You Decided

You Decided
Masalah



Sam ternyata salah, setelah ia kehilangan jejak Laura hari itu, ternyata ia tidak bisa menemukan gadis itu kembali. Murka. Sam murka terhadap apa yang telah dilakukan kekasihnya. Tidak menyangka bahwa Laura membersamai dirinya mempunyai tujuan tertentu. Dan bodohnya ia tidak tahu bahwa selama ini Laura bahkan sudah berbuat sangat jauh, hampir saja membuat perusahaan keluarganya collaps bukan main. Andai saja ia tidak mengetahui pertemuan Laura dengan pria yang bernama Bryan dari Brandon group saat itu, atau sedetik saja Sam telat membatalkan penawaran yang Laura berikan kepada lelaki itu, hancur sudah Lucatu termasuk hubungan dirinya dengan keluarga.


“Dasar Sialan!!” Sam terus saja mengumpat. Seluruh bidy sudah dikerahkan untuk mencari dimana keberadaan Laura, namun satupun tidak ada yang membawa kabar baik bahwa mereka sudah menemukan Laura.


Sam yang masih berada di kafe terus saja memutar otak untuk mencari ide brilian tentang apa yang harus ia perbuat selanjutnya. Haruskah ia mengatakan itu kepada Alvino dan membagi masalah itu? Tidak. Jangan dulu. Setidaknya saat Alvino mendengar masalah itu, Sam harus tahu dulu siapa sebenarnya Laura. Dan siapa yang membantu dia untuk mencuri berkas-berkas penting Lucatu. Karena sangat tidak mungkin jika Laura melakukan itu sendirian.


“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan dia?” Ujar Sam saat menempelkan ponselnya di telinga. Namun jawaban yang ia terima lagi-lagi hanya kata ‘Belum Tuan.’.


“Cari disetiap alamat. Datangi kampus dan minta data Laura, aku tidak mau tahu. Secepatnya kau harus menemukan dia!” Panggilan di putus.


Bodoh. Bodoh. Bodoh! Sam terus saja mengumpat. Kenapa ia bisa jadi sebodoh itu sih? Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Mengingat mereka sudah bersama-sama dalam hitungan tahun. Sama sekali tidak menyangka gadis manis yang membersamainya semenjak tiba di kota itu ternyata memiliki niat yang jahat. Bukankah Sam ahlinya dalam menghadapi wanita? Sam bahkan tahu berbagai sifat dan karakter wanita. tapi kenapa ia bisa kecolongan hal yang sangat berbahaya.


Disela kebingungan yang melanda Sam, tiba-tiba Alice datang ke tempat itu. Membawa berkas kemudian duduk di salah satu meja yang sudah di reservasi. Namun mereka tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Alice sedang menunggu klien yang dimaksud Elena, sementara Sam masih sibuk mengontrol para pengawal tentang pencarian Laura yang tiba-tiba menjadi buronan.


Sam yang sedang fokus benar-benar tidak menyadari kehadiran Alice disana, meskipun mereka berada di jarak yang sangat dekat. Begitupun Alice, gadis itu juga tidak menyadari kehadiran Sam ditempat yang sama. Alice juga fokus untuk menemui klien dan memenuhi tugasnya hari itu.


30 Menit kemudian..


Alice sudah selesai berbincang dengan klien, gadis itu berhasil mendapatkan kesepakatan yang tadi Elena wanti-wanti terhadapnya. Beruntungnya Alice pandai berbicara dan membuat klien itu tertarik, dan tentu saja itu adalah sebuah pencapaian.


Alice yang berbahagia, Sam yang murung. Takdir mempertemukan mereka di waktu yang sama namun dengan keadaan berbeda. Sam yang sedang pusing, Alice yang berbahagia dengan pencapaian yang ia dapatkan hari ini.


“Alice..” Sam yang lebih dulu menyadari keberadaan gadis itu


“Sam?” Alice balas menyebut nama lelaki itu.


“Sedang apa kau disini?” Sam bangkit dan mensejajari Alice yang berniat akan kembali ke kantor, urusan disana sudah benar-benar selesai.


“Kau sendiri sedang apa disini.” Alice balik bertanya. Kenapa bisa dihari yang sama mereka bertemu dengan ketidak sengajaan. Semula di rumah sakit jiwa, dan sekarang di kafe. Apa Sam benar-benar mengikuti dirinya?


“Aku sedang---


“Nona Alice.” Suara seorang pria memanggil. Itu adalah klien yang tadi Alice temui.


“Iya Tuan.” Alice menoleh kepada klien yang padahal tadi sudah pergi lebih dulu darinya. Entah kenapa orang itu kembali lagi.


“Maaf.. Ini kartu namaku.” Orang itu memberikan Alice sebuah kartu nama dan spontan saja Alice menerima itu.


Sementara Sam yang menyaksikan itu tiba-tiba merasa risih, apakah dua orang itu benar-benar akan berkenalan di hadapannya yang padahal sedang gusar. Sam yang melihat Alice membawa berkas-berkas dan tentu saja memakai pakaian khas Lucatu bisa menarik benang merah bahwa mereka baru saja bertemu sebagai rekan bisnis.


Sam! Memangnya kau tahu apa?


Eh.. Alice dan pria itu menoleh. Menatap tidak mengerti. Memangnya siapa dia?


“Permisi, bung. Memangnya siapa dirimu? Kami rekan bisnis dan memberikan kartu nama adalah hal yang wajar.”


“Aku putra Lucatu!” Sombongnya keluar lagi.


Alice mematung. Apa dia bilang? Putra Lucatu? ternyata apa yang aku pikirkan selama ini benar adanya. Ternyata ini memang salah satu teka-teki kenapa aku bisa bekerja ditempat mewah ini tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun. Diperlakukan berbeda dan lumayan istimewa meskipun tidak memiliki jabatan khusus. Benar. Ternyata benar Sam dalangnya.


hhh.. Pria asing itu menahan tawa. Mana mungkin putra Lucatu seperti itu. Mungkin hanya mengaku-ngaku.


Bukan Sam jika tidak besar kepala, bukan Sam jika dia menerima ejekan seperti itu. Tentu saja ia akan dengan senang hati menunjukan apa yang ia miliki.


“Alice.. apa kau sudah membuat kesepakatan dengan REKAN BISNIS mu ini?” Sam menatap Alice dan menekankan kata ‘Rekan Bisnis’. Entahlah. Tidak terima jika Alice didekati pria lain meskipun jelas-jelas mereka bertemu karena hubungan pekerjaan.


“Tentu. Aku sudah membuat kesepakatan.” Malah pria itu yang menjawab.


“Batalkan sekarang juga!” Ultimatumnya keluar. Sam benar-benar kehilangan batas dan sudah keluar jalur. Meskipun dia adalah putra Lucatu tapi sebenarnya dia tidak memiliki kuasa apapun. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Apalagi membatalkan kesepakatan itu begitu saja padahal Alice mendapatkan itu dengan susah payah.


“Sam apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau bersikap sopan kepada orang lain.” Dasar! Sam memang selalu semena-mena dan melakukan apapun dengan sesuka hati.


“Nona, apa anda mengenal anak muda ini?” si klien menyahut lagi.


“Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah pria yang selalu melakukan apapun sesukanya tanpa memikirkan perasaan orang lain.” Sarkas. Kalimat Alice benar-benar menyindir dengan terang-terangan. Kenapa Sam tidak bisa membuat hidupnya tenang? Setelah menyakiti hati dan kini ia malah memupus kebahagiaan dirinya untuk pencapaian pengalaman pertamanya.


Pergi. Alice pergi dari tempat itu. Semula Alice merasa salah saat harus bersikap seperti itu. Bersikap seolah tidak menginginkan Sam padahal ia sangat ingin. Tapi apa yang telah Sam lakukan memang tidak bisa di wajarkan. Ini sudah sangat keterlaluan.


“I’m done! Hari ini juga aku akan mengundurkan diri dari perusahaan itu!”


 


 


Astaga Sam! Kau sudah memiliki masalah malah menambah masalah lagi!