
Tidak disangka reaksi Bianca justru tersenyum lebar menyambut kedatangan Alvino dengan sebuket bunga tulip di tangannya. Sesungguhnya tidak ada apapun yang Bianca harapkan, kehadiran dan perhatian kecil Alvino saja sudah lebih dari cukup.
"What a surprise!! Akhirnya kau datang juga.. Aku kira kau melupakan hari ini." Gadis manis itu mengulum senyuman manis yang tidak bisa di sembunyikan. Begitu senang dengan kehadiran Alvino disana.
"Mana mungkin aku lupa." Alvino membalas senyuman manis itu. Senyuman manis yang selalu Alvino dapatkan dari Bianca. "This one.." Alvino memberikan bunga tulip yang ia bawa. "Selamat untuk hari ini.."
"Aaaa~ thx u so much beib." Cupp!! Bianca membubuhkan sebuah kecupan diwajah Alvino setelah menerima bunga tulip yang sangat cantik. Merasa sangat senang sekali. Belum cukup sampai disitu, Alvino bahkan memberinya dua buket bunga dengan ukuran yang sangat besar. Bunga-bunga itu sangat indah sekali, seindah suasana hatinya.
"Ayo kita mulai." Alvino merangkul pinggang Bianca dan memberikan senyuman untuk gadis itu.
Sejurus kemudian Bianca dan Alvino bersiap untuk sama-sama berdiri didepan banyak orang yang sudah hadir ditempat itu. Bersiap untuk sama-sama memotong pita tanda dibukanya toko kue milik Bianca.
"Tuan.." James berbisik dari belakang punggung Alvino. "Privasi Anda." tambahnya.
James kembali mengingatkan Tuan mudanya yang selalu saja hampir melanggar peraturan jika sudah menyangkut soal Bianca. Lupa bahwa ia tidak boleh hadir disembarang tempat. Tidak ada yang boleh tau Alvino ada disana, apalagi mengetahui bahwa Alvino kekasih Bianca.
"Aku harus bagaimana? tidak mungkin aku membiarkan Bianca sendirian."
"Mungkin anda bisa menggunakan ini." James memberikan kacamata milik Alvino, setidaknya dengan itu orang-orang tidak akan terlalu mengenalinya.
"Baiklah.."
Detik selanjutnya Bianca dan Alvino benar-benar memotong pita bersama-sama. Menandakan bahwa toko kue itu resmi dibuka. Terlihat senyuman manis Bianca lagi-lagi terpancar, gadis itu nampak sangat bahagia dengan toko kue yang ia miliki. Para pengunjung juga terlihat sudah memenuhi toko itu, karena dihari pertama Bianca memang memberikan promo besar-besaran.
Diruangan khusus didalam toko itu~
"Thx for all of this happiness, Honey." Bianca hampir saja menangis haru karena suasana itu. Ia benar-benar merasa sangat bahagia.
"Aku sangat senang melihatmu tersenyum seperti itu." Alvino membelai lembut wajah Bianca, merasa sama bahagianya seperti gadis itu.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi, kau benar-benar membuatku bahagia "
"Nikmatilah.. Ini cita-citamu bukan.." Alvino melempar senyuman lagi. Kemudian mendekatkan diri dan mengikis jarak diantara mereka.
Cupp!! Bibir itu saling menempel. Saling mengecup dan menghisap kecil. Bertukar saliva dengan perasaan tulus sambil memejamkan mata. Tangan Bianca sudah melingkar dileher Alvino, begitu pun tangan Alvino yang melingkar di pinggang Bianca.
Mmmh~ Ciuman itu sepertinya mulai panas. Bisa bahaya jika mereka kehilangan kendali. Buru-buru Alvino berhenti dan melepaskan diri.
"Bibirmu sangat manis.." ujar Alvino ditengah deruan nafas yang memburu. "Aku harus pergi sekarang, aku akan menemui mu nanti malam."
"Have a good day, Bee. See you tonight!" Cupp!! Alvino kembali menyesap bibir manis itu sebentar.
"See you, honey!"
Alvino kemudian keluar dari tempat khusus yang ada di dalam toko kue itu, melewati James yang setia berdiri menunggunya. Alvino kemudian lanjut melangkahkan kakinya dan tanpa harus memerintah lagi James langsung mengikuti dirinya.
Sudah dimobil~
"Kita akan pergi kemana sekarang?" Malah Alvino yang bertanya. Bukankah dia bossnya?
"Jadwal dikantor sudah selesai, Tuan. Anda punya waktu luang dua atau tiga hari lagi sebelum pergi ke Negara Anu." jawab James yang sedang memutar kemudi.
"Bisnis itu akhirnya tiba juga. Aku bersumpah akan mendapatkan keuntungan besar untuk Lucatu." Alvino tersenyum smirk, sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh dirinya akhirnya tiba juga.
"Pasti, Tuan. Anda akan selalu menjadi yang paling berkuasa." James memuji lelaki dengan gurat bangga dan penuh ambisius itu.
"Berapa lama kita disana?" Alvino bertanya lagi.
"Mungkin sekitar satu atau dua bulan, Tuan. Persiapan sudah di angka 80%. Kita hanya akan menunggu waktu itu tiba." James memang yang terbaik, ia selalu merancang segalanya dengan baik. Selalu mempersiapkan dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik untuk Alvino.
"Artinya aku harus memanfaatkan waktu dengan baik." ujar Alvino sambil mengangguk kecil. "Bawa aku ke anak perusahaan yang ada di daerah X."
Eh.. James menoleh. Untuk apa mereka kesana?
"Apa Anda ada urusan disana, Tuan? biar saya yang menanganinya." James buru-buru menawarkan diri. Untuk apa Alvino harus turun tangan mengurusi anak perusahaan yang tidak seberapa menurutnya.
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Nanti malam aku akan kembali menemui Bianca."
James semakin heran. Biasanya Alvino akan rileks dan mempersiapkan diri jika ada kunjungan ke luar Negeri. Tapi sekarang Tuan Mudanya itu justru selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak penting. Apalagi Bianca, untuk apa dia menemui gadis itu lagi. Tadi kan mereka sudah bertemu.
"Jalanmu lambat sekali, sepertinya aku membutuhkan sopir baru!" Alvino berseru dengan nada sedikit lebih tinggi. Kesal karna terkadang James selalu menunjukkan bahwa ia tidak menyukai apa yang akan dilakukan dirinya. Memangnya siapa bossnya disini?
"Eh.. I-iya Tuan. Kita akan kesana sekarang." Lamunan James buyar dan langsung saja menginjak pedal gas itu cukup dalam.
Astaga! kenapa aku selalu membantah sekarang.