You Decided

You Decided
Menemukan



"Sayaaang.. Sejak kapan kau disini?" Bianca berbasa-basi ketika mendapati Alvino sudah berada diapartemennya. Lumayan menciut saat melihat ekspresi Alvino yang terlihat jelas sedang marah. "Aku merindukanmu.. Ku kira kau tidak akan datang." Bianca memeluk Alvino yang memang sedang berdiri. Namun sepersekian detik Bianca memeluk, lelaki itu tidak merespon apapun. "Sayang... Ada apaaaa? Maaf tadi aku pergi ke toko. Ada yang harus aku kerjakan sendiri. Ma aaaff sudah membuat mu menunggu." Bianca mendongakkan kepalanya untuk menatap Alvino. Kemudian menelusupkan lagi kepalanya kedalam pelukan Alvino.


"Kenapa kau berbohong?" Suara itu terdengar sangat dingin sekali.


"Bohong?" Degg!! Bianca tertegun. Bohong apa maksudnya, dia hanya bertanya soal aku masuk rumah sakit kan?


"Apa aku harus mengatakan hal yang kau sembunyikan itu."


"Maaf sayang, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Lagipula sakitnya tidak serius." Bianca mengelus rahang Alvino dengan lembut, mencoba kembali meluluhkan hati kekasihnya. Untung saja James tadi memberitahukan kenpa lelaki itu marah. Jadi Bianca tidak terlalu kaget ataupun harus salah berucap.


"Bee.. Apapun yang terjadi harusnya kau memberitahu aku. Aku khawatir." Akhirnya suara Alvino melembut. Lelaki itu juga sudah mau menatap Bianca dan mengelus rambut gadisnya. "Lagipula James juga tidak memberitahukan keadaanmu. Maaf aku tidak ada disampingmu."


"Jangan memarahinya, aku yang meminta James untuk tidak memberitahukan hal itu kepadamu. Aku tau kau sangat sibuk." Bianca menatap Alvino kemudian melemparkan senyuman manis.


"Tapi sekarang aku disini, aku bersamamu. Biar hari ini menjadi hari kita berdua." Cupp!! Alvino mengecup bibir Bianca dengan lembut. Merasai kembali bibir merah mungil nan ranum itu.


"Aku sangat merindukanmu."


"Berjanjilah untuk tidak menyembunyikan apapun lagi."


Mmmhh~ Dua orang itu saling bergumul. Alvino mengajak Bianca untuk bertarung lidah sambil membawa gadis itu kedalam pangkuannya. Menyalurkan kerinduan yang teramat setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu.


"Ah.. Kau selalu saja membuatku merasa dimanjakan." Alvino menjatuhkan diri disamping Bianca ketika mereka sudah selesai melakukan penyatuan. Mengecup bibir Bianca lagi untuk penutupan acara spektakuler itu. "Aku mencintaimu." Ucapnya.


"Apa kau sunnguh-sungguh saat mengatakan itu?" Bianca menatap Alvino.


"Kenapa? Apa kau meragukanku?" Mereka saling menatap.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya takut,  Aku takut kau meninggalkanku."


"Maaf aku terlalu sibuk dan membuatmu lama menunggu. Entah kenapa belakangan ini hati dan oikiranku selalu gundah.." Alvino mendudukan dirin kemudian mengambil bantal untuk Bianca menumpahkan kepalanya disampingnya.


"Apa yang mengganggu hati dan pikiranmu?" Bianca menumpahkan kepalanya, kemudian merambatkan jari-jarinya untuk bermain didada Alvino yang terbuka.


"Entah.. Aku hanya merasa punya firasat yang buruk. Dan pikiranku selalu tertuju pada adik yang selama ini kucari."


Degg!! Bianca tertegun lagi. "Maaksudmuuu adikmuuu.. eh siapa namanya." Bianca pura-pura lupa.


"Evelyn.."


Kring!! Ponsel Alvino berdering. Sebuah panggilan masuk.


"Tuan, kami menemukan informasi tentang Tuan Alfian Mahendra. Kami mendapat informasi terbaru bahwa beliau tinggal dikota A.Apa yang harus kami lakukan sekarang?" Suara pengawal khusus yang memang ditugaskan untuk mencari keberadaan keluarga sang ayah itu berhasil membuat Alvino langsung menyunggingkan senyum lebar. Betapa kabar itu sangat amat membuatnya bahagia. Setelah sekian lama mencari dan menunggu kabar, akhirnya ia mendapatkannya hari ini.


"Kerja bagus. Kirim padaku dimana lokasinya. Aku akan kesana sekarang juga." Alvino begitu antusias. Lelaki itu bangun dengan bersemangat dari tempatnya berleha-leha.


"Dengan segera, Tuan."


Panggilan terputus.


"Ada apa? kau sepertinya terlihat sangat bahagia?" Bianca ikut-ikutan bangkit dari posisinya.


"Mwahh!! Tentu saja aku sangat bahagia. Akhirnya akun menemukan apa yang selama ini aku cari." Alvino tersenyum lebar lagi. Dengan kabar yang ia dapatkan hari ini artinya ia tidak perlu untuk menyamar menjadi Pierce lagi untuk menyelidiki kasus itu sendirian.


"Maksudnyaaaa kau menemukan adikmu?"


"Sebentar lagi." Alvino beranjak sambil melilitkan handuknya dipinggang. Lelaki itu akan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Sebentar lagi? Apa dia sudah tahu bahwa Laura adalah adiknya? Bianca menatap punggung Alvino yang meninggalkannya. "Tunggu, aku ingin ikut." Bianca meraup selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Susah payah untuk buru-buru menyeimbangi langkah Alvino.


"Bee, Apa kau belum lelah?" Alvino menatap Bianca yang mengikutinya dengan tatapannya yang sensual.


"Bukan begitu, aku,, aku ingin ikut menemukan apa yang kau cari."


"Aku belum menemukan informasi tentang Eve, hanya ayahku saja. Tapi semoga saja Eve juga ada disana."


Ayah Eve? apa maksudnya Tuan Alfian? dia kan sudah meninggal tiga tahun yang lalu.


"Apapun itu aku akan tetap ikut, Aku tidak ingin kau meninggalkanku lagi." Bianca memasang wajah memelas. Bagaimanapun juga ia harus ikut. Bianca harus memaksa apapun caranya. Takut-takut itu hanyalah rekayasa yang dibuat oleh Laura. Bee harus bisa melindungi lelakinya.


"Kau boleh ikut, tapi sebelum itu... Hyaaaa!!" Alvino membopong tubuh Bianca tanpa aba-aba. Membuat gadis yang tidak siap itu hampir saja berteriak.


"Aaaa.. Turunkan aku."


~


 Kelen marah-marah mulu deh sama akuh! Coba aku mau bikin vote, menurut kalian siapa yang cocok sama siapa but give me a reason!