
“Kami janji tidak akan menyentuh dapur kesayanganmu ini lagi,” imbuh Lucia yang juga sama seperti suaminya.
“Kalau begitu kami akan membersihkan diri dulu!” seru Levi dan Lucia yang langsung lari ke dalam kamar mereka sambil tertawa bahagia.
Sedangkan Marvin hanya bisa menghela napas panjang melihat kekacauan yang ada di dapurnya oleh sepasang pengantin baru itu. Dia pun menyuruh beberapa pelayan untuk membereskan dapur dan menyiapkan sarapan sesuai menu yang di arahkan oleh Luca.
...****************...
Pagi menjelang siang, terlihat Rayga sudah selesai dengan mata kuliahnya. Namun, setelah itu tidak ada kegiatan lain yang bisa dia lakukan.
Rayga mengajak teman-temannya untuk pergi bermain basket bersama atau nongkrong di kafe, tapi teman-temannya menolak karena harus menyelesaikan urusan masing-masing. Sedangkan Ryuga dan Regis masih ada beberapa kelas lagi hari itu, maklum jurusan yang mereka ambil berbeda-beda.
Ditengah kebosanan dan kebingungannya, Rayga pun teringat dengan para Grandpanya yang sedang bermain di lapangan Golf. Tanpa buang waktu maupun memberitahu mereka terlebih dahulu, Rayga langsung saja pergi menuju lapangan Golf yang biasa di datangi Grandpanya.
Benar saja, sesampainya di tempat itu Rayga langsung melihat Noland dan Kakek Roman sedang bermain golf. Sedangkan Julia dan Zhia sedang menikmati waktu minum teh mereka sembari memperhatikan kedua Kakek itu bermain.
“Grandpa! Kakek!” seriu Rayga memanggil Noland dan Kakek Roman seraya berlari ke arah mereka.
“Rayga! Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bilang ad akelas hari ini?” tanya Noland yang sedikit terkejut dengan kedatangan salah satu cucunya.
“Hehehee, … Hari ini hanya ada satu kelas yang harus Rayga hadiri, karena selesai lebih cepat makanya Rayga memutuskan untuk ikut bermain bersama Grandpa dan Kakek,” jelas Rayga seraya tersenyum canggung.
“Biasanya juga bermain bersama dengan teman-temanmu, kalau tidak dengan Ryuga dan Regis! Pasti mereka tidak ada yang mau menemani anak nakal sepertimu bermain,” ujar Noland yang berniat sedikit menggoda cucunya.
“Sepertinya begitu, makanya Rayga memutuskan untuk bermain bersama Grandpa dan Kakek saja di sini,” sahut Rayga yang langsung saja membenarkan perkataan Grandpanya.
“Ouh, … Grandma dan Mamah ternyata ada di sana!” imbuh Rayga yang menemukan keberadaan Julia dan Zhia yang sedang duduk santai tidak jauh dari tempat mereka.
“Mamah! Grandma!” seru Rayga sembari melambaikan tangannya pada kedua wanita cantik itu, Julia dan Zhia pun membalas lambaian tangan itu sambil tersenyum bahagia.
“Grandpa, apakah Grandma dan Mamah tidak pernah ikut bermain kalau datang ke sini?” tanya Rayga yang tiba-tiba penasaran apa yang di lakukan kedua wanita kesayangan itu kalau menemani Grandpanya datang ke lapangan golf.
“Tidak pernah! Mereka hanya duduk di sana sembari memperhatikan kami bermain,” jawab Noland membenarkan.
“Kenapa?” tanya Rayga yang ingin mengetahui alasannya.
“Tentu saja karena mereka tidak menyukai bermain golf,” jawab Noland sekenanya.
“Lalu kenapa mereka tetap menemani Grandpa datang ke tempat ini kalau tidak menyukainya?” Rayga semakin tidak mengerti.
“Karena mereka memiliki rasa hormat atau respect dengan hobi Grandpa yang sangat suka bermain golf, seperti Grandpa yang menghormati hobi Grandma yang suka minum teh dan berbelanja meskipun Grandpa tidak menyukai kedua hobi tersebut,” jelas Noland.
“Kenapa harus begitu?” tanya Rayga lagi.
“Tentu saja karena Grandpa dan Grandma-mu ini saling mencintai, makanya mereka pun saling respect dengan hobi masing-masing,” ujar Kakek Roman membantu menjelaskan.
“Benar sekali! Saat kamu memiliki respect maka itulah tanda bahwa kamu memiliki rasa cinta. Dalam dimensi Ketuhanan, ini adalah pengagungan. Jika kamu cinta Tuhan, kamu harus mengagungkan-Nya,” imbuh Noland.
“Sementara dalam dimensi kemanusiaan, respect bukanlah merupakan perasaan takut dan terpaksa. Rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang tumbuh dan berkembang secara unik, dan mungkin saja berbeda dengan dirinya,” tambahnya.
“Bagaimana seseorang mengatakan cinta, namun selalu melecehkan, menghina dan mengejek orang yang dia cintai? Dia bahkan tidak memiliki rasa hormat sama sekali. Itu artinya dia tidak cinta pada orang tersebut.” Kakek Roman ikut menambahkan.
Rayga pun terdiam sembari memikirkan bahwa apa yang Grandpa dan Kakek Roman katakan padanya memang benar. Terlintas di benaknya tentang bagaimana semua orang yang sudah memiliki pasangan di sekitarnya selalu memuliakan wanita yang mereka cintanya.
Contohnya begitu banyak seperti, Papah dan Mamahnya, Grandpa dan Grandma-nya serta masih banyak lagi termasuk Will dan geng somplaknya.
“Karena kau sudah berada di sini, bagaimana kalau kita bertaruh saja! Siapa yang menjadi pemenangnya, maka akan di kabulkan permintaannya dari yang kalah,” ujar Noland yang tiba-tiba menantang Kakek Roman dan Rayga untuk bersaing.
“Tentu saja, siapa takut!” sahut Kakek Roman yang langsung menyetujuinya.
“Okay! Akan Rayga pastikan Grandpa akan membelikan mobil sport terbaru dan Kakek membelikan motor sport terbaru.”
Rayga pun dengan senang hati menerima tantangan tersebut, bahkan dia langsung mengutarakan semua permintaannya jika dia menang nantinya. Sontak saja Noland dan Kakek Roman pun tertawa melihat kepercayaan diri Rayga yang begitu besar, apalagi Noland tahu persis bahwa cucunya yang satu ini baru pertama kali menginjakan kakinya di lapangan golf.
“Percaya diri sekali! Bagaimana kalau Grandpa yang menang?” ujar Noland yang semakin memprovokasi Rayga.
“Benar, bagaimana kalau misalkan Kakek yang menang?” Kakek Roman pun mengikuti gaya Noland.
“Bagaimana kalau kita buktikan saja dengan hasil akhirnya,” ujar Rayga yang tidak sabar untuk memenangkan permainan tersebut.
“Okay, siapa takut! Kau mulai duluan!” perintah Noland yang menyuruh Rayga untuk maju lebih dulu.
“Bagaimana cara memegang tongkatnya?” tanya Rayga dengan polosnya.
“Astaga, cara memegang tongkat golf saja tidak tahu darimana rasa percaya dirimu barusan untuk menang,” ujar Noland yang tidak habis pikir dengan kelakuan para cucunya.
“Sini biar Kakek yang mengajarkannya!”
Kakek Roman pun mulai mempraktekan bagaimana cara memegang tongkat golf dengan benar, menunjukan postur tubuh yang benar dan cara memukul bolanya. Sementara Noland menjelaskan peraturan dan cara bermainnya serta bagaiman skor mereka akan di hitung nantinya.
“Okay! Sekarang Rayga sudah mengerti semuanya. Ayo, kita mainkan sekarang!” seru Rayga dengan penuh semangat.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...