You Decided

You Decided
Terhimpit



Alvino termenung sendirian di kamarnya. Lelah. Alvino sangat amat lelah. Bukan hanya fisik tapi batinnya juga. Melalui hari-hari yang begitu berat membuatnya begitu lemah. Tapi keadaan terus saja menuntut agar Alvino bisa bijak dan dewasa. Separuh jiwanya seolah terbang bersama jiwa-jiwa yang pergi. Alvino sangat merasa kehilangan, terutama tentang kekasihnya. Siapa yang menyangka bahwa cinta pertamanya harus pergi meninggalkannya dengan cara yang tidak terduga. Meskipun selalu sibuk dan tidak begitu intens dengan Bianca, namun siapa yang mengira bahwa hati sudah terpaut cukup jauh.


“Ah~.” Alvino mendesah gusar di kamarnya. Menatap ke luar rumah. Melihat pepohonan dari kejauhan. Berharap jiwanya bisa damai sedamai pohon-pohon yang begitu sejuk saat diterpa angin. Udara begitu segar namun terasa menyesakkan bagi lelaki yang dirundung duka itu.


Tidak boleh berhenti. Selelah apapun nyatanya Alvino tidak boleh berhenti dan meratapi kesedihannya. Alvino harus melangkah untuk hidupnya.; Kematian Bianca bukan akhir dari segala masalah dalam hidupnya, ada satu masalah lagi yang mengharuskan Alvino untuk menyelesaikan itu. Adiknya. Evelyn. Gadis cantik yang ternyata memiliki hati iblis.


Andai saja Alfian tidak mengamanatkan agar Alvino menjaga Evelyn, mungkin Alvino akan membiarkan Ken memberikan hukuman kepada gadis itu. Namun sayang, Alvino menganggap amanat Alfian adalah sebagai bakti terakhirnya sebagai anak. Selama ini dia tidak bisa melakukan pun memberikan apapun untuk Alfian, hanya itu satu-satunya cara yang mungkin akan membahagiakan Alfian yang sudah menghadap tuhan. Yaitu menjaga dan menjaga Evelyn sebagai adiknya. Meskipun orang yang harus Alvino jaga dan sayangi adalah orang yang paling besar berperan membawa kelabu ke dalam hidupnya.


Apa yang harus Alvino lakukan sekarang?


Ding! Pintu Alvino berdenting. Ada seseorang yang berada di balik pintu kamarnya yang di kunci selama ia sudah kembali dari pemakaman Bianca.


Alvino hanya menoleh. Belum mau untuk bertemu siapapun. Masih ingin menyendiri dan berdamai dengan dirinya sendiri. Tapi lagi-lagi pintu itu berbunyi.


Ding!


Alvino menatap pintu itu, berfikir sejenak kemudian memutuskan untuk menghampiri pintu itu untuk membukanya. Jika bukan James, pasti orang dibalik pintu itu adalah Monica. Jika bukan Monica mungkin saja itu Rose, atau Bidy. Lebih baik kau membukanya daripada terus menerka-nerka.


Krek! Pintu itu Alvino buka. Dan ternyata orang dibalik pintu itu adalah Rose. Gadis manis yang Alvino minta pertolongannya untuk menemani Eve di rumah sakit.


“Apa aku mengganggumu Al?” Ujar Rose sambil menatap sendu kepada Alvino yang jelas masih sangat amat berantakan. “Boleh aku masuk?”  tambahnya sambil meminta jawaban dari Alvino.


Alvino balik menatap Rose, kemudian mengangguk samar dan berbalik badan untuk masuk kembali ke ruangan yang menaung kesedihannya. Dan sedetik kemudian Rose pun ikut masuk mengikuti kemana langkah Alvino.


“Apa aku mengganggumu?” Rose mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab Alvino. Meskipun sudah tahu bahwa Alvino masih bersedih dan ini bukan waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara, Rose hanya tidak ingin membiarkan Alvino berlarut-larut dalam kesedihannya sendirian. Apalagi memang masih ada urusan yang harus segera diselesaikan.


“Entahlah Rose, aku sangat lemah. Mungkin ini adalah titik terlemah selama aku tinggal di muka bumi ini.” Alvino menjatuhkan dirinya tanpa tenaga di sofa besar yang ada di kamarnya. Memang lemah, bukan main.


“Aku tahu ini semua tidaklah mudah, tapi... “ Rose menggantungkan kalimatnya, takut-takut melirik ke arah Alvino yang kini memejamkan mata sambil melingkarkan satu tangan untuk bertengger di atas dahinya. Sedih, Rose juga ikutan sedih melihat pemandangan seperti itu. Meskipun tidak bisa merasakan apa yang Alvino rasakan, tapi Rose tahu jika duka itu sangat berat untuk teman kecilnya.


“Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Terutama kepada Eve, apa.. aku harus melakukan apa? Aku harus bagaimana?”


“Gadis itu.. Dia terus saja menangis sejak Bianca dimakamkan. Dia amat menyesal atas apa yang terjadi. Bahkan dia terus saja menangis meskipun ibunya ada disana. Dia ingin menemuimu.”


Menemuiku?


“Kedatanganku kemari, adalah untuk menyampaikan apa yang terjadi disana. Uncle Ken ingin Eve kembali ke pengasingan bersama ibunya. Tapi sebelum itu Eve sangat ingin bertemu denganmu.”


“Uncle Ken tidak mau ambil resiko untuk memberikan hukuman yang lebih berat lagi.” Rose duduk tidak jauh dari Alvino. Masih saja berbicara meskipun tanggapan Alvino masih ambigu.


“Rose..” Alvino membuka mata, kemudian menoleh ke arah Rose yang tidak jauh dari posisinya. Membuat tatapan sendu itu bertemu. “Aku ingin melindungi Eve, tapi apa yang Eve lakukan sangat sulit untuk aku terima. Apa yang harus aku lakukan?” Dihimpit. Alvino merasa sangat terhimpit. Antara harus menjalankan amanat Alfian untuk menjaga dan menyayangi Eve, dan juga perasaan dan hidupnya yang terasa sangat hancur akibat perbuatan gadis itu.


“Kau memiliki hati yang lembut, dengarkan suara bening dalam hatimu Al.” Tatapan itu. Tatapan Alvino yang selalu Rose dambakan. Sangat membuat Rose terenyuh.


“Apa Bianca akan tenang di surga jika aku membiarkan Eve tidak bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan?” Tanpa sadar Alvino meraih tangan Rose, seolah meminta bantuan dukungan yang lebih agar energinya sedikit membaik. Membuat Rose yang tidak siap menjadi gugup seketika.


“Bukankah Bianca menulis surat untukmu sebelum dia mengakhiri hidupnya?”


Ya. Bianca memang menulis dua surat untuk dirinya dan juga Eve. Disana Bianca menuliskan bahwa dia ingin ALvino dan juga Eve berdamai dan memperbaiki hubungan kakak beradik mereka agar menjadi hangat dan saling menyayangi satu sama lain.


What a pure soul, Bianca.


Kring! Ponsel Alvino berdering. Panggilan dari James.


Alvino melepaskan tangannya yang sejak tadi tanpa sadar menggenggam tangan Rose, beralih kepada ponsel yang menunjukan sebuah notifikasi panggilan.


“Tuan.. Mister Ken…”


 


 


 


 


 


 


Bersambung~