
“Sam.. Bisa aku meminta bantuanmu?”
Ck! Apalagi ini?
Sam menatap jengah ponselnya. Berani-beraninya Laura Kembali mengiriminya sebuah pesan. Tidak, apapun itu Sam tidak akan terlibat dengan Laura lagi. Meskipun kenyataannya dia adalah saudara tirinya.
“Sam.. Aku bahkan belum meminta maaf kepadamu. Bisa kau luangkan waktu untuk kita bertemu.” Satu pesan lagi.
Tidak! Tidak akan!
Sam abai dan malah melempar ponselnya. Bertahun-tahun gadis itu menipunya, lalu apalagi yang akan dia lakukan.
“Sebagai imbalan, aku akan membantumu untuk mendapatkan gadis yang kau cintai. Aku tahu dimana gadis yang bernama Alice itu berada.” Satu pesan lagi.
Sudah dilempar tetapi Ketika ada notofikasi masuik lelaki itu Kembali mengambilnya. Dan walaa, pesan terakhir yang dikirim Laura membuatnya berfikir sejenak.
“Alice..” Nama gadis itu disebut lagi.
Jangan, Sam. Ingat bagaimana dia menipumu!
“Aku akan menunggumu.” Laura memang kieras kepala dan juga tidak mudah menyerah, gadis itu terus saja mengirim pesan. Bahkan mengirimkan sebuah lokasi kepada Sam.
Satu..dua..tiga..
Pemuda tampan itu masih berfikir keras, haruskah dia menemui Laura lagi dan mengkhianati ucapannya sendiri?
Tapi ini tentang Alice juga. Sudah lama Sam mencari gadis itu, mana mungkin Sam mengabaikan kesempatan ini.
“Aku mengalah, aku akan menemuimu dan mari kita lihat apa yang akan kau lakukan. Yang jelas aku tidak akan terjebak lagi.”
~~
“Apa kau menemukan orang itu James?” Alvino masuk ke dalam mobil. Menemui James dan berharap dia memberi kabar baik. Sungguh, gara-gara orang asing itu, Alvino tidak bisa mengunjungi Bianca dengan khidmat. Alvino benar-benar dibuat penasaran.
“Sayangnya tidak, Tuan. Orang yang Anda sebutkan berlari kencang sebelum kami tiba dipintu keluar. Tapi jangan khawatir, saya sudah mengerahkan banyak bidy untuk mengikutinya.”
Alvino terdiam. Jawaban dari James sangat membuatnya tidak puas. Entah kenapa Alvino merasa sangat penasaran dengan orang asing itu.
“James..” Alvino menghela nafas. Memilah kata apa yang harus dia ucapkan. Bagaimana caranya untuk menjelaskan apa yang dia rasa dan pikirkan secara spesifik kepada James. “Aku hanya ingin tahu siapa orang itu. Diaaa… Dia bersimpuh dipusara Bianca dan sangat bersedih. Jelas sekali dia bukan keluarga Bianca. Aku belum pernah melihat orang itu sebelumnya.” Pandangan lelaki muda itu tertuju keluar jendela mobil. Menatap pohon-pohon yang berlarian seperti pikirannya. Kapan kerumitan ini akan berakhir. Kapan Alvino bisa hidup damai dan Bahagia seperti orang-orang pada umumnya.
“Jangan khawatir, Tuan. Kita akan segera menemukan jawaban. Yang jelas orang asing itu adalah seorang wanita.” Ujar James yang memang melihat orang asing itu mengetakan boots wanita.
“Bawa aku ke toko kue Bianca, sudah lama aku tidak mengunjungi tempat itu.”
~~
“Sayang.. apa kau sungguh baik-baik saja?” Pak tua menatap istrinya yang masih terbaring dengan wajah pucat. Meskipun Monica bilang dia baik-baik saja, tapi rasa gelisah itu tidak juga pergi.
“Seperti yang kau lihat, Ken. Aku baik-baik saja.” Tersenyum tulus, meyakinkan suaminya yang jelas-jelas tidak akan semudah itu percaya. “Sayang.. boleh aku mengajukan pertanyaan?”
“Tentu saja, katakana sayang..” Pak tua semakin mendekat, menangkup wajah Monica dan mengusapnya lembut. Tidak pernah bosan mengutarakan cintanya dengan Bahasa tubuh yang selalu mengalir.
“Apa kau menyesal telah menikah denganku?” Bola mata Monica tiba-tiba perih. Berani-beraninya bertanya seperti itu. Apa selama ini dia meragukan bahwa Ken sangat mencintai dan sangat berbahagia Ketika bersamanya.
“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Mana mungkin aku menyesal. Aku adalah pria paling beruntung karena memiliki dirimu.”
“Dan kau adalah pria paling luar biasa. Tuhan memberiku malaikat yang nyata.” Pluk. Bola mata Monica terasa semakin perih. Dan bulir-bulir bening itu tumpah tanpa bisa ditahan. Monica menelusup memeluk Ken. Membenamkan wajahnya agar lelaki itu tidak bisa melihat gurat kesedihan.
“Sayaaaang..” Ken merengkuh wanitanya. Mendekap hangat untuk memberikan Monica ketenangan. Terkadang wanita memang seperti itu, hanya butuh dipeluk tanpa harus ditanya ‘kenapa’.
“Ken.. Aku ingin mengulang bulan madu 20 tahun silam kita.”
“As u wish, baby. Tapi saat ini, aku hanya ingin kau membalas pelukanku.”
Bersambung..