
Hari ini Alvino akan berpamitan untuk kunjungan kerja keluar negeri. Lelaki itu akan pergi lumayan lama. Memakan waktu hingga satu bulan lebih. Sudah menemui Bianca dan berpamitan kepada gadis itu, kini tiba saatnya Alvino untuk berpamitan kepada anggota keluarganya, kepada Sam, Fam, Rose dan juga Steve.
"Sukses untuk segala perjalananmu kak, aku yakin daddy akan semakin bangga terhadapmu." Sam memeluk kakak tertuanya yang akan pergi melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Jangan memikirkan aku, kali ini pikirkan saja dirimu. lekas sembuh Sam." alvino membalas rengkuhan itu sambil mengelus punggung Sam. Lelaki yang pernah sekarat itu kini sudah memasuki tahap belajar berjalan kembali.
"Sure." Sam melepaskan pelukannya.
"Dan kau.. jaga adikku dengan baik, jika kau memang mencintainya kau pasti akan menjauhkan dia dari hal-hal yang berbahaya." Alvino menatap Laura yang berdiri di samping Sam.
"As u wish.." Gadis itu tersenyum tipis, seperti ada sesuatu yang ia umpat didalam hati.
"Aku akan menemui Fam dulu.. kau lanjutkan saja terapi mu bersama dokter." Alvino pamit keluar ruangan Sam kemudian menuju ruang keluarga dimana Fam dan Rose sudah menunggunya.
"Kau akan meninggalkanku lagi, kak. Rumah ini pasti akan terasa berbeda jika kau tidak ada." Gadis manja itu sudah mengerucut terlebih dahulu. Padahal dalam hatinya, Fam sangat senang jika Alvino pergi. Artinya ia bisa memiliki waktu lebih untuk berada di luar rumah.
"Kau selalu saja manja, Fam. Bukannya kau sudah gadis sekarang?" Alvino merengkuh adik perempuan satu-satunya itu. Memberi isyarat perpisahan untuk sementara waktu.
"Ya walaupun aku sudah menjadi gadis tapi aku tetap membutuhkan dirimu."
"Jangan khawatir, aku akan kembali nanti." Alvino mengacak rambut Fam sambil melepaskan pelukannya.
"Hati-hati di perjalanan, jangan lupa oleh-oleh yang banyak untuk ku."
"Aku akan bekerja bukan tamasya!"
Hehe.. Mereka saling melemparkan tawa kecil.
"Rose..." kali ini Alvino menatap gadis yang sepertinya selalu menunduk menghindari pandangan antara dirinya untuk bertemu dengan pandangan Alvino.
"I-iya.." Rose mendongak menatap Alvino.
"Lagi-lagi aku harus menitipkan Fam kepadamu, hanya kau yang selalu setia berada di sampingnya." Alvino melebarkan tangan dan tiba-tiba saja merengkuh tubuh Rose sebagai tanda perpisahan, karena kali ini ia akan pergi cukup lama.
Hah? Rose menghembuskan nafas panjang. Tidak percaya bahwa Alvino sedang memeluknya sekarang. Mimpi kah ini?
"Jaga diri kalian baik-baik."
"Wohoo,, apa yang terjadi disini? kenapa aku melewatkan adegan langka seperti ini." Steve menyahut dari arah belakang, membuat Alvino melepaskan pelukan perpisahan itu.
"Hai, Steve.. Aku sedang say goodbye kepada adik-adik, aku harus pergi."
"Pergi? kemana?"
"Negara Anu."
"Hari ini aku juga akan kembali ke rumah mamiku, liburan ku disini sudah berakhir."
"Okay.. kau bisa datang kemari lagi lain waktu.. kalau begitu aku juga harus mengucapkan perpisahan kepadamu. Sampai berjumpa lagi, aku harus berangkat sekarang."
Setelah adegan berpamitan kepada anggota keluarga tiba saatnya Alvino keluar rumah dan memasuki mobil yang sudah disediakan. Beberapa pengawal terlihat sudah berdiri tegap bersiap untuk mengikuti perintah Tuan Muda sebelum melenggang pergi.
"James!" panggil Alvino.
"Iya Tuan." Lelaki itu setengah berlari menuju Alvino kemudian mengangguk kecil.
"Apa semuanya sudah siap?" Alvino kembali memastikan meskipun tahu semuanya pasti sudah disiapkan dengan baik.
"Sudah seratus persen, Tuan. Kita bisa berangkat sekarang."
"Tuan?" James mematung tidak percaya.
"Kau tidak mendengar?"
"Tapi mana mungkin saya tidak ada disamping Anda. Apalagi pekerjaan kali ini sungguh sangat penting dan memakan waktu cukup lama, Tuan."
"Aku tahu yang terbaik, James. Turuti saja apa yang aku katakan. Bianca juga penting bagiku, kau seharusnya senang mendapat kehormatan menjaga wanita ku."
Mana mungkin aku bisa senang jika selalu bersama wanitamu yang menyebalkan itu!!
"Kabari aku jika terjadi sesuatu di sini." Alvino kemudian melangkahkan kakinya tanpa menunggu James menjawab. Ultimatum nya sama sekali tidak bisa membantah dan sungguh membuat James tidak terima. Tapi James bisa apa? dia hanya bisa mengangguk patuh meskipun hatinya sangat kesal.
"Bidy!" Alvino setengah berteriak memanggil pengawal yang beberapa hari ini cukup intens bersamanya, seorang pengawal yang bertugas mengawasi Alice.
"Iya, Tuan."
"Kau akan melakukan tugasmu. Kau akan mengabari aku apapun yang terjadi selama aku tidak ada."
"Sesuai perintah Anda, Tuan."
"Bagus."
Alvino kemudian dibawa pergi oleh mobil yang sudah ia tumpangi, diikuti beberapa mobil lain yang berisi para pengawal. Halaman luas itu kini hanya menyisakan James dan berapa pengawal yang memang bertugas di rumah.
Sialan! kenapa tugasku jadi seperti ini? Umpat James dengan tangan mengepal dan netra yang menatap tajam ke arah iring-iringan mobil yang semakin menjauh.
~
Semakin aku mendekat, kau justru semakin menjauh. Semakin aku berusaha, justru aku tidak mendapatkan hasil apapun. Apa yang harus aku lakukan agar kau menyadari keberadaanku lebih dari seorang saudara? tidakkah kau merasakan bahwa aku memiliki perasaan yang lebih untukmu.. bahkan sudah bertahun-tahun, Al..
"Kak?" Steve memasuki kamar Rose, berniat untuk berpamitan karena rencananya hari ini ia akan kembali ke rumah orang tuanya. Dan saat memasuki ruangan itu, Steve melihat Rose sedang menatap potret dirinya dan Alvino saat mereka masih kecil.
"Kau?" Rose kaget saat Steve tiba-tiba memasuki kamarnya. Buru-buru Rose membelikan foto tersebut agar Steve tidak melihatnya.
"Kau masih saja menyukai Kak Alvino rupanya." Steve duduk dikursi kecil yang ada disana. Menatap kakak perempuannya dengan tatapan bahwa ia mengetahui Rose memendam cinta untuk Alvino sejak lama.
"Ssstt.. Apa yang kau katakan, Steve." Rose mencoba membuat adiknya itu diam bagaimana jika orang lain mendengar, terutama Fam.
"Sudahlah, aku tahu."
"Stevee...."
"Kak, berhenti mengharapkan kak Alvino. Kau dan dia tidak mungkin bersama."
"Steve ku mohon hentikan. Jangan membahas ini, aku takut Fam mendengar suara mu." Rose berbisik kecil, berharap percakapan mereka tidak bisa didengar bahkan oleh semut sekalipun.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka. Dia mencintai orang lain, kak. Sadarlah, sadar itu." Steve menghela nafas, sedih karena cinta kakak perempuannya bertepuk sebelah tangan.
"Berhenti, Steve. Apa yang kau maksud Alvino mencintai orang lain? jangan so tahu!"
"Aku bahkan melihat Alvino menggenggam tangan gadis itu. Dia menatap gadis itu penuh rasa cinta. Alice, Alvino mencintai Alice."
"Apa yang kau katakan Steve, jangan mengarang. Alice itu kekasih Sam!" Rose membantah lagi. Tidak mungkin Alvino mencintai gadis itu, jelas-jelas dia adalah kekasih Sam.
"lalu siapa gadis yang bersama Sam sekarang? bukannya dia yang kekasih Sam?"
Alice... Tidak! ini tidak mungkin!