You Decided

You Decided
Akrab



Sudah dirumah sakit~


Alice segera menuju lobby kemudian menanyakan soal pasien bernama Sam yang dirawat karena kecelakaan. Dan tanpa menunggu lama Alice sudah tahu dimana keberadaan Sam. Langsung saja Alice menuju ruangan itu.


Alice kemudian mendekat, menuju kaca yang menjadi dinding diruangan itu. Dilihatnya Sam sedang terbaring lemah dengan beberapa kabel dan juga selang yang terhubung. "Saaamm.." Alice berujar lirih. Entah kenapa hatinya seperti disayat ketika menyaksikan pemandangan itu. "Bangunlah Saam.. Aku disini." Alice menceloskan air mata. Rasa sedih itu nyata adanya dan tidak dibuat-buat. Karena Alice benar-benar mencintai Sam.


Ekhem~ seseorang berdehem. "Kau siapa?"


Alice menoleh kemudian terlihat beberapa orang sedang duduk didepan ruangan Sam sedang dirawat. Dan sudah dipastikan itu pasti adalah keluarga Sam.


"Mereka yang ada difoto itu kan? Waaahh siapa yang menyangka aku akan melihat mereka secara langsung?" Alice menatap sebentar sebelum menjawab pertanyaan gadis yang mirip sekali dengan Sam. "Gadis itu... dia benar duplikat Sam." Alice berbicara dalam hati.


"Hey.. Apa kau baik-baik saja?" Fam melambaikan tangan dihadapan gadis asing yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka.


"Eh iya.. Aku Alice, kekasih Sam." Gugup Alice menjawab sambil menghapus air mata. Ia bahkan mengaku kekasih Sam. Tidak apalah, selalu bersama Sam membuat Alice memang menginginkan predikat itu.


"Kekasih Sam?" Fam mengulang kalimat Alice.


"Iya.. Tuan.. Nyonya.. Maaf mengganggu anda, aku hanya ingin menjenguk Sam." Alice menyapa Ken dan Monica yang duduk sambil berpegangan tangan dikursi tunggu. Itu pasti orang tua Sam kan? uuuuwwhh mereka masih sangat cantik dan tampan.. awet muda sekali setelah memiliki anak sebesar Sam. Batin Alice. "Namaku Alice." Alice mengulurkan tangan untuk saling berjabat dan ajaibnya Monica menerima uluran tangan itu.


"Senang bertemu denganmu Alice. Tapi dikeadaan ini mana mungkin aku bisa senang." Monica masih menekuk wajahnya bersama ekspresi sedih. "Aku Monica, ibunya Sam."


Berbeda dengan Monica, Ken hanya menatap Alice dengan malas. Ken tidak ingin melakukan apapun kecuali menunggu kabar baik dari dokter.


"Senang bertemu anda Ny.Monica." Alice tersenyum manis. "Pria disampingmu pasti ayah Sam yaa, kalian sama-sama tampan dan gagah." Alice memuji agar suasana itu sedikit menghangat. "Dan kau.. Kau mirip sekali dengan Sam." kali ini Alice menatap Fam.


"Aku Famela, saudara kembar Sam." Fam mengulurkan tangan dengan ramah.


Aaaaa~ Keluarga Sam ternyata sangat baik..


Alice kemudian berbasa-basi, menanyakan keadaan Sam dan bagaimana kejadian itu bisa terjadi. "Kami sedang bersama waktu itu, lalu Sam pamit pergi menuju kampus. Dia bilang akan kembali, namun sampai pagi dia tidak juga kembali. Dan aku malah mendapat kabar seperti ini."


Dan saat mereka sedang asyiq berbincang, tiba-tiba saja ada suara keributan.


"Lepaskan aku! aku hanya ingin melihat keadaan Sam! Dia kekasihku!"


Laura. Itu Laura.. Tapi kenapa orang berbaju hitam itu menghalanginya? Dan kenapa selalu ada orang berbaju hitam sekarang?


Para wanita itu berdiri sambil menatap keributan itu. Belum berkomentar atau sekedar melerai. Dan saat Laura semakin berontak, Alvino muncul disertai Rose.


"Pergi dari sini. Jangan mengganggu Sam lagi!" Alvino menatap Laura penuh dengan kebencian. Gadis itulah yang menyebabkan Sam menjadi liar, bahkan gadis itujuga yang memasukkan Sam ke dalam grup iblis itu. Laura benar-benar pengaruh buruk.


"Urus dia!" Alvino kemudian meninggalkan Laura dan menuju keluarganya yang masih setia duduk didepan ruangan Sam.


"Heeeyy.. Tunggu! Lepaskan aku sialan!"


"Berisik. Ini rumah sakit, bukannya hutan!" Laura kemudian digiring keluar oleh dua pengawal.


Diakan kekasih Sam? Kenapa dia diusir? Apaaaaa keluarga Sam tidak menyukai wanita itu?


"Siapa wanita itu Al?" Rose bertanya.


"Tidak penting. Hanya gadis rubah." Alvino menjawab malas sambil melanjutkan langkah.


"Dad? bisa kita bicara berdua?" Alvino menatap Ken penuh harap. Ia harus segera memperbaiki hubungan sebelum semuanya terlanjur hancur.


Ken hanya diam. Lelaki itu seakan kehilangan selera untuk melakukan apapun. Ken sangat mencemaskan Sam. Darah dagingnya sedang memperjuangkan hidup didalam sana.


"Pergilah bersama Alvino, Ken. Bicara sebagai sesama lelaki. Biar kami disini yang menjaga Sam.. Sam anak yang kuat, dia akan baik-baik saja." Monica mencoba membujuk Ken, meskipun tahu hal yang mereka hadapi memanglah hal yang berat. Monica juga sudah memberikan pengertian bahwa Alvino tidak bersalah, Alvino sudah sangat banyak mengemban tanggung jawab yang seharusnya masih menjadi tanggung jawab mereka. Dan akhirnya Ken luluh dan mau ikut bersama Alvino.


"Siapa lelaki itu?" Baru saja bertemu Fam dan Alice nampaknya sudah cukup akrab. Alice menatap wajah Alvino yang menurutnya tidak kalah tampan dari Sam.


"Dia Alvino, kakak kami yang paling tua." jawab Fam sambil menatap punggung Ken dan juga Alvino yang perlahan menjauh.


"Kau ternyata sudah punya tiga anak, Nyonya. Tapi kau masih saja terlihat seperti gadis. Kau sangat cantik dan muda." Alice memuji Monica.


Uuwh~ Ny.Monica benar-benar hot mother.


"Jangan berlebihan." Monica tersipu malu. "Eh kenalkan, ini Rose."


"Hi.. Alice.." Alice mengulurkan tangan.


"Hi.. Rose.." Rose mengulurkan tangan juga dan mereka saling melempar senyuman.


Alice ternyata mudah berbaur, lihat bagaiman keluarga Sam menyukai gadis itu. Gadis yang sangat supel dan juga ceria. Alice selalu menyelipkan candaan agar suasana disana tidak terlalu canggung. Dan siapa yang menyangka mereka akan mudah akrab seperti itu.


#Kita lanjut disini ya gaes..


Siapa yang masih setia ngikutin author yang banyak maunya? hihi.


Semoga cerita ini bisa se-waw cerita yang sebelumnya.. Stay tuned dan jangan bosen buat dukung aku yaa. Love you all❤️