pergi. Semoga saja dengan ia bisa membantu apa yang Rose inginkan, gadis itu tidak jadi pergi dan menimbulkan masalah yang lain.


 


 


~


Rose masih berada didalam taksi untuk pergi ke bandara. Berniat untuk pulang dan berhenti untuk tualangnya mendapatkan cinta Alvino. Rose sudah sadar bahwa mereka tidak lebih dari teman kecil, dan Rose memang tidak boleh memiliki perasaan yang lebih. Rose lebih baik mengubur perasaan itu sebelum luka yang ia dapat semakin menyakitkan.


Bodoh! Selama ini aku berjuang mati-matian hanya untuk orang yang bahkan tidak pernah menoleh kepadaku! Alvino hanya saudara mu, teman kecilmu, tidak lebih.


Pertemuan Rose dengan Bianca hari itu benar-benar membuat Rose berhenti untuk memperjuangkan cintanya. Ia seperti diberi tamparan keras bahwa sampai kapanpun cintanya untuk Alvino tidak akan pernah sampai. Lebih baik Rose pulang dan memulai hidupnya sendiri.


Sudah di bandara..


Rose membawa koper berisi pakaiannya sendirian, tekadnya untuk berhenti benar-benar sudah bulat. Hari itu juga Rose berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menaruh harapan kepada Alvino, toh lelaki itu sudah memiliki kekasih.


“Nona..” huh..huh.. James baru saja tiba di bandara. Lelaki itu berlari sekuat tenaga untuk mengejar Rose yang hampir saja akan terbang menuju kota dimana orang tuanya tinggal.


“James?” Rose menatap heran. Kenapa dia ada disini? Bagaimana James bisa tahu bahwa dia berada disana. Bukankah James tadi pergi bersama Alvino dan juga kekasihnya?


“Nafasku hampir saja habis!” Huh..huh.. James masih mengatur nafas.


“Astaga! Apa yang kau lakukan. Minumlah..” Rose menyerahkan botol tumbler berisi air kepada James yang masih berusaha mengatur nafasnya. Heran atas apa yang James lakukan.


“Terima kasih..” James mengambil botol minum itu kemudian menenggaknya hingga hampir habis. Glek! Glek! Glek!


“Pelan-pelan James!” Rose manatap ngeri bagaimana cara minum James yang terburu-buru seperti itu. James seperti tidak menemukan air setelah sekian lama.


“Ah..Terima kasih. Sudah lumayan lega sekarang.” James memberikan botol minuman itu lagi dan Rose pun menerimanya.


“Aku harus pergi sekarang, pesawatnya hampir terbang.” Rose memasukan botol minum itu ke dalam tasnya.


“Tidak, Nona. kau akan pergi kemana? Kenapa kau tidak memberitahukan siapapun? Tuan Alvino pasti---


“Sudahlah.. Aku sedang tidak ingin membahas Alvino sekarang.”


Eh.. James menatap heran. Membuat mereka tidak sengaja saling menatap dalam pandangan masing-masing.


“Hm.. Bukannya tadi kau ingin meminta tolong kepadaku? Memangnya apa yang bisa aku bantu?” James mengalihkan pandangannya saat keadaan saling menatap itu berlangsung cukup lama. Rasanya gugup sekali. Kenapa perasaan aneh tiba-tiba muncul, pikirnya.


“Bukan hal penting, aku sudah selesai menghandlenya. Maaf mengganggu waktumu, James.” Rose tersenyum simpul.


Tidak. Aku tidak akan terlibat tentang apapun lagi! Selama ini aku selalu berkorban untuk mereka tanpa ada yang berkorban untukku juga. Aku sudah berjanji untuk berhenti dari apapun dan akan memulai hidup baru!


“Kenapa?” James menatap lagi. Aaaaa~ Kenapa Rose tersenyum seperti itu. Meskipun hanya senyuman tipis tapi itu manis. “Eh maksudku…” Astaga! Ada apa denganku? kenapa justru aku sangat berharap Rose meminta pertolongan kepadaku dan aku bisa membantunya?


“Aku benar-benar harus pergi sekarang, James. Sampai jumpa.” Rose kembali meraih kopernya untuk ia seret masuk. Namun satu detik kemudian….


“Tunggu..” James meraih tangan Rose untuk menghentikan kepergian gadis itu.


“James!! Pesawatku akan terbang lima menit lagi!”


 


 


Biar saja pesawat itu pergi, asal jangan dirimu!


 


 


 


Bersambung~