
“Kenapa harus berhenti? Biarkan Lucia tahu siapa dirimu yang sebenarnya, setidaknya dia tidak akan menyesal telah menikah denganmu nantinya,” ujar Will yang terus saja menggoda Levi.
“Ngomong-ngomong tentang Nona kecil, bukankah tadi dia bersama Tuan kecil mengikuti kita? Tapi kenapa belum kelihatan sampai sekarang?” tanya Felix sembari mencari keberadaan Luca dan Lucia di sekelilingnya.
“Mungkin saat ini mereka sedang mencari di setiap ruang VVIP yang ada di bar ini,” jawab Jaydon.
“APA?! Kenapa kalian tidak memberitahuku bahwa Lucia mengikuti kita?” seru Levi yang semakin panik, setelah mengetahui tentang keberadaan Lucia yang berada di bar yang sama dengannya.
“Lagian siapa suruh kau ngoceh terus saat di mobil,” sahut Felix yang tidak terlalu peduli.
“Kalian mau dengar soal kelakuan Levi yang seperti binatang, tidak? Aku sudah gatal untuk menceritakannya ‘nih,” ujar Will yang kembali mengusik Levi.
“Tentu saja, kami sudah menunggumu mengatakannya dari tadi,” sahut Jaydon yang ternyata lebih kepo di banding Felix.
“Ayo, cepat katakan! Apakah dia selalu bergonta ganti pasangan? Mabuk-mabukan? Tidak pernah pulang ke rumah ‘kah? Atau lebih mengerikan lagi dari sisi bocah psikopat dan dewa kematian yang dia tunjukan pada kami?” cecar Felix yang tidak sabar lagi untuk mengetahui semua aib Levi.
“Will, jika kau bicara satu kata lagi tentang masalaluku! Maka jangan salahkan aku, kalau Alea mengetahui semua tentangmu juga,” ancam Levi yang tidak ingin menjadi bulan-bulanan Trio somplak terus di sana.
“Kenapa kau harus melibatkan Alea, Hah!” seru Will yang seketika ikut panik, saat nama istrinya di bawa-bawa.
“Kau yang duluan membawa-bawa Lucia!” seru Levi balik yang mulai berani melawan.
“Sudahlah, kita rahasiakan saja seperti dulu,” ujar Will yang akhirnya tidak berani lagi mengusik tentang masalalu Levi, karena takut rahasianya ikut terbongkar di hadapan Alea.
“Kenapa? Kami sudah menantikannya dari tadi,” protes Felix dengan raut wajah kecewanya.
“Hay, kau ingin terjadi perang dunia untuk ke sekian kalinya dengan Alea? Kau tahu sendiri ‘kan! Bagaimana menyeramkannya Alea kalau sedang mengamuk? Maaf, untuk saat ini aku mau cari aman,” ujar Will yang lebih mengutamakan keselamatan jiwa dan raganya.
“Kalau kalian juga berniat mengusik masalalu-ku lagi, maka aku juga akan menceritakan rahasia kalian kepada istri kalian.” Melihat ancamannya berhasil pada Will, Levi pun menggunakan kesempatan itu untuk mengancam Jaydon dan Felix agar tidak terus mengoceh lagi.
“Meskipun Sunny mengetahuinya, aku tidak terlalu mempersalahkannya,” ujar Jaydon dengan santainya, tapi raut wajahnya mengartikan hal lain.
“Benarkah? Istrimu tidak akan marah besar? Tidak akan melempar pisau ke arahmu? Tidak mengusirmu dari kamar selama berhari-hari?” cecar Felix yang tidak percaya bahwa istrinya Jaydon akan menerima masa lalunya begitu saja.
“Itu memang benar tapi, _....”
“Tapi!?” seru Will, Felix dan Levi bersamaan.
“Yaaa, … Paling dia akan mendiamkan aku selama berhari-hari saja, seakan aku tidak ada di matanya. Padahal aku tepat berada di sampingnya setiap waktu, bahkan pernah Sunny mendiamkanku sampai hampir satu bulan,” jelas Jaydon yang terlihat bergidik ngeri saat membayangkannya.
“Astaga, … Itu bahkan lebih mengerikan dari Karina yang melemparkan pisau ke arahku,” ujar Felix yang ikut bergidik ngeri saat membayangkan Karina seperti Sunny saat marah.
“Benar, sikap diam seorang wanita itu lebih mengerikan di bandingan saat berhadapan dengan singa yang sedang kelaparan.” Will pun sependapat dengan Felix.
“Tunggu, kau pernah di lempar pisau oleh istrimu?” tanya Levi secara spontan.
“Bukan hanya pisau, dia akan melemparkan apapun yang terlihat di matanya saat sedang marah! Jadi, jangan berani-beraninya kau memberitahukan masalalu-ku padanya. Dan sebagai gantinya aku tidak akan membicarakan masalalu-mu lagi,” jawab Felix yang terlihat sedikit kesal karena kesenangannya menggoda Levi sudah berakhir.
“Ternyata kemarahan Karina masih lebih baik di bandingkan dengan kemarahan Alea,” ujar Will.
“Apa kau juga di lempar pisau oleh istrimu?” tanya Levi yang semakin kepo dengan kehidupan rumah tangga Trio somplak yang tidak lain adalah anggota geng rumpinya itu.
“Dilempar pisau sudah bisa. Alea bahkan melempar semua barang-barangku keluar dan setelah itu dia akan datang ke rumah orang tuanya untuk mengadu. Setelah itu, tentu saja aku langsung di panggil ke sana dan menjalani sidang dalam rumah tangga. Di omelin habis-habisan dari pagi sampai malam, setelah selesai di omelin harus membereskan rumah sendirian bekas amukannya,” jelas Will sembari terus menghela napas sepanjang dia bercerita.
“Hahahaaa, … Ternyata mafia yang paling di takuti ini sudah berhasil di taklukan oleh istri-istrinya.”
Hingga Will menyadarkannya dengan berkata, “Hay, kenapa kau tertawa? Bukankah kau akan mengalaminya juga, bahkan sepertinya lebih parah dari kami bertiga.”
“Benar, sepertinya bukan pisau lagi yang istrinya lempar ke arahnya. Mungkin sebilah pedang atau menodongkan senjata?” Felix dengan cepat menimpali, dia pun tersenyum puas setelah mendapatkan kesempatan untuk menggoda Levi lagi.
“Dan bukan hanya di abaikan selama berhari-hari, tapi bagaimana kalau Nona kecil pergi ke rumah orang tuanya?” Jaydon pun tidak mau ketinggalan.
“Apa maksud kalian sebenarnya?” tanya Levi yang mulai kelihatan ketakutan.
“Hahaa, … Jika sampai Lucia mengadu pada keluarganya, maka sudah pasti kau harus bersiap untuk di kuliti oleh Tuan besar,” ujar Will yang semakin menakut-nakuti Levi.
“Lalu dagingmu di cincang-cincang oleh Tuan muda,” sahut Felix yang selalu tak mau ketinggalan.
“Lalu di jadikan dumpling oleh Tuan kecil,” ujar Jaydon juga.
“Setelah itu, di jadikan makanan anjing oleh Triple R!” Will masih tetap melanjutkan aksinya.
“Dan setelah itu kami yang akan mengurus kotorannya. Tenang saja aku akan menjadikan kotoran yang berasal dari dagingmu sebagai pupuk yang berguna untuk tamanan yang ada di rumahmu, Hahahaaa, ….”
Felix pun tertawa puas melihat wajah Levi yang semakin pucat setelah mendengar perkataan mereka. Begitu juga dnegan Will dan Jaydon yang tak kuasa lagi menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah Levi yang sangat ketakukan.
“Aishh, … Dasar sialan kalian berdua! Begitu senang ‘kah kalian mempermainkanku sejak tadi,” umpat Levi dengan kesal.
Byurrr, …
Baru saja Levi mengumpat untuk melampiaskan kemarahannya. Tiba-tiba Will langsung saja menyiramkan segelas wine ke wajahnya. Sontak saja, seluruh tubuhnya pun menjadi bau alcohol yang sangat pekat. Kemeja yang dia kenakan basah, hingga sampai di celananya.
“Apa-apaan lagi ini, Will!” geram Levi yang menatap penuh kemarahan pada Will.
“Lev, cepat pura-pura pingsan!” ujar Felix dengan berbisik.
“Lucia datang kemari,” sela Jaydon.
“APA!” seru Levi yang belum bisa mencerna rencana ketiga trio somplak, dia pun berniat untuk menengok ke belakang. Tapi Will dengan cepat mendorong kepala Levi ke arah meja dan menahannya.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...