You Decided

You Decided
Aluna



Hweeeeeekkk!! Baru saja membuka mata, perut Eve tiba-tiba ingin meledak dan menumpahkan seluruh isinya. Kepalanya terasa sakit sekali.


"Damn!"


Hweeeeeekkk!!


Muntah lagi.


"Sam.. bisa tolong pijat tengkuk leherku?" Ah, sialan. Rasa mual itu tidak berhenti, mungkin karena semalam dia terlalu menenggak banyak minuman. "SAAAAAM!"


Apa lelaki itu kehilangan telinganya?


Eve tidak menyadari bahwa Sam tidak ada disampingnya, lelaki itu bahkan sudah pergi semalam saat masih dalam keadaan mabuk.


"Sial! dia tidak disini." ujar Eve yang baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu bahkan masih telanjang bulat. Matanya tidak menemukan Sam di atas tempat tidur ataupun sofa. Dengan tubuh yang masih lemas, gadis itu mencari-cari keberadaan ponselnya.


"Dimana kau? kenapa pergi tanpa memberitahu?"


Tok..Tok..


Panggilan sudah terhubung dan pintu terketuk secara bersamaan.


Segera Eve memungut kain untuk menutupi tubuhnya. Kemudian berjalan menuju pintu dan mengintip di lubang kecil. Dan itu adalah Sam.


"Kacau."


"Apanya kacau? kapan kau pergi dan kau pergi kemana?"


"Biarkan aku bernafas dulu, Eve! Minggir!"


~


Aluna Mahendra..


Sama seperti Alvino______ayahnya. Gadis itu terlahir di tengah keadaan orang tuanya yang tidak bisa bersama. Jika dulu Alvino hanya bersama Monica, kini Aluna hanya akan bersama Alvino.


Egois?


Tega?


Tidak!


Selalu ada harga yang harus dibayar.


Lelaki yang memasuki fase dewasa itu termenung sendirian di ruangan tertinggi Lucatu, lagi dan lagi harus dihadapkan dengan masalah serius.


Alvino menyesap bailey's, menatap hamparan kota dengan lampu-lampu yang membuatnya menjadi indah. Masih memperlajari apa arti dari kata Berdamai dengan diri sendiri, seperti yang selalu dikatakan oleh Monica____ibunya.


Lelaki itu masih tidak habis pikir dengan apa yang Bianca lakukan, padahal dulu cinta milik Alvino hanya untuk wanita itu.


Alvino tidak menampik jika dia pernah menyukai Alice sebelumnya, tapi perasaan itu tidak lebih. Tidak lebih dari sekedar mengagumi, seperti halnya dulu, saat dia mengagumi Bianca semasa mengenyam pendidikan.


Jika memang Alvino tidak setia, dia bahkan bisa menghadirkan ribuan wanita mana-mana saja yang ia tunjuk.


Entahlah.. yang jelas rasa kecewa dan marah mendominasi Alvino sekarang. Padahal sebisa mungkin dia tumbuh menjadi pria yang baik, mempelajari bagaimana harus menghargai kaum wanita dari ibunya dan selalu menghindari sifat badjingan seperti ayahnya.


Atau.. ini semua adalah pepatah dari Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?


Mungkinkah ini hukum alam?


Tidak. Alvino tidak bisa menyalahkan siapapun. Ini takdirnya, ini garis hidupnya. Hanya ia yang bisa mengendalikan.


Suara seorang James terdengar seperti setitik cahaya, mengapa Alvino bisa lupa bahwa dia memiliki malaikat nyata di dunianya.


"Katakan aku akan menemuinya."


"Baik, Tuan."


Beberapa saat kemudian~


Sudah bersama Monica dan menceritakan apa yang dia hadapi.


Jauh diatas langit, ceritamu sudah tertulis. Sangat lengkap, tanpa cacat sedikitpun. Luka yang pernah ada, sakit yang pernah menyiksa. Semuanya hanya bagian kecil dari besarnya bahagiamu nanti.


Tidak mungkin kamu merasa bersyukur, jika tidak tahu pahitnya tersungkur. Tidak mungkin kamu menemukan jalan terbaik, jika tidak tahu rasanya tercabik.


Jalani setiap prosesnya.. Pahami apa maknanya..


Karena bahagia terbentuk dari hati dan pikiranmu juga. Caramu memandang hidup harus baik, agar hidupmu lekas membaik.


Orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana cara otakmu berfikir, bagaimana cara matamu melihat, bagaimana cara kakimu berpijak dan bagaimana hatimu merasakan semua hal yang kamu rasakan dari dunia ini.


Kehidupan akan terus berjalan meski air matamu jatuh sendirian..


Bumi akan terus berputar walau sesedih apapun dirimu..


Detik akan terus bergerak maju meskipun kamu selalu mengutuk keadaan..


Sesedih apapun dirimu, kau tidak harus tenggelam didalamnya..


Dunia tidak akan mengerti..


Siapapun tidak akan peduli..


Yang harus kamu lakukan adalah tetaplah hidup, bersyukur, semangat dan jangan menyerah.


Semesta akan menyediakan apapun yang baik, untuk mereka yang selalu berjuang.


Beruntung Alvino memiliki ibu seperti Monica. Lagi dan lagi dia hampir menyerah melawan dunianya, tapi wanita hebat itu membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menampung segala keluh kesahnya. Keluh kesah seorang anak yang Monica harap hidupnya tidak akan menyedihkan seperti hidupnya dulu.


Tapi bagai hukum alam, nyatanya putranya itu terluka. Bahkan Monica tidak bisa mencegah. Begitu besar dosa yang Monica tanggung untuk Alvino tentang masa kecil yang tidak semestinya. Kini dia harus kembali menyaksikan putranya mengalami kepahitan.


"Kau tahu Nino, dulu saat aku masih muda, bahkan usiaku masih seusia Famela.. Aku adalah seorang wanita yang harus melewati hidup dengan ribuan luka. Jatuh bangun dihantam oleh sakit yang begitu pahit, tertatih melawan dunia yang begitu kejam hingga jatuh kedalam jurang yang paling dalam.


Tapi aku memilih berdamai daripada melawan, aku berdamai dengan hidupku. Tuhan tidak akan menempa diriku jika aku tidak mampu.


Menerima luka, menerima sakit yang datang bertubi-tubi.. Aku menerima itu semua, hingga akhirnya aku bersahabat dengan segala rasa yang ada dalam diriku, hingga akhirnya Tuhan menghadiahi perjuanganku. Mempertemukan ku dengan Ken dan di kelilingi orang-orang yang aku cintai. Aku benar-benar mendapat kebahagiaan yang tidak berkesudahan.


Berada diruang ini boleh saja menjadi takdirmu, tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pilihanmu. Pada akhirnya dunia hanya perlu tahu bahwa kita hebat. Kebahagiaan tidak membutuhkan penilaian orang lain."


Pengalaman adalah guru terbaik, hanya itu yang bisa Monica berikan kepada Alvino saat ini. Berharap Alvino masih memiliki secercah harapan untuk kembali semangat.


"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa. Mami hargai keputusan mu, apapun itu. Bangunlah, lalu berjanji kau akan bertanggung jawab atas hidupmu dan Aluna."


"Terimakasih, mam. Aku mencintaimu.."


Berpelukan~


Hati ke hati bersama ibu memang selalu mendamaikan.