
Senja itu berwarna emas, terasa begitu indah. Senyum manis wajah Alice masih terukir sangat jelas. Bagaimana tawa mereka berdua bergema, bagaimana gelenyar itu mengalir menciptakan sebuah zona baru.
Namun udara itu tiba-tiba terasa berat dan menyesakkan dada bagi seorang Alvino. Tanpa sadar tangan Alvino mengepal penuh amarah, mempertaruhkan hati dan perasaanya.
Ditatapnya sebuah ruangan yang katanya ada sebuah kejutan disana, berkali-kali juga Alvino memejamkan mata dan mengendalikan gemuruh di dadanya.
Bersama bayang-bayang bagaimana Bianca hadir dalam hidupnya, bagaimana mereka menghabiskan waktu, bagaimana mereka bercumbu dan memadu kasih.
Alvino menyisir kembali segala yang terjadi.
Tapi bukankah wanita itu sudah pergi?
Jika Bianca masih hidup...
Lalu siapa yang selama ini dia tangisi?
Lalu mengapa dia berduka?
Lalu mengapa dia merasa sebegitu kosong dan hampa..
Tragis..
Tidakkah perasaan seorang Alvino penting?
Atau memang semua orang menganggap demikian?
Menganggap Alvino hanya seorang pewaris Lucatu yang berdarah dingin sama seperti Ken?
Alvino tidak memiliki perasaan..
Itukah yang mereka definisikan?
Berkali-kali hati Alvino jadi terasa sakit, terasa tersayat, terluka dan bergemuruh karena amarah. Alvino belum bisa memahami apa yang terjadi. Apalagi di dalam hatinya kini ia mencintai dan menginginkan wanita lain.
Salahkah?
Jika kemarin Alvino berduka karena kepergian Bianca, bukankah harusnya lelaki itu senang wanitanya kembali?
Tidak! Tidak semudah itu perasaan dipermainkan.
Luka itu tidak berdarah, namun cukup kuat mengguncang hati seorang Alvino yang dikenal tangguh, hebat dan berkarishma.
Hatinya bertanya kenapa dan mengapa.
Krekk!!
Perlahan pintu itu terbuka. Isak tangis memenuhi ruangan itu sebagai penyambutan bagi Alvino yang malang.
Bola matanya terpejam, perih.. Ini perih luar biasa.
"Berhenti." Lirih suara wanita yang setengah membungkuk dan memeluk lututnya itu berucap. Isak tangisnya pun bahkan belum usai.
"Kenapa kau masih mau menemuiku?" Cih, pertanyaan bodoh macam apa itu!
Alvino tersenyum getir, bola matanya di arahkan ke sembarang arah. Berharap cairan bulir bening yang memaksa keluar bisa terserap kembali. Dia tidak menjawab suara yang sempat sangat ia rindukan.
"Aku sudah sangat keterlaluan, aku melukai hatimu. Aku tidak mau menatap mu dan membuat penyesalanku semakin besar. Maafkan aku, Al. Aku melakukan ini semua karena...."
"Tidak perlu menjelaskan apapun, karena yang jelas kau tidak mencintaiku!"
"Ampuni aku, Al. Aku bersalah tapi aku tidak pernah mau kehilangan dirimu."
"Begitukah? lalu selama kau bersandiwara, apa kau tidak merasa kehilangan?"
"Al.. tolong dengarkan aku, ku mohon."
"Bianca kau tahu aku berdiri sendiri dengan begitu banyak beban yang ku pikul. Saat hari kematianmu aku bahkan belum selesai tentang duka kehilangan ayah. Se-tega inikah dirimu? inikah yang kau sebut cinta? kau bisa beralasan apapun, tapi pada dasarnya kau memang tidak mencintaiku. Jika kau mencintaiku, kau tentu akan mempercayaiku seperti yang aku lakukan. Kau tidak akan membiarkan aku hampir gila dan bahkan berniat menyusul mu ke neraka!"
Hiks.. Bianca hanya bisa menangis. Kenapa dia baru menyadari kebodohannya sekarang.
"Kau sangat mencintaiku bukan? aku ingin memperbaiki segalanya. Apapun hukumanku, aku terima. Tapi aku tidak mau menanggung dosaku terhadapmu seumur hidup." Bianca yang semula enggan untuk melihat Alvino kini justru menatap lelaki itu. Bianca berharap tangan Alvino masih terbuka untuk memeluknya.
Bianca hanya terlalu rumit dengan pemikirannya yang tidak jelas. Selama bersembunyi yang terlintas tentang Alvino hanya keburukan-keburukan yang padahal belum tentu terjadi. Saat akan kembali, Bianca takut jika Alvino akan seperti Alfian_____ayahnya. Padahal jelas-jelas mereka adalah orang yang berbeda.
"Aku kembali, Al. Tidakkah kau merindukanku?" Menatap dengan penuh harap.
"Kembalilah.. tapi lupakan aku yang pernah mencintaimu."
Leher Bianca langsung tercekik. Harusnya dia tidak merasa terkejut, memangnya apalagi yang harusnya terjadi? bahkan Alvino berhak untuk bersikap lebih dari itu.
"Lalu putri kita?" Setidaknya hanya itu harapan Bianca. Malaikat kecil yang tumbuh dan keluar dari rahimnya. Buah cinta mereka.
Alvino menghela nafas, ia bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang harus dia putuskan.
"Aluna Mahendra. Kau takkan melihat dia atau aku lagi. Itu hukumanmu." Alvino membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi dari sana. Baginya itu adalah keputusan yang tepat. Biarlah dia memulai hidup baru bersama putrinya.
Alvino ingin hidup damai tanpa orang-orang yang ternyata tidak memperlakukan dirinya seperti dirinya memperlakukan orang lain. Setiap orang ternyata memiliki topengnya masing-masing dan Alvino terlalu naif untuk tahu itu semua.
Saat itu juga Alvino akan menyerahkan Lucatu kepada pewaris sesungguhnya, Samuel Lucatu.
Dihari kelahiran Aluna, menjadi hari kelahirannya juga.
Bagimu melukai hati adalah hal yang mudah. Ibarat melempar batu kecil ke arah danau. Dan kau.. kau tidak pernah tau seberapa dalam batu itu tenggelam.
You decide!
Bersambung~
follow my IG : @cameys19
see you next episode ❤️