You Decided

You Decided
Momy Daddy



Special Chapter Daddy Ken with Momy Monica..


 


 


 


 


“Sayang.. Kau sudah kembali?” Monica menyambut Ken yang baru saja pulang. Segera menatap manja dan membantu lelakinya untuk membuka jas.


“Jangan menatapku, sayang. Aku tahu kau habis menangis.” Ken membuang pandangan matanya, agar pandangan mata itu tidak bertemu. Tangisan Monica adalah benar-benar kelemahannya. Tidak tahan jika harus menatap bola mata indah yang selalu mendamaikan telah tersakiti.


“Tidak apa, aku juga manusia. Wajar jika sesekali menangis.” Monica menaruh jas itu ke atas hanger. Kemudian kembali mendekat ke arah Ken, memainkan dasi yang masih melingkar. “Yang terpenting aku sudah tersenyum lagi.”


“Aku tidak tahan, Monica. Aku tidak sanggup melihat air matamu berjatuhan. Saat itu terjadi, rasanya aku sudah gagal menjadi lelakimu.” Ken menangkup wajah Monica, siapa yang menyangka Ken akan bisa selembut itu. Mungkin jika melakukan itu di hadapan publik, Ken pasti ditertawakan banyak orang.


“Kau adalah lelaki terhebatku. Maaf karena sikap Nino, kita jadi seperti ini.”


“Jangan bilang begitu. Bukankah kita tahu jika hari seperti ini akan tiba. Maaf membuatmu menangis sayang.” Ken menaruh telapak tangan di wajah Monica, membelai lembut wanita yang sangat ia cintai.


“Jangan menyalahkan dirimu. Kita bisa menghadapi ini sama-sama bukan? Waktu begitu cepat berlalu, anak-anak kita sudah dewasa sekarang.”


“Namun kau masih sama seperti gadis nakalku puluh tahun silam.” Cupp!! Ken sedikit membungkuk. Menyambar bibir cherry yang masih saja manis meskipun hampir setiap hari ia mencicipinya. Saling mentransfer lagi dan lagi rasa cinta dan kasih agar tidak pernah terputus sampai kapanpun juga.


“Kau pun masih sama dengan pak tua ku yang mesum.” Monica tersenyum manis saat melepaskan ciuman itu. Ternyata cinta tanpa syarat itu menembus ruang dan waktu, meskipun sudah berpuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, namun mereka masih sama seperti Ken dan Monica semasa muda.


“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah dulu, setelah itu baru kita berbicara lagi.” Dasi yang sejak tadi dimainkan Monica kini benar-benar ditarik. Monica melepaskan benda itu dari leher suaminya. Kemudian melempar ke sembarang tempat dan berpindah tempat bermain di kancing-kancing kemeja yang masih saling bertautan.


“Dasar gadis nakal, kau menyuruhku mandi atau apa?” Ken tersenyum manis. Hanya dengan perlakuan istrinya yang seperti itu hatinya selalu menghangat.


“Aku hanya membantumu sayang.” Saling melempar senyuman. Setelah melewati hari berat memang harus ada sesi mencairkan suasana lagi. Jangan menyia-nyiakan waktu untuk membuat suatu hubungan menjadi dingin.


“Kalau begitu, kita mandi bersama. Kau juga harus membantuku menjinakan dia.” hehe. Seringai mesumnya keluar. Sudah tahu bukan ‘dia’ yang dimaksud Ken itu siapa. Tentu saja king cobra yang selalu merindukan pawangnya.


“Dasar pak tua! Kau sudah tidak muda lagi sekarang. Jangan terlalu banyak membuang tenaga.” Monica tertawa kecil. Suaminya itu masih saja sama seperti Ken si pria misterius yang selalu membuatnya tidak tahan untuk menarik ujung bibir.


“Energiku terkuras habis hari ini. Dan kau harus mengisi dayaku sekarang juga.” Cupp!! Bibir itu disambar lagi. Dengan lembut dan cukup lama. Ken mengajak Monica untuk bertarung lidah. Melupakan sejenak masalah-masalah lain. Menjadi Monica dan Ken yang saling menghangatkan dulu.


Mmh~ Suara itu sudah lolos. Menandakan bahwa ciuman itu sudah menghadirkan gelenyar panas. Tinggal sedikit lagi agar gairah itu semakin menggebu.


“Air hangatmu akan segera dingin pak tua, ayo, biar aku mandikan bayik besarku ini.” Monica melepas lagi ciuman itu. Mengingatkan Ken kembali agar lelaki itu menyegarkan diri terlebih dahulu. Sebagai wanita yang tidak muda lagi, terkadang Monica sesekali  menolak Ken yang melulu minta jatahnya.


“Kau selalu saja memaksa. Awas saja. Akupun akan memaksamu.” Ken tersenyum nakal sambil menjawil gemas hidung Monica.


Air hangat yang sudah dipenuhi busa dan juga aroma apel hijau, begitu terasa menenangkan. Kelopak bunga mawar bertebaran di sepanjang lantai hingga bathtub. Lilin-lilin juga saling menyala, menambah kesan kamar mandi itu menjadi romantis.


“Aha kau ingin menjadi pengantin baru lagi ternyata.” Sudah melilitkan handuk di pinggang tubuhnya yang sudah polos, Ken tersenyum mendapati kejutan yang disiapkan istrinya. Monica memang selalu pintar menyiapkan hal-hal kecil yang akan membuat mereka kembali mengingat masa-masa muda. Itu sebabnya juga hubungan mereka tidak pernah terasa membosankan. yang ada level cinta dan sayang semakin bertambah menjadi kuat.


Ken memang akan selalu patuh kepada wanitanya, Ken lagi-lagi mengikuti arahan Monica untuk masuk ke dalam air. Biarlah isterinya itu kembali memberikan kejutan yang tentunya akan membuat dia senang.


Detik selanjutnya setelah tubuh telanjang itu dilahap oleh air hangat, Monica menuangkan segelas wine untuk lelakinya. Monica akan membuat lelaki itu rileks terlebih dahulu sebelum mereka kembali berbicara mengenai masalah yang terjadi soal Alvino. Tentu saja Monica tahu bahwa anak sulungnya sudah menemui Ken, dan ia ingin tahu apa yang mereka bahas saat berhadapan sebagai sesama pria dewasa.


Monica kemudian membasuh rambut Ken yang selalu ia jambak saat bertarung di atas ranjang. Memperbanyak busa dan memberikan pijatan-pijatan lembut untuk suaminya. Bak Tuan raja yang sedang di manjakan seorang selir, tentu saja Ken sangat menikmatinya.


“Sayang..” Monica mulai membuka suara, saat lelakinya tengah asik menikmati pelayanan dirinya.


“Hmm..” Ken hanya bergumam merdu, ditengah matanya yang tiba-tiba terpejam dengan otomatis. Nikmat. Itu nikmat sekali. Meskipun tidak senikmat saat mereka melakukan penyatuan hehe.


“Apa Alvino menemui mu hari ini?” Tanya Monica sambil masih melanjutkan kegiatannya.


“Uh-uh.” Jawab Ken mengiyakan.


“Apa yang dia katakan? Apa dia masih bersikap tidak pantas terhadapmu?” Risau. Monica sebenarnya risau. Setelah apa yang Ken lakukan terhadap dirinya dan Alvino, tidak adil rasanya jika Alvino tidak menghormati Ken. Meskipun satu sisi, Monica tidak harus selalu memandang dari sisi Ken, ia juga harus bijak dan menempatkan diri sebagai putranya.


“Semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir.”


Syukurlah.. Jika Ken sudah bilang begitu artinya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja Monica masih penasaran soal apa yang mereka bicarakan.


“Anak kita sudah dewasa, biarkan dia menghadapi masalah sesuai versi dirinya. Yang terpenting kita selalu mendampingi agar dia tidak salah melangkah.” Ken menyesap wine yang tadi diberikan Monica. Kembali rileks.


“Terima Kasih untukmu sudah menjadi ayah yang hebat untuk anak-anak kita. Aku tahu kau akan selalu memberikan yang terbaik.”


“Kemarilah..” Ken meminta istrinya untuk masuk ke dalam air juga. Dan setelah membasuh rambut yang tadi ia mainkan, Monica menurut. “Kau tahu, Alvino membuatku merasakan kembali sosok ayahku. Aku jadi mengingat bagaimana saat aku berhadapan dengan ayah saat Alvino menghadapku. What such a great moment.” Sudah sama-sama di dalam air, mereka saling menatap.


“Semuanya seperti puzzle, tapi kita akan selalu menjadi satu.”


“Ayy lafh yuh, Monica gadis nakalku.”


“Lafh yuh tuh, pak tua ku yang mesum!”


Hihi,, Mereka saling melempar tawa.


“Bahasan soal Alvino sudah selesai, sekarang kau jangan berlagak pura-pura lupa.” Ken membelai wajah Monica dan memainkan bibir ranum Monica dengan ibu jarinya.


“Memangnya apa yang aku lupakan?”


“Kau belum memanjakan dia.” Ken membawa tangan Monica untuk menuju kobra yang sedang bersembunyi di dalam air.


 


 


Aaaaaaaa~ Ea! Nungguin ya? wkwk.