You Decided

You Decided
Flashback



Alvino merenung sendirian menyaksikan lagi sebuah tayangan yang tidak ia duga. Jika selama ini apa yang ia cari ternyata ada jawabnya, jika ternyata semua teka-teki yang bertahun-tahun ingin ia pecahkan ada di tangan Ken dan Monica. Kenapa harus ia yang mati-matian menghabiskan rasa penasaran itu.


Sebuah ruangan yang ia masuki memberikan Alvino jawaban tanpa harus Monica atau Ken menjelaskan lagi. Ya, disana ia menemukan sebuah handycam dan juga flashdisk yang memberikan Alvino segala jawaban.  Benar ucap Ken, ia berharap Alvino akan menyesal membuat ibunya menangis hari itu. Menyesal. Alvino menyesal sudah buru-buru dikuasai amarah. Bahkan berani bertindak tidak sopan dihadapan orang yang sangat ia hormati.  Karena kenyataan yang ia dapatkan ternyata memang menyakitkan. Apa yang  mereka katakan tentang Alfian yang b i a d a p ternyata benar adanya.


Alfian yang mengatakan sendiri bahwa dia adalah seorang badjingan, rekaman di handycam menunjukan Alfian melakukan pengakuan dosa seolah mengatakan itu kepada Alvino. Alfian berujar bahwa tidak ada yang salah antara dirinya, Ken dan Monica. Karena dalam perjalanan masa lalu itu. memang Alfian lah penjahatnya.


“Untuk putraku Alvino Mahendra.. Jika kau sudah dewasa nanti, kau pasti akan mencari keberadaan diriku. Aku yakin itu. Meskipun aku sudah melakukan ribuan kesalahan yang mungkin tidak akan termaafkan, tapi aku yakin hatimu selembut sutra. Aku yakin kau tidak pernah akan melupakan aku sebagai ayahmu sampai kapanpun. Semoga.


Beruntung, kau beruntung memiliki ibu yang sangat mencintaimu. Beruntung juga ibumu menemukan belahan jiwanya yang juga mau menerima dirimu. Kau harus menghormatinya Nino. Kau harus mencintainya lebih dari kau mencintaiku yang badjingan ini. “ Alfian tersenyum haru dalam rekaman itu, membuat anak dan ayah itu terasa sedang mengobrol sambil berhadap-hadapan.


Ken tidak bodoh dan membiarkan keluarganya kacau di masa depan, untuk itu, setelah ia mengasingkan Alfian selama bertahun-tahun, Ken kembali menemuinya untuk melakukan rekaman itu. Bukan Ken yang datang, tapi utusannya. Ken sendiri bahkan tidak tahu isi dari rekaman itu, semenjak kejadian Alfian dan Chyntia diasingkan sesungguhnya Ken sudah menganggap mereka sudah hilang dari muka bumi.


 


 


Flashback On!!


Alex pergi menemui Alfian dan keluarga kecilnya di pengasingan, mengunjungi kawan satu profesinya dulu. Setelah sekian tahun mengabdi pada boss yang sama, mereka kembali berjumpa setelah kejadian menakutkan itu terlewati.


“Kalian masih mengingat bahwa aku hidup ternyata.” Alfian tersenyum simpul menyembunyikan penderitaannya selama hidup di pengasingan yang serba terbatas itu. Menyindir kawannya karena tidak ada yang  memberikan pertolongan padanya waktu itu. Bahkan mereka semua menguap bagai embun dan membuang Alfian Juga Chyntia disana.


“Sudahlah, Vin. Terima saja hukumanmu. Kau yang bersalah disini. Kau yang bermain api bukan?  Beruntung Mister tidak memberikan hukuman yang lebih parah dari ini. Bersyukurlah Mister masih mengizinkan kalian bernafas meskipun dalam keadaan seperti ini.. Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk melakukan pengakuan dosa terhadap Tuhan.” Iba. Alex sebenarnya kasihan atas apa yang menimpa rekan satu profesinya itu. Tapi Alex tidak bisa berbuat banyak karena dirinya tidak punya daya untuk melawan ultimatum Ken. Apa yang Kevin lakukan di masa lalu memang tidak bisa dimaafkan apalagi oleh seorang Ken.


“Apalagi yang Mister gila itu inginkan? Kenapa kau datang kemari? Apa kau akan menjadi pencabut nyawaku hari ini?” Sarkas. Alfian menatap Alex untuk kenyataan buruk yang harus ia terima lagi. Tahu, Alfian tahu konsekuensi apa yang harus ia terima setelah mengusik Ken dengan terang-terangan. Meskipun ia dibiarkan hidup, tapi Ken tidak akan memberikan kedamaian.


“Aku kemari ingin mengingatkanmu bahwa kau adalah seorang ayah, tentu kau tidak lupa kepada putramu bukan.” Alex menatap Alfian yang masih congkah dengan sikap angkuhnya.


“Alvino.” Alfian mengucap nama itu dengan berbisik. Ada apa dengan Alvino? Tidak mungkin putranya itu harus menanggung dosanya juga kan? Tidak. Monica tidak akan membiarkan anak lelakinya itu dibuat menderita oleh Ken. Alfian sudah berburuk sangka. “Apa? Ada apa dengan Alvino? Jangan katakan jika si keparat itu juga ingin menyiksanya!” Alfian sudah naik pitam duluan. Meskipun Ia mengaku bersalah, tapi ia tidak akan terima jika sesuatu yang buruk terjadi kepada putra yang selama ini ia abaikan. Bukan diabaikan, tapi keadaan lah yang membuat mereka jadi sulit untuk bersama-sama.


“Dia baik-baik saja. Dia tumbuh menjadi lelaki tampan dan berkharisma sebagai putra Lucatu.” jawab Alex apa adanya.


“Putra Lucatu?” Alfian mengulang kalimat itu dengan tidak percaya.


Benarkah? Alfian masih tidak percaya.


Itukah yang diterima putranya setelah apa yang ia lakukan?


Lalu mereka pun lanjut berbincang sebagai kawan lama. Untuk sementara Alex kembali menjadi teman Kevin dan membicarakan banyak hal, terutama soal kehidupan Alvino sekarang. Alfian benar-benar tidak percaya dengan apa yang Alvino terima setelah menjadi anak sambung Bossnya itu. Ternyata Ken yang selalu ia umpat dan kutuk setiap hari memiliki hati yang lembut terhadap putranya terlepas hukuman apa yang telah ia terima.


Ternyata Ken menjadi ayah yang baik dan memberikan segalanya yang tidak pernah bisa ia berikan. Hal sepelenya adalah kasih sayang. Ken yang memberikan itu, sementara dirinya tidak bisa. Selama ini yang ia berikan adalah luka batin. Jahat. Ternyata dirinya yang jadi penjahat selama ini. Saat itu juga Alfian sadar dan membuang ego sombongnya.


Hiks.. Saat itu juga Alfian menangis. Menumpahkan segala derita itu dalam air mata yang sudah membuat hatinya hitam dan keras. Alfian seakan ditampar bahwa tidak ada yang lebih keji dibanding apa yang selama ini ia lakukan. Terlebih terhadap Monica, wanita yang sangat ia cintai. Kejahatan yang ia lakukan memang seharusnya tidak bisa di ampuni. tapi disini, disini Ken masih memperlihatkan kasih dan sisi kemanusiaannya.


“Astaga!” Alfian menangis pilu. Tangisan itu begitu menyakitkan. Tidak ada yang bisa mengukur  betapa besar rasa sesal, rasa sakit, rasa pilu dalam tangis yang ia tumpahkan. Jahat. Sangat jahat. Bahkan Alfian tiak yakin jika Tuhan pun akan mengampuni dirinya.


Flashback Off!


“Jika suatu hari kau menemukan kejanggalan dalam masa lalu kami, jangan pernah menyalahkan Daddy apalagi Mamy.  Mereka adalah orang-orang berhati malaikat yang sangat berharga. Aku tidak bisa berada disampingmu karena aku tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ku harap setelah dirimu dewasa, pemikiranmu juga akan dewasa dan tidak mudah menarik benang merah dari satu sisi. Mau bagaimanapun aku yang bersalah. Aku memang pantas untuk dihukum. Banggakan ayahmu yang badjingan ini dengan memberikan yang terbaik terutama untuk Mamy. “


Sejak menyaksikan rekaman itu Alvino kini sudah sedikit lega, meskipun tidak mengetahui seratus persen tentang bagaimana kejadian masa lalu itu terjadi, tapi apa yang Alfian sudah cukup menjelaskan semua yang ingin ia ketahui.


“Aku ikut senang mendengar tentangmu yang menjadi generasi Lucatu, ternyata kau diperlakukan baik oleh orang-orang berkuasa itu. Aku sangat bersyukur, bersyukur kau tidak diperlakukan seperti aku. Sudahlah.. Kau tidak perlu tahu tentang masa lalu itu..


Jika kau sudah menemukan dan mendengar kata-kata tidak berguna ku ini, hanya satu yang ingin aku sampaikan. Jagalah Evelyn lebih baik dari aku yang tidak bisa menjaga kalian, bahagialah lebih dari aku yang tidak bisa menciptakan bahagia untuk kau dan Eve.


Aku sangat menaruh harapan besar kepadamu, Nino.. Aku tahu kau lelaki hebat dan bertanggung jawab, kau bukan seorang badjingan sepertiku..”


Dan kalimat itu, kalimat itu sama seperti surat yang ia temukan di rumah yang katanya rumah Alfian. Membuat sebuah teka-teki baru, sebenarnya siapa yang berada dibalik layar dan membuatnya salah paham? hingga membuat dirinya bersikap tidak hormat dan membuat Ken marah dan juga Monica menangis dalam waktu bersamaan.  Tidak mungkin jika Ken yang melakukannya. Apa mungkin Eve? Tapi dimana dia?


 


 


Bersambung~