
Seketika Ken membulatkan matanya ketika mendengar apa yang Chyntia ucapkan.
Ibunya? Maksudnya Keely kah? Memangnya iblis itu masih hidup, pikir Ken.
Dan lebih kaget lagi adalah ketika Ken melihat seseorang keluar dari ruangan dimana gadis yang ingin ia beri hukuman menampakkan diri, Alvino. Itu Alvino. Kenapa dia ada disini? Bukannya James bilang Alvino ada dirumah.
Niat hati akan melakukan eksekusi secara diam-diam namun ternyata ter-gap juga.
“Nino.. Tolong kami.” Cynthia kembali menjatuhkan dirinya ke lantai. Berlutut dan bersimpuh dihadapan Alvino untuk meminta pertolongan. Berhadapan dengan Ken tidak akan ada jalan keluar, Apapun yang diperintahkan lelaki itu pasti terjadi tanpa ada yang bisa mencegah. Kecuali Alvino mungkin.
“Bangun, bu. Kenapa kau seperti ini?” Untuk kedua kalinya Alvino meminta Chyntia untuk bangun. Tidak habis pikir dengan apa yang ibu sambungnya lakukan. Apa Ken mengancamnya?
“Apa maksudnya kau menyebut ibuku dalam hal ini?” Ken menatap tajam ke arah Chyntia yang masih dalam posisi menghiba. Sekian tahun setelah berhasil membawa Emily dari neraka, baru kali ini Ken kembali mendengar bahasan soal itu.
“Daddy, tidak bisakah kau berbicara tanpa nada seperti itu?” Alvino yang membalas tatapan Ken. Meminta sang daddy agar tidak begitu menakutkan bagi Eve dan juga ibu sambungnya. “Bangunlah..” Tatapan Alvino beralih kepada Chyntia lagi. Setengah menunduk untuk membantu Chyntia agar bangun.
“Ken.. Ini semua karena ibumu. Dia yang membuat putriku salah langkah, ibumu yang menanamkan kebencian dalam jiwanya untuk membalas dendam kepadamu setelah kau membawa Emily dan mencampakan hidupnya menjadi sebatang kara.” Tiada daya dan upaya, Chyntia hanya bisa menangis pilu. Sekian tahun dia menanggung hukuman dari Ken sekaligus hukum alam yang membuatnya menderita seumur hidup karena ulahnya sendiri, tapi Chyntia tidak mau hal yang sama terjadi juga kepada Evelyn. Untuk itu, Chyntia akan berjuang agar sesuatu yang buruk tidak menimpa Eve. “Ku mohon.. Hidup kami sudah menderita selama ini.”
Keely.. Apa dia sungguh masih hidup? Apa wanita matrealistis tanpa kasih sayang itu benar-benar dalang dari semua ini? Ken terdiam sendiri. Masih mencerna apa yang baru saja dia dengar.
Seketika Ken memutar ingatannya tentang masa lalu. Waktu dimana terakhir kali dia bertemu sosok ibunya, sekaligus hari pertama Ken kembali bertemu adiknya yang dulu pernah sangat dia benci.
Flashback On!
Rumah sakit..
Perlahan Ken memutar handle pintu, membukanya sedikit kemudian masuk kedalam ruangan dimana adiknya sedang terkapar di dalam sana. Terlihat Emily terbaring lemah diatas brankar dengan selang-selang yang terhubung pada tubuhnya.
Seketika pandangan mata Ken yang sering memancarkan aura dingin dan menyeramkan, memerah penuh ketakutan.
"Emily.." panggilnya lirih sambil mengayunkan langkah perlahan.
Ken menatap wajah Emily yang sedang terpejam, menatap alat bantu bernafas Emily dan juga alat deteksi detak jantung disana.
Kemudian Ken meraih tangan Emily untuk digenggamnya. "Emily.. ini aku.. kakakmu yang brengsek itu.. Aku datang sekarang.." ucap Ken lirih sambil mengusapkan tangan Emily ke wajahnya. Untuk pertama kali dia bisa kembali berada sedekat itu dengan Emily setelah bertahun-tahun dia membencinya karena ulah Emily dan ibunya yang sudah sangat keterlaluan.
"Kau harus kuat.. kau harus bangun.. aku menyayangimu adikku." ucap Ken tulus sambil membenamkan wajahnya di tangan Emily. Ken juga tiba-tiba merasakan sesuatu mengusap kepalanya. Ia kemudian bangun dan menoleh kebelakang. "Ayaah.." ucapnya pada bayangan yang sedang tersenyum itu.
*Ayah.. Itu Ayah.. *Benar kata Monica.. Ayah tidak damai disana sebelum aku menemui Emily..
Aku berjanji akan melindungi Emily mulai detik inijuga.. beristirahatlah dengan damai, ayah..
Mata Ken langsung berair begitu saja, dan bayangan itu tiba-tiba hilang lagi.
Ekhem.. "Kamu datang bukannya melihat ada siapa disini, malah mengabaikan ibu dan memanggil ayahmu yang sudah mati itu." Seorang wanita paruh baya dengan penampilan modis, menyela dengan nada dingin.
Ken menoleh ke arah sumber suara. Dan setelah mengetahui suara dingin itu milik siapa, Tangan Ken langsung melepaskan tangan Emily dan terlihat mengepal menatap wanita tua diujung sana, ibu.. itu adalah ibunya. Amarah dan kebencian Ken yang sudah ia pendam sekian lama, kembali muncul dan bergejolak.
Ken melangkah mendekat, menatap wajah angkuh di sofa itu dengan tatapan kebencian. "Puas kau menghancurkan hidupku dan Emily hah? kau meninggalkan aku sendiri, menyakiti ayah dan sekarang kau menjual Emily dan membuatnya sangat menderita!! Siluman macam apa kau sebenarnya hah?"
Plak! satu tamparan keras untuk Ken.
"Jaga bicaramu, saya masih ibu kandungmu." tangan ibu mengepal. Dua netra yang gelap itu sama-sama menikam dalam tatapan tajam.
Rahang Ken mengeras menahan gejolak amarah di dadanya, rasanya ingin sekali membunuh wanita di hadapannya itu sekarang juga.
"Ibu?" Ken membeo dengan nada kosong, kemudian terkekeh, namun satu bulir air mata tiba-tiba mencelos dari sudut matanya. menunjukan bahwa duka yang dibawa wanita paruh baya itu teramat dalam. "Ibu mana yang tega menghancurkan hidup anak-anaknya sendiri? kau hanyalah manusia gagal. Gagal sebagai wanita, gagal sebagai istri, gagal sebagai ibu." ucap Ken dengan nada penuh kesakitan.
"Jangan keterlaluan Ken!! Dasar anak tidak tahu diri!!" Keely menghardik Ken dengan tatapan tajam. Satu tamparan rasanya tidak cukup untuk membungkam mulut putra sulungnya yang sudah sangat kurang ajar bersikap didepannya.
"Kalau segini saja keterlaluan, lalu bagaimana dengan kau yang berselingkuh dan menghancurkan hidup kami? kau hanya wanita matrealistis tanpa kasih sayang!"
Dengan wajah kaku, ibu Ken masih bisa tertawa dan menyilangkan tangan didepan dada. "Kalau ibu tidak punya kasih sayang, mungkin sejak satu bulan lalu ibu mencabut alat-alat bertahan hidup Emily. Ibu tidak perlu susah payah membawa dia ke rumah sakit, ibu akan membuat dia terkapar dan sekarat di jalanan!"
Sialan!
Ken ingin sekali meninju mulut congkak yang berbicara dengan gamblang itu. Nafasnya naik turun membayangkan jika Emily benar-benar tak terselamatkan.
Lalu gendang telinga Ken menangkap suara tangisan pelan, Emily sudah sadar dan dia sedang menangis sekarang menyaksikan pertengkaran Ken dan Keely. Ken sakit, sakit saat mendengar tangisan orang yang dinadinya mengalir darah yang sama, menangis tidak berdaya.
"Keeeen.." panggil Emily lirih.
Seketika lutut Ken terasa lemas, ia kemudian berbalik. Tatapan nanar Ken bertemu dengan tatapan mata jernih Emily yang berair. Seketika Ken langsung melangkiah mendekati Emily dan merangkum tubuh Emily kedalam pelukannya. "Jangan pergi." gumam Ken.
Ken langsung menangis, dia laki-laki kuat tapi dia juga seorang manusia yang memiliki perasaan. Meskipun kebencian pernah menutup mata hatinya, namun tidak pernah ada dalam bayangannya kalau ia akan ditinggalkan dengan begitu banyak luka.
Flashback Off!
Kenapa yang dialami Alvino selalu memiliki kemiripan dengan apa yang dialami Ken di masa lalu? Begitukah yang Alvino rasakan saat ini? Membela sang adik meskipun seharusnya dia membencinya sekarang? Iya bukan, mereka sama-sama memaafkan adik mereka karena mendiang sang ayah. Walau bagaimanapun mereka memiliki darah yang sama dalam urat nadi yang masih berdenyut.
Ken menelan ludah dan masih berfikir.
“Bangunlah, bu. Aku sudah berjanji padamu bahwa tidak akan terjadi apapun kepadamu ataupun Eve.” Alvino masih berusaha membuat Chyntia agar bangkit dari posisinya yang terus saja menghiba.
“Apa Keely benar-benar masih hidup?” Ken bersuara lagi di tengah adegan Chyntia yang masih terisak dan enggan bangkit dari posisinya.
Mengangguk. Chyntia hanya mengangguk sambil tertunduk dalam.
Aaaah~ Semua orang sepertinya sedang mengalami luka batin dalam bersamaan. Perasaan cukup dalam sama-sama membuat mereka kembali terenyuh dan menyelipkan sebuah rasa pilu akan kesedihan.
“Dimana dia sekarang?” Ken benar-benar tidak percaya. Benarkah Keely masih berada di dunia ini. Dan apa benar wanita itu masih berniat jahat kepadanya meskipun telah terjadi begitu banyak kekacauan di masa lalu. Apalagi yang dia inginkan. Ken benar-benar tidak mengingat keberadaan Keely meskipun Monica selalu berusaha dengan keras agar Ken mampu memaafkan Keely seperti saat dia memaafkan Emily.
“Disini. Aku disini!”
Jeng..Jeng..Jeng..