
Cinta. Sesuatu yang tidak pernah lepas dari bahasan insan yang hidup didunia. Memang tidak pernah ada yang melihat, tidak ada yang benar-benar bisa mendefinisikan apa arti dari cinta. Karena pada dasarnya cinta memang sesuatu yang tak kasat mata. Cinta hanya bisa dirasakan. Namun, Percayalah. Cinta memiliki kekuatan yang amat besar, bahkan terkadang saat kekuatan cinta itu menunjukan eksistensinya, dia tidak akan memberikan kesempatan kepada logika untuk mendebat.
Cinta sejati rasanya masih tabu, masih satu dibanding seribu yang sudah benar-benar menemukannya. Meskipun begitu, bukan berarti cinta sejati itu hanya sebuah bualan belaka. Karna buktinya, cinta sangat berpengaruh besar untuk umat yang hidup dibawah naungan kisah rumit Author Camey Smith. hehe.
Setelah melalui hiruk pikuk keributan yang datang bertubi-tubi, hidup terus berjalan. Tidak ada yang jalan ditempat, semuanya harus segera diatasi. Dan lagi-lagi kekuatan cinta milik Monica untuk Ken kembali berulah, untuk kesekian kali lelaki itu luluh lantah dan menuruti apa yang Monica katakan.
Tangan dengan urat yang nampak tegang itu padahal sudah terkepal bersamaan dengan amarah, satu kalimat saja yang Ken ucapkan, maka terbanglah jiwa-jiwa dalam sekejap mata.
“Dia ibumu, sayang. Dan aku juga seorang ibu.” Dua orang itu masih berdebat, Ken dan Monica. Setelah apa yang Keely lakukan lagi, rasanya kata maaf untuk orang itu sudah tidak pantas lagi. Setelah menyerang mental Ken dan Emily, kini wanita iblis itu ingin menyerang anak-anak Ken juga.
“Dia iblis Monica. Dia tidak pantas disebut wanita atau seorang ibu.” Tidak, Ken tidak akan membiarkan itu. Anak-anaknya tidak boleh merasakan kepahitan sedikitpun, apalagi merasakan hal yang sama seperti yang dia lalui dulu. Tidak.
"Kau tidak bisa selalu meminta diriku untuk memberikan pengampunan untuk orang-orang yang jelas-jelas harus dihukum!" Ken berbalik memunggungi Monica. Menghadap ke arah kaca yang menjadi dinding ruangan dimana mereka berada. Tidak habis pikir, kenapa Monica selalu meminta dirinya menjadi seorang pemaaf. Selalu berlindung pada kalimat bahwa mereka yang bersalah adalah wanita dan mereka adalah kaumnya.
"Tidak ada yang berubah jika aku selalu memaafkan, aku tidak ingin mengambil resiko jika anjing-anjing itu makin berulah dikemudian hari. Anak-anak kita Monica, kali ini korbannya anak-anak kita!" Ken belum juga berhenti berbicara. Mengeluarkan segala beban yang menggerogoti pikiran dan bergejolak dalam dadanya.
Monica diam, dia hanya mendengarkan. Memang tidak akan bagus jika dia terus-menerus berbicara dalam keadaan Ken yang seperti itu.
Hening beberapa saat.
"Hukuman tidak selalu harus kematian. Kau tidak perlu menghabisi mereka untuk memberikan pengampunan. Jika mereka mati, belum tentu hatimu benar-benar lega."
Beberapa bulan kemudian..
Alvino menatap indahnya kota dari ketinggian, lelaki muda itu sudah kembali menjadi pemimpin Lucatu setelah kemarin melalui hari-hari berat. Kalimat saat dia bertemu Bianca lagi masih saja terngiang, kalimat yang mengatakan bahwa Alvino harus terus melangkah dan jangan berlarut dalam kesedihan. Sama seperti kalimat yang Monica ucapkan juga.
Entahlah, semuanya seperti mimpi. Tapi disini Alvino dipaksa untuk membuka mata dan menghadapi kenyataan.
“Tuan Muda, semua direksi sudah menunggu anda.” James bersuara dibalik punggung Alvino, membuat pikiran Alvino yang sedang berlarian menjadi buyar.
“Tidak bisakah kau menghandle ini James? aku sedang tidak ingin bertemu siapapun hari ini..” jawab Alvino dengan suara khasnya yang berkharisma.
“Baik, Tuan.” James segera mengiyakan kalimat Alvino, seperti biasa. “Dan yaa, setelah meeting saya akan mengantar anda untuk konsultasi juga.” James menyunggingkan senyum tipis, kemudian menunduk dan berbalik arah meninggalkan Alvino yang belakangan memang lebih suka untuk menyendiri.
Semenjak kejadian itu Alvino seperti mengalami gangguan psikologis. Gangguan yang dirasakan sudah cukup berat dan membutuhkan medikasi karena cukup berdampak pada kehidupan sehari-hari dan hubungan sosialnya. Untuk itu, untuk itu Alvino dirujuk untuk selalu mengunjungi psikiater.
“Bee..” Alvino menjatuhkan diri dikursi putarnya. Berbarengan dengan nafas beratnya yang berhembus. Bayangan separuh jiwanya begitu melekat kuat. Rasanya tidak ada sedetikpun waktu yang terlewat oleh bayangan itu.
Rasanya Bianca masih ada didunia, tapi jelas-jelas Alvino menyaksikan bagaimana wajah wanita yang dicintainya begitu pucat tanpa denyut nadi, Albino bahkan menyaksikan tubuh Bianca ditimbun ke dalam tanah.
Kau hanya masih mencintainya, dan selamanya memang akan seperti itu.
Di Lain tempat..
Tadinya, toko itu akan dikelola oleh orang-orang bawahan Alvino, lalu hasil dari toko itu akan disumbangkan atas nama Bianca. Namun entah mengapa Rose sangat bersikukuh agar dia saja yang menghandle. Berdalih bahwa dia sangat tertarik dengan bisnis itu, hitung-hitung belajar.
“Beruntung sekali gadis yang dicintai Alvino itu, dia mendapatkan cinta yang begitu besar. Cinta yang dulu sempat sangat aku inginkan. Hahaha apa yang kau bicarakan Rose, jangan mengungkit masa lalu.. bukankah hatimu kini sudah terisi oleh hadirnya James?” Rose masuk kedalam ruangan, ruangan yang sama dengan ruangan yang dulu adalah milik Bianca. Tempat privasi gadis itu selama berada di toko.
“Sepertinya kau sedang berbahagia.” Baru saja duduk tiba-tiba saja terdengar suara seorang gadis yang begitu khas, Fam, itu suara Fam. Sejak kapan dia ada disana.
“Owh.. hai, Fam. Kapan kau datang?” Rose tersenyum kaku, menerka-nerka apakah tadi Fam mendengarnya saat berbicara sendiri. Oh, jangan sampai.
“Aku baru saja tiba, sejak tadi aku memanggilmu dan ternyata kau sedang dimabuk cinta disini.” Fam yang baru selesai dengan mata kuliahnya ikut duduk di sofa yang lain, memperhatikan Rose yang sepertinya merasa sedikit kaget karena kehadirannya.
“Hahaha.. sepertinya cinta memang memabukkan, meskipun sebetulnya aku tidak tahu bagaimana rasanya mabuk.”
Hanya dengan jokes receh itu, keduanya saling melempar tawa. Suasana yang sedikit kaku itu sudah mencair. Namun tiba-tiba airmuka Rose kembali berubah ketika mendapat sebuah notifikasi yang masuk kedalam ponselnya.
Ping!!
*Read Msg*
“Ada apa Rose?” Spontan Fam bertanya.
“T-tidak, tidak apa Fam. hehe.” Rose meremas ponselnya sendiri, tapi tetap saja gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa. “Fam.. aku akan pergi, apa kau mau ikut?”
“Kemana?”
“A-aku, a-aku akan membeli sesuatu.”
“Apa?” kenapa Rose jadi gugup begitu sih. Biasanya dia selalu mengatakan apapun dengan jelas.
“Apotik, aku akan pergi ke apotik.”
“Apotik? Apa kau sedang sakit Rose?”
“T-tidak, Fam. Aku hanya ingin membeli vitamin.”
“Tidak masuk akal Rose. Kau tidak perlu pergi ke apotik hanya untuk mendapatkan vitamin.” Aneh. Rose benar-benar aneh. Kali ini Fam yakin memang ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya. Tapi apa? jangan berburuk sangka, Fam.
Kring. Ponsel Fam berdering. Dan itu adalah panggilan dari Jackob, mantan kekasihnya.
Ahaaa~ Wajah penasaran akan jawaban Rose kini berubah berbinar. Fam segera mengambil ponsel itu kemudian menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Masa bodoh dengan Rose, Fam hanya fokus kepada Jackob sekarang.
Teka-teki apalagi ini?