Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Family Time



Zhia dan Luca pun langsung menghampiri pasukan penguntit itu, terlihat Rayden dan yang lainnya tak ada yang berani menjawab pertanyaan Levi. Apalagi tatapan mata Zhia dan Luca sudah bagaikan sebilah pedang yang siap di ayunkan kepada siapa saja yang berani bersuara.


“Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang menjawab pertanyaannya?” tanya Luca dengan tatapan mengintimidasi.


“Emmm, … Kami hanya mengikuti Papah mengintip di sini,” jawab Regis yang lebih takut kepada tatapan tajam Luca di bandingkan kemarahan papahnya.


“Benar, Kak! Kami hanya mengikuti Papah,” imbuh Rayga membenarkan perkataan adik sulungnya.


“Kami berdua hanya ikut-ikutan saja.” Belum lagi perkataan Noland ini yang semakin membuat Rayden tak berani berkutik.


“Ray, benarkah kau yang mengajari mereka untuk menguping pembicaraanku dengan Luca?”


Akhirnya satu-satunya pawangnya Rayden pun turun tangan yang semakin membuat Rayden tak mungkin bisa berdalih lagi. Apalagi Zhia sudah memanggil langsung namanya, hal itu menandakan kemarahan Zhia. Sementara itu, Levi dan Lucia yang baru saja datang tentu saja bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah itu.


“Aish, … Dasar kalian semua!” gerutu Rayden sembari menunjuk pada semua orang yang menjadikannya kambing hitam.


“Zhi, aku memang salah! Tapi sungguh aku tidak mengajak mereka, mereka yang mengikutiku dengan sendiri.” Rayden berusaha menjelaskan.


“Tunggu dulu! Memang apa yang sedang Papah lakukan ‘sih?” tanya Lucia yang tidak tahan hanya diam menunggu jawaban atas kebingungannya dengan apa yang terjadi saat ini.


“Sepertinya Papah dan yang lainnya bersembunyi di sini untuk menguping pembicaraanku dengan Mamah,” sahut Luca yang terlihat sangat kesal.


“Memang apa yang Mamah dan Kak Luca bicarakan sampai tidak boleh seorang pun yang tahu?” tanya Lucia yang semakin penasaran.


Namun, belum sempat dia mendapatkan jawaban. Tiba-tiba Julia menuruni tangga untuk menyambut kedatangan Lucia dan juga Levi. Karena merasa kurang enak badan, Julia memang memilih untuk beristirahat di dalam kamarnya. Hingga suara keributan di luar membuatnya terpaksa untuk keluar memeriksa apa yang sedang terjadi.


“Lucia sayang! Kapan kamu datang, sayang!” seru Julia yang langsung memeluk cucu kesayangannya itu.


“Baru saja, Grandma!” jawab Lucia yang membalas pelukan itu.


“Bagaimana honeymoon kalian? Menyenangkan atau masih kurang lama waktunya?” tanya Julia yang belum menyadari suasana di antara Rayden dan Luca sedang tidak kondusif.


“Sebenarnya masih kurang lama, Grandma! Tapi Kak Levi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih lama lagi,” jawab Lucia.


“Kenapa kalian malah berdiri di sini! Ayo, masuk kedalam Grandma akan membuatkan camilan kesukaanmu,” ajak Julia yang masih tidak peduli dengan Rayden dan yang lainnya.


Levi pun mengikuti istrinya masuk ke ruang santai keluarga, satu persatu mereka pun mengikutinya. Berkat kedatangan Levi dan Lucia, akhirnya curhatan Luca pun terlupakan setidaknya untuk sementara waktu.


Semua orang hanya terfokus pada Lucia dan Levi yang menanyakan tentang bulan madu mereka, bahkan Triple R menanyakan calon keponakannya.


Awalnya, Levi dan Lucia hanya ingin menjemput Kakek Roman saja dan setelah itu langsung kembali ke negara K. Namun, keluarga Lucia malah menahan mereka sampai beberapa hari. Mereka pun menghabiskan banyak waktu bersama dengan Levi dan Lucia sebelum mereka kembali ke negara K.


...****************...


Malam hari sebelum Levi, Lucia dan Kakek Roman kembali ke negara K. Zhia pun diam-diam menemui Luca yang sedang berada di dalam kamarnya untuk mengambil hadiah yang telah dia siapkan untuk Lucia.


Tok, … Tok, … Tok, …


Zhia mengetuk pintu kamar Luca sebelum dia masuk sembari berkata, “Luca, ini Mamah! Bolehkah Mamah masuk ke dalam kamarmu?”


0


“Kenapa, Mah? Luca juga akan keluar lagi untuk memberikan hadiah ini untuk Lucia,” ujar Luca yang langsung membuka pintunya sembari menunjukan kotak kecil yang berisi hadiah untuk adik kesayangannya.


“Mamah ingin bicara sebentar denganmu. Jadi, bolehkah Mamah masuk?” pinta Zhia dengan sedikit memohon.


“Kamarmu masih terkesan dingin seperti pemiliknya,” ujar Zhia sembari memperhatikan setiap sudut kamar putra sulungnya yang jarang dia kunjungi, karena Luca selalu mengutamakan privasinya.


“Mamah tahu sendiri ‘kan kalau Luca memang seperti itu, tapi tidak kalau kepada Mamah dan semua orang yang Luca sayang,” sahut Luca antara membenarkan dan sedikit membela diri.


“Apa kau tidak akan ikut mereka untuk menemui wanita itu?” tanya Zhia yang mulai membahas topik utamanya meminta waktu untuk bicara berdua dengan Luca.


“Tidak perlu, sekarang semuanya sudah lebih baik,” jawab Luca yang tampak sangat yakin dengan keputusannya.


“Kau tidak ingin memastikan perasaanmu?” tanya Zhia lagi yang masih merasa yakin bahwa putranya masih tidak yakin dengan perasaannya terhadap Axlyn.


“Sepertinya tidak untuk sekarang, Mah!” jawab Luca.


“Baiklah, Mamah akan berhenti ikut campur dengan masalahmu yang satu ini! Kau sudah dewasa, Mamah percaya apapun yang sudah kau putuskan pasti sudah melalui proses pertimbangan yang cuku matang,” ujar Zhia yang akhirnya tidak ingin membahas atau mendesak Luca lagi seperti sebelumnya.


“Terima kasih, Mah! Sudah memberikan kepercayaan untuk Luca,” ucap Luca.


“Tentu, sayang! Ayo, kita keluar yang lain pasti sudah mulai mencari keberadaan kita,” ujar Zhia yang berjalan keluar dari kamar Luca, kemudian Luca pun mengikutinya.


...****************...


Begitu tiba di ruang santai keluarga, Luca langsung memberikan hadiahnya kepada Lucia yang berupa kalung liontin berbentuk bintang. Setiap sisinya terdapat berlian dan di tengahnya terdapat chip yang bisa di gunakan untuk melacak keberadaan Lucia setiap waktu.


Lucia pun menyukai hadiah dari Kakaknya itu, sedangkan yang lainnya pun tidak mau kalah. Baik Julia, Noland dan yang lainnya juga memberikan hadiah yang tak kalah berharganya. Sementara Levi yang harus merasa di abaikan, karena semua orang hanya memberi istrinya hadiah.


Melihat Levi yang sedang duduk terdiam sembari memperhatikan Lucia, Zhia pun mendekati menantunya itu. Apalagi dia teringat perkataan Rayga bahwa Axlyn merupakan salah satu anak buah kepercayaan Levi.


“Levi, kau tidak mau bergabung dengan mereka?” ujar Zhia yang duduk di samping Levi.


“Tidak, Mah! Aku ingin memberikan mereka waktu bersama disini, sedangkan aku ‘kan bisa selalu menghabiskan waktu dengan Lucia nanti,” jelas Levi yang tidak mau terlalu posesif kepada Lucia, apalagi Lucia sedang menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya.


“Kau suami yang sangat pengertian! Luci sangat beruntung memiliki pendamping hidup seperti dirimu,” puji Lucia.


“Tidak, Mah! Aku yang beruntung memiliki pendamping hidup seperti Lucia, dia merubah segalanya dalam hidupku yang dulu terasa begitu gelap dan dingin sekarang terasa sangat cerah dan begitu hangat,” ujar Levi.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...