
Sam sedang melakukan terapi pemulihan tulang kaki nya lelaki itu itu sudah bisa berdiri dan berjalan satu demi satu langkah. Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya Sam mencapai tahap ini. Ditemani Laura, Sam mengikuti segala arahan dokter dan perawat.
"Kakakmu sepertinya cukup berkuasa ya?" Laura yang sedang menemani Sam melakukan terapi peregangan tulang, memulai pembicaraan yang sebelumnya tidak pernah mereka bahas. Tumben gadis itu tertarik membicarakan soal Alvino.
"Jelas. Dia kakak tertua ku dan dia memang orang hebat." Sam menjawab apa adanya, memang kenyataannya seperti itu kan.
"Bukannya dia..... Umh sorry." Laura menggantungkan kalimatnya. Membuat Sam jadi penasaran apa yang akan gadis itu katakan.
"Why, beib?" Sam menatap intens ke arah Laura. Meminta gadis itu melanjutkan kata-kata yang digantung tadi melalui pandangan matanya.
"Sorry to say, bukannya dia.... bukan putra Lucatu?" Laura mengatakan kalimat itu takut-takut. Dan benar, ekspresi Sam tiba-tiba saja langsung berubah. Lelaki itu menyeringai tidak suka. "Maaa af." Laura menunduk dalam, sadar telah salah berucap.
Apa-apaan ini? kenapa Laura bertanya soal ini? dan darimana dia tahu bahwa kak Alvino bukan putra Lucatu. Identitas itukan dirahasiakan..
"Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud bukan putra Lucatu?" Sam menatap tajam wanita yang ia cintai itu. Tidak senang dengan apa yang baru saja wanita itu katakan.
"Tuan, Sam. Terapi berikutnya sudah siap." Seorang perawat datang dan menghampiri mereka berdua yang belum selesai berbicara. Dan tanpa menunggu jawaban lagi, perawat itu langsung mengambil alih kursi roda dan membawa lelaki itu menuju ruang terapi yang ada di ruangan lain. membuat percakapan antara Sam dan Laura berakhir begitu saja.
Sudahlah.. Mungkin dia hanya menebak karena kakak memang tidak mirip denganku...
~
Alice menikmati kesendiriannya dengan menyibukkan diri bekerja di kantor, gadis itu lumayan bisa tersenyum lebar karena mendapatkan gaji yang cukup besar dibanding saat ia bekerja di cafe. Dengan itu Alice bisa menabung dan mencapai cita-citanya satu-persatu.
Alice tidak memikirkan lagi soal yang lain entah soal Sam atau soal perasaannya. Gadis itu hanya berpikir bagaimana caranya bisa sukses tanpa menggantungkan hidupnya kepada siapapun. Menjadi mandiri dan menunjukkan pada dunia bahwa dia bisa mempertanggungjawabkan hidupnya.
Andai ayah masih ada~
Sekuat-kuatnya Alice, gadis itu masih mengingat bagaimana tentang sosok ayahnya yang telah pergi menghadap Tuhan. Hidup Alice berubah drastis saat kehilangan sosok itu. Belum lagi sang ibu yang sekarang berada di rumah sakit jiwa karena beban mental yang dialaminya. Alice tidak bisa berbuat banyak selain mempertahankan hidupnya sendiri.
Hari itu Alice baru saja akan mengunjungi sang ibu yang berada di rumah sakit jiwa, kemudian berniat untuk kembali ke kantor lagi karena memang waktu itu masih berada di jam kerja. Namun saat akan menaiki taksi, tiba-tiba saja Alice melihat seseorang berbaju hitam mengikuti dirinya. Mirip sekali para pengawal yang biasanya ada di rumah Sam, maksudnya di rumah Alvino.
"Orang itu?" Alice menoleh takut-takut. Belakangan ini ia memang merasakan seperti diikuti bayangan hitam, tapi kali ini ia benar-benar melihat sosok itu. "Apa dia memang mengintaiku?"
"Baik, nona." sahut sopir taksi.
Benar saja, sepanjang perjalanan ada sebuah mobil yang mengikuti taksi yang sedang ia naiki. Bahkan mobil itu tidak menyalip saat Alice meminta sang sopir untuk memperlambat kecepatan laju taksinya.
"Apa Anda yakin dengan tujuan anda nona? di sini kan jalan buntu." ujar sopir taksi ketika mereka sudah sampai di tujuan tempat dimana Alice meminta untuk diantar.
"Tentu." Alice kemudian turun dan membayar taksi itu. Lalu dengan spontan gadis itu masuk ke dalam bangunan kosong untuk melihat apakah orang itu masih juga mengikuti dirinya.
Astaga!! aku memang benar-benar sedang diikuti!
"Siapa kau!" teriak Alice saat orang berbaju hitam itu celingukan sendiri di ruangan kosong. Orang itu jelas mencari dirinya.
"Eh." Pengawal itu menoleh.
"Kenapa kau mengikuti aku!" Teriak Alice lagi. Gadis itu nampak berani meskipun menghadapi orang dengan penampilan sangar. "Siapa yang menyuruhmu? Sam? pasti Sam yang menyuruh mu mengikuti aku!"
"Saya hanya..."
"Katakan kepada tuanmu bahwa aku tidak perlu diikuti atau di lindungi! Aku bisa hidup sendiri!"
Kenapa gadis ini mengira bahwa Tuan Sam yang menyuruhku?
"Saya hanya ditugaskan untuk memastikan bahwa anda selalu baik-baik saja, nona. Saya tidak akan mengganggumu." lelaki sangar itu menunduk dan menatap Alice penuh rasa takut. Meskipun gadis itu berperawakan sangat mungil dan sangat mudah untuk dicekik tapi rasanya melihat orang yang ada dibelakang dan melindunginya membuat pengawal itu bergidik ngeri.
"Aku tidak mau dan aku tidak membutuhkan hal semacam ini! Jadi lebih baik kau meminta pekerjaan yang lebih pantas dan penting tentunya!" Alice menghardik orang itu lagi.
"Nona,,"
"Jangan mengikuti aku lagi atau kau akan menyesal! Aku akan melaporkan bahwa kau berbuat hal yang tidak-tidak terhadapku!" Alice mengancam orang itu kemudian berlalu meninggalkan bangunan kosong yang entah milik siapa. Sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan sam yang menurutnya sangat berlebihan dan aneh sekali.
Apa lagi yang kau mau Sam! Aku sudah selesai dengan dirimu! Umpat Alice dalam hati sambil mengepalkan tangannya.