You Decided

You Decided
Makan Keluarga



Sedang Makan Malam..


Monica dan Ken sedang merayakan hari anniversary pernikahan mereka. Meja makan besar dirumah itu kini penuh dengan makanan-makanan kesukaan, bahkan sebelum makan malam dimulai rasa kenyang itu sudah memabukan mata saking banyaknya makanan yang dihidangkan disana. Ditambah kursi-kursi meja makan juga terisi oleh anak-anak Monica dan Ken yang sudah sangat jarang sekali makan bersama. Hanya Sam yang masih absen dari sana.


“Tan, Om, maaf ya aku gak bawain kalian hadiah. Alvino gak kasih tau kalo malam ini kalian anniversary.” Kay malu-malu mengatakan, tadinya malas untuk berakting sebagai pacar Alvino tapi apapun itu dia mesti bersikap sopan kepada orang tua Alvino.


“It's okey Kay, kehadiran kamu disini hadiah terbesar dari Al.” Hehe.


"Adik kamu kok gak datang-datang ya Al?" Monica beralih tanya. Sudah berjam-jam namun anak bungsungnya itu tidak juga menampakan batang hidungnya.


"Biar aja, sayang.. Anak muda emang begitu." Malah Ken yang menyahuti istrinya.


"Aku tahu dad, tapi,,,,"


"Mungkin Sam lagi ada keperluan dulu Mam, dia lagi sibuk di tempat kuliah. Tapi aku pastiin dia bakal datang.. Mungkin bentar lagi.” Alvino menyela ucapan Monica, tahu bahwa ibunya itu sudah khawatir dan juga rindu kepada si kecil Sam.


Sementara Kay hanya mengedarkan pandangan di ruangan itu. Menatap lekat bingkai foto besar yang terpajang rapi di atas perapian. 'Ow dia punya adik kembar.’ Gumamnya ketika melihat wajah Fam dan pria di sebelahnya begitu similar.,


"Dia emang selalu kaya gitu kan kak kalo disana? Pasti selalu keluyuran dan ngerepotin kakak!." Kini Fam yang menyahut, berujar dengan nada tidak suka dan juga menuduh.


"Siapa yang keluyuran?" Suara seorang lelaki tiba-tiba menggema. Dengan senyum smirk dan segala pesona miliknya Sam terlihat mendekati meja makan yang sedang menjadi tempat perkumpulan keluarga itu.


"Sam.." Monica yang pertama berdiri dan merentangkan tangan menyambut anak bungsunya itu. "I miss u so" Ucap Monica saat berhasil merengkuh tubuh Sam.


"Miss u too Mam.." Sam membalas pelukan Monica sambil mengelus punggung Monica. "Long time no see, kau terlihat semakin cantik." Puji Sam. Jika urusan merayu dan menggombal Sam memang jagonya.


"Bisa saja.." ujar Monica sambil mengulum senyuman lebar.


"Hallo Dad.." Sam kini menyapa Ken.


"Welcome home, Sam." Kedua lelaki itu saling berpelukan sebentar. "Kau sangat tampan seperti saat aku masih muda."


"Iya tapikan sekarang kau sudah benar-benar menjadi pak tua! Jangan terlalu percaya diri." Monica selalu menghardik suaminya itu. Namun meskipun begitu ekspresi Monica selalu dibubuhi meledek yang menggemaskan. Itu semua hanya cara mereka bercanda sekarang.


"Daddy masih sangat tampan Mam, gagah juga.. Aku setuju kalo kalian bulan madu dan memberiku adik lagi." Sam menimpali sambil tertawa kecil. Lumayan lama juga si bungsu tidak bercanda dan bermanja dengan orang tuanya.


"Bulan madu hahaha.. Kami sudah tua, sekarang saatnya kalian yang berbahagia." ujar Monica. Jika diingat bagaimana ketika ia dan Ken masih muda, Monica kadang selalu tersenyum sendiri.


"Tidak ada salahnya Mam, meskipun tidak lagi muda kalian memang perlu Quality time berdua." Kini Alvino menyahut.


"Hello big brother.. Maaf aku terlambat." Sam menghampiri kursi Alvino dan meninjukan tangan sebagai tanda bersalaman.


”Kay.” Alvino memperkenalkan gadis yang kini duduk di sampingnya.


“Hai, akhirnya aku punya kakak ipar.” Goda Sam sambil menjulurkan tangan.


Sementara Fam hanya menatap malas. Selera makan gadis itu sepertinya hilang. Semenjak kedatangan Sam, Fam hanya menekuk wajah dan juga mengaduk-aduk makanan yang berada dipiring.


"Sibuk banget sama mata kuliahmu ya." Heh.. Sam tidak merasa dibanggakan, justru ia tahu apa yang dikatakan kakaknya hanya berupa sindirian. Tapi tak apalah, Alvino memang selalu mendukung aktingnya dihadapan Ken dan Monica. Alvino me-wajarkan semua yang Sam lakukan dimasa muda. Menurutnya Sam hanya sedang mencari jati diri.


"Begitulah kak.. Bukankah kau bilang aku harus menjadi lulusan terbaik."


"Ekhem.." Rose berdehem dan membuat Sam dan juga Alvino menoleh. "Asyik sekali ya obrolan kalian sampai lupa menyapa kami." ujar Rose dengan senyuman manisnya. Masih ingat saat dulu dua lelaki itu selalu bermain bersamanya dimasa kecil.


"Hi Rose.. Apa kabar?" Sam melambaikan tangan dan tersenyum.


"Baik Sam." Rose balas tersenyum.


"Hoho how r u my sister.." Sam segera menghampiri saudara kembarnya. "Lihatlah bagaimana bibir kakak ku yang paling cantik ini selalu mengerucut.. Nanti cantikmu hilang Fam.."


"Dibilang cantik sama kamu itu nggak penting!" Fam berujar culas dan menatap adiknya dengan tatapan tidak suka. Sudah sebesar ini mereka masih saja selalu bertengkar seperti itu. Namun puncak masalah kali ini bukanlah mainan, kali ini karena Fam iri terhadap Sam yang diizinkan tinggal mandiri bersama Alvino.


"Fam!!" Monica menatap anak gadisnya. Tidak suka dengan gaya bagaimana Fam menyambut Sam.


"Duduklah Sam.. Kita mulai makan malamnya." Alvino menyahuti.


Keluarga itu kemudian mulai bercengkrama, lumayan hangat meskipun Fam selalu menciptakan gesekan antara dirinya dan juga Sam.