
Ken dan Monica sedang berada diluar kota. Selain menyelesaikan pekerjaan mereka berdua juga sedang menikmati liburan disana. Yaa.. Meskipun sudah tidak muda lagi tapi mereka masih saja hangat dan tidak pernah melewatkan waktu untuk melakukan quality time. Yang ada mereka semakin lengket melebihi saat mereka masih muda dulu.
“Good morning, sayang.” Cupp!! Ken mengecup kening Monica seperti kebiasaannya setiap hari. Mencintai dan menyalurkan seluruh cinta dan kasih sayang kepada wanita itu rasanya tidak ada habisnya. Cinta Ken tumbuh semakin besar dan banyak sekali untuk Monica.
“Morning too, pak tua!!” Monica tersenyum sambil menutup matanya, merasai bibir hangat itu mengecupnya dan mentransfer energi bahagia dalam diri.
“Aku tidak akan menyangkal lagi saat kau mengataiku si pak tua, tapi meskipun begitu aku masih tetap hot bukan?” Ken memberi jarak antara mereka, membuat mereka saling menatap diatas kasur yang semalam membuai mereka dalam peraduan hangat.
“Hahaha.. Iya. sampai kapanpun kau akan selalu menjadi lelaki paling perkasa, sayang.” Monica membelai bulu-bulu halus yang tumbuh diwajah Ken. Menatap lelaki yang paling dicintainya dengan penuh kasih.
“Kau memujiku atau apa? Sepertinya pertempuran semalam belum cukup membuatmu kenyang?” Seringai mesumnya kembali lagi meskipun baru saja membuka mata. Sejak dulu hingga kini, otak mesum itu memang sudah mendarah daging.
“Cih, apa yang kau katakan. Cepat mandi sana! Bukankah hari ini akan ada pertemuan lagi?”
“Tubuhmu sangat hangat, mana mungkin aku mau beranjak.” Ken malah mendekap Monica lebih dalam, menggesekkan tubuh mereka yang sama-sama polos didalam selimut.
“Kau akan terlambat, sayang.” Monica kini membelai lembut rambut Ken yang menyurukkan wajah di lehernya yang terbuka. Lelaki itu tidak ada bosan-bosannya soal menggerayangi tubuhnya.
“Mereka yang membutuhkanku, jadi biarkan saja mereka menunggu.” Cap.. cip.. cup! Ken malah mengecupi Monica, memberi kode bahwa ia menginginkan pertempuran itu lagi.
“Bukankah kau mengajari anak-anak kita untuk disiplin dan profesional dalam bekerja? Kenapa kau sendiri tidak menerapkannya?”
“Satu kali saja.” Mwah! Kecupan itu sudah berpindah ke wajah Monica, kemudian turun menuju rahang dan menuju daun telinga. Hal intim seperti itu memang tiada bosan untuk Ken lakukan. Tidak ada kata lelah dalam bercinta, ia malah menyebut bahwa pertempuran mereka adalah stamina nomor satu dibanding vitamin termahal sekalipun. Cih, Alasan!
“Satu kali apa? Kau akan memakan waktu berjam-jam! Sudahlah, kita bisa melakukannya setelah kau selesai dengan urusanmu.”
“Aku tidak bersemangat, kau harus mengisi dulu daya ku.”
Aaaaaaa~ Pak Tua memang selalu sulit dialihkan jika menyangkut mpot ayam!
Cupp!! Ken menyambar bibir Monica, mengulumnya lembut dengan tangan yang tentu saja langsung sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Monica yang sekeras apapun menahan dan menolak akhirnya kalah juga, Wanita itu membiarkan suaminya melakukan apapun yang ia mau tanpa membantah lagi.
“Such a beautiful day!” Ken mengecup sekilas bibir Monica saat dirinya sudah mulai bergejolak dan siap untuk melakukan pertempuran itu lagi. Menggigit kecil karena gemas kepada Monica. Namun baru saja akan melakukan aksinya tiba-tiba saja gangguan datang.
Kring!! Ponsel Ken berbunyi, tanda notifikasi masuk.
Abaikan.
“Selalu saja ada gangguan!” Hot daddy itu menggerutu kesal, terpaksa bangkit meninggalkan mainannya untuk mengambil ponsel yang berada di dalam laci samping tempat tidur.
What a beautiful day! hahaha Monica tertawa kecil melihat bagaimana suaminya itu sangat kesal. Meskipun tak muda lagi, tapi Ken seringkali masih seperti anak kecil. Bahkan sepertinya lelaki itu lebih manja ketimbang dulu saat mereka belum punya anak.
“Kenapa menggangguku?! Katakan aku akan datang satu jam lagi!”
“Ada perlu apa?”
“Katakan kita akan kembali lusa.”
“Memangnya ada hal penting apa?”
“Kau yang atur jadwalku.”
Hanya itu yang Monica dengar, entah panggilan dari siapa tapi Monica bisa menebak bahwa itu panggilan dari Alex. Ken yang sudah selesai menelpon menatap Monica yang masih berada diatas ranjang, namun moodnya untuk bercinta sudah menguap begitu saja. “Alvino ingin menemui kita.”
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Entahlah, dia ingin segera bertemu. Saat aku mengatakan lusa akan kembali, dia meminta hari ini juga. Alvino akan menyusul kita kemari.” Ujar Ken sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
“Tidak ada masalah serius kan? Tidak biasanya dia begitu mendesak ingin bertemu denganmu.” Monica bangkit dan menatap suaminya, menerka-nerka juga apa yang terjadi hingga anak sulungnya memaksa ingin bertemu.
“Bukan denganku saja, tapi kita.”
“Mungkin dia ingin berbagi masalah serius, kita tunggu saja.”
Tidak biasanya Alvino sangat ingin bertemu Ken dan Monica dengan sikap seperti itu, biasanya meskipun ada masalah penting, anak itu akan menunggu kepulangan Ken yang memang rencananya lusa mereka akan pulang dan mengunjungi anak-anak.
Bersambung~