You Decided

You Decided
Start a new



“Monica..” Chyntia menghampiri Monica yang sepertinya masih tertegun setelah melihat dirinya ada disana. Setelah puluhan tahun mereka kembali berjumpa lagi. Malu, merasa bersalah dan semua rasa berkecamuk dalam diri Chyntia, hingga tanpa bisa dibendung lagi air mata itu terjatuh begitu saja. Tanpa permisi.


Monica menelan ludah. Tidak bisa berkata-kata saat Chyntia berada di hadapannya. Nyata kah ini?


“Monica.. Maafkan aku, ku mohon.” Lagi-lagi Chyntia menghiba, sama seperti saat dia meminta pertolongan kepada Alvino. Masih risau dengan nasib yang akan menimpa Evelyn. Belum benar-benar merasa tenang apalagi sekarang Alvino sedang tidak sadarkan diri.


Siapa yang tahu jika Ken akan membunuh Eve secara diam-diam? Chyntia sudah berburuk sangka.


“Kenapa menangis? Apa yang sedang kau bahas?” Tidak disangka. Reaksi Monica ternyata se-ramah itu. Chintya pikir Monica akan menolak dan mengusir dirinya. Tapi tidak, wanita yang sudah dia dan suaminya jahat-i ternyata masih bisa berbaik hati. Monica bahkan menaruh lengannya di lengan Cynthia yang benar-benar sedang tidak berdaya.


“Aku sudah sangat berdosa terhadapmu, terhadap keluargamu. Tapi ku mohon, maafkan aku. Ku mohon bantu aku menyelamatkan Evelyn. Aku tidak mau dia menanggung hukuman atas kesalahanku di masa lalu..” Nanar. Wanita itu tidak berdaya sama sekali. Hanya bisa menangis dan terus saja menangis. Sangat amat mengharapkan uluran tangan dari orang yang dulu menanggung kesedihan akibat ulahnya.


“Jangan membahas masa lalu, aku sudah memaafkan semuanya.” Monica begitu lembut mengatakan kalimat itu. Seolah apa yang Chyntia lakukan di masa lalu hanyalah masalah sepele. Padahal jika diungkit lagi, Chyntia adalah orang yang berjasa besar membuatnya jatuh ke lembah hitam dengan membunuh Benazio-ayahnya dan menikah dengan Alfian-mantan suaminya. Belum lagi kejahatan Chyntia yang hampir saja mencelakai dirinya saat sedang mengandung Fam dan juga Sam.


Definisi Terima.. Maafkan.. Lupakan.. Benar-benar bukan omong kosong, Monica benar menerapkan itu dalam kehidupan nyata. Karena menurutnya menaruh dendam dan memendam sakit hati yang berkepanjangan hanya akan menyebabkan penyakit hati dan menghalangi kebahagian besar yang sudah disiapkan oleh Tuhan.~


Monica kemudian berlalu menuju ruangan dimana Alvino berada, menghampiri putra sulungnya yang kini tengah ditempa insiden yang begitu pelik. Entah seberapa besar energi yang terkuras untuk menjalani ujian-ujian itu, yang jelas Monica sendiri bisa merasakan bahwa Alvio benar-benar sedang terluka sekarang.


“Bersedihlah nak, jangan menyangkalnya. Jika kau ingin menangis, menangis saja. Beri ruang pada dirimu untuk menerima segala rasa. Kau tidak dituntut untuk selalu kuat. Menangislah, agar kau tenang.” Ah, sedikit banyaknya Monica juga jadi flashback tentang masa lalunya bersama Ken. Dimana dia sedang berdamai dengan diri sendiri dan ada Ken disana yang menyemangati. Mungkin itu juga yang dibutuhkan Alvino, bedanya, seharusnya Bianca yang melakukan itu.


Air mata itu meleleh, Avino mendengar apa yang ibunya ucapkan. Namun syaraf-syaraf itu seolah tidak berfungsi dan tidak memberikan perintah apapun, yang Alvino tahu dia sangat bersedih dan berduka tentunya.


“Separuh jiwaku rasanya ikut bersama kepergian Bianca, akankah aku bisa berdiri di atas kakiku setelah ini? aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Hidupku rasanya mati juga.”


“Ssssttt.. ini adalah perjalanan, Nino. Mami pun melalui banyak rintangan sebelum menemukan cinta sejati dari daddy. Kau boleh bersedih, tapi kau tidak harus tenggelam didalam kesedihan itu.”


 


How about today? Let's get started.


Hope u like it, happy reading.