Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Pembalasan Luca



“Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa Lucia ke rumah sakit!” bentak Luca saat melihat Levi dan Papahnya hanya bisa menangisi kondisi Lucia.


“Benar, ayo kita segera pergi ke rumah sakit terdekat di sini,” ujar Rayden, sedangkan Levi langsung mengangkat tubuh Lucia.


Ketika Rayden dan Levi sedang bingung mencari kendaraan yang bisa mereka gunakan untuk pergi ke rumah sakit, Will tiba-tiba muncul dengan sebuah mobil yang dia temukan di garasi milik Luke tentunya.


“Levi! Tuan, cepatlah masuk! Aku yang akan mengantar kalian menuju ke rumah sakit sekarang juga!” ujar Will yang menurunkan kaca mobilnya.


“Lev, cepat masuklah!” perintah Rayden yang membantu membukakan pintu mobil agar memudahkan Levi membawa masuk Lucia kedalam mobil dengan hati-hati.


Setelah memastikan Lucia di baringkan dengan aman, Rayden pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Will. Kemudian, tanpa membuang banyak waktu lagi Will langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Luca hanya memperhatikan mobil itu yang semakin menghilang dari pandangannya. Namun, siapa sangka Leona malah memanfaatkan kelengahan Luca untuk melarikan diri. Luca memang terkejut dan tidak menyangka bahwa Leona masih sempat berpikir bahwa dia bisa melarikan diri darinya, setelah membunuh Axlyn dan melukai adik kesayangannya.


“Larilah sejauh mungkin yang kau bisa, tapi aku pastikan kau akan tetap berakhir di neraka,” gumam Luca yang sesaat hanya diam memperhatikan sejauh mana Leona bisa melarikan diri.


Namun, kemudian Luca mengambil senjata apinya dan langsung mengarahkannya pada Leona yang sudah cukup jauh dari Luca. Awalnya Luca ingin langsung menargetkan kepala Leona, tapi seketika dia berubah pikiran dan memilih untuk membidik kakinya.


Dorr, ….


Satu tembakan Luca tepat mendarat di kaki kanan Leona yang membuat wanita itu sudah tidak bisa menggunakan kakinya lagi untuk melarikan diri. Melihat Leona yang sedang merintih kesakitan, Luca pun perlahan berjalan mendekati Leona dengan tatapan dinginnya.


“Dasar bajingan! Jika kau ingin membunuhku, maka bunuhlah aku sekarang juga!” tantang Leona yang mencoba memprovokasi Luca supaya dia bisa mati tanpa merasakan sakit yang lebih lama.


“Kau pikir aku akan melepaskan begitu mudahnya? Kau telah membunuh Axlyn dan kau juga telah melukai adikku, Lucia! Maka nikmatilah nerakamu di dunia ini, sebelum aku mengirimmu ke neraka yang sesungguhnya,” ujar Luca.


Lalu dia kembali mengarahkan senjatanya tepat di kepala Leona, tapi perlahan dia menurunkan senjatanya sembari memilih tempat yang ingin dia tembak selanjutnya. Sedangkan Leona terus berusaha memancing amarah Luca agar bisa membunuhnya dengan cepat, tapi sepertinya usahanya sia-sia karena Luca sama sekali tak menggubrisnya.


Dorr, ….


Satu tembakan lagi di lontarkan oleh Luca dengan jarak yang sangat dekat. Dan kali ini Luca menembak tangan kanan Leona hingga hampir terputus. Tentu saja Leona seketika menjerit kesakitan, air matanya terus mengalir keluar bersamaan dengan darah segar pada tangannya akibat tembakan tersebut.


“Sekarang aku mengerti! Kau bukan hanya marah aku melukai adikmu, tapi kau sebenarnya marah karena aku membunuh wanita ****** itu, bukan?” ujar Leona sembari menahan rasa sakitnya, dia mencoba kembali memprovokasi kemarahan Luca.


“Jaga mulut busukmu itu!” bentak Luca penuh penekanan.


“Hahahaaa, … Siapa sangka Tuan muda terpandang sepertimu malah menyukai wanita ****** yang pernah di jajah banyak pria tidak jelas. Apa kau tidak malu melampiaskan kemarahanmu hanya karena wanita ****** itu?” ujar Leona yang tertawa puas seraya membohongi Luca tentang masa lalu Axlyn.


Luca pun tersenyum kecut, lalu berkata, “Apa tahu berapa banyak peluru yang ada di dalam pistol ini?”


Pertanyaan itu sontak langsung membuat Leona menutup mulutnya rapat-rapat. Sebab sepertinya dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Luca sekarang yaitu menggunakan semua peluru yang dia miliki untuk menyiksa mangsanya.


“Kenapa sekarang kau malah diam seperti patung? Apa kau mulai takut?” ejek Luca yang tersenyum layaknya seorang iblis yang haus darah.


“Baiklah, biar aku saja yang memberitahumu! Sebenarnya ada tujuh peluru, tapi aku sudah menggunakan dua di kaki dan tangannya. Jadi, kini hanya tersisa lima peluru di dalam pistol ini. Dan sekarang aku sedang berpikir sebaiknya aku tembakan di mana lagi ‘yah?” lanjut Luca yang terlihat sedang memikirkannya dengan sangat serius.


“Ouhya, … Bukankah kau tadi menggunakan kedua tanganmu untuk menusuk adikku, maka dari itu aku juga membalasnya lebih dari yang kau lakukan pada adikku,” ujar Luca.


“Tangan kananmu sudah tidak berguna lagi, jadi sekarang giliran tangan kirimu. Dan, ….”


Dorrr, ….


“Astaga, sekarang tinggal tersisa empat peluru, tapi sepertinya kakimu tidak seimbang? Bagaimana kalau aku membantumu menyeimbangkan keduanya seperti yang aku lakukan pada kedua tanganmu?” ujar Luca yang kembali mengarahkan senjatanya pada kaki kiri Leona dan, …


Dorr, ….


“Akhhhh, … Dasar bajingan! Psikopat gila, jika kau memang ingin membunuhku maka bunuh saja aku sekarang juga!” umpat Leona yang tidak tahan semua rasa sakit akibat luka tembakan itu.


“Tunggu, sekarang masih tersisa tiga peluru lagi! Kali ini aku harus berhati-hati memikirkan tempat yang sesuai untuk peluru berharga ini bersarang,” ujar Luca yang kembali memikirkannya dengan serius tanpa memperdulikan umpatan Leona.


“Aaaah, … Sepertinya sekarang aku tahu, dimana tempat yang tepat untuk ketiga peluru ini bersarang!” seru Luca yang langsung menatap dingin Leona.


“Dasar gila! Sepertinya kau tidak semarah itu hingga kau masih membiarkan aku tetap hidup sampai sekarang,” ujar Leona.


“Tunggu saja, kali ini aku akan mengantarmu langsung menuju ke neraka! Wanita jahat sepertimu pastinya tidak memliki hati layaknya manusia pada umumnya. Jadi, sebaiknya aku menghancurkan hati yang tidak kau gunakan itu sekarang!” jelas Luca yang langsung mengarahkan pistolnya di rongga perut kanan bagian atas, tepat di bawah rusuk bagian kanan.


Dorr, ….


Alhasil peluru itu berhasil membuat Leona langsung sekarat, tapi masih bisa bernapas dengan pelan. Kemudian Luca kembali berkata, “Kau juga membunuh Axlyn dengan menusuk jantungnya, maka aku juga tidak akan membiarkan kau mati dalam keadaan jantung yang utuh!”


Dorr, ….


Peluru keenam itu pun berhasil bersarang di jantung Leona yang membuatnya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.


Dan tersisa satu peluru sambil meneteskan air matanya Luca kembali berkata, “Sebagai manusia kau juga memiliki otak untuk berpikir, tapi kenapa kau tidak menggunakan otakmu itu dengan baik. Seharusnya sebelum kau ingin berbuat jahat kepada orang lain, kau harus berpikir bahwa kau sendiri juga akan mendapatkan hal yang sama. Otakmu yang tidak berguna itu lebih baik kalau aku juga menghancurkannya!”


Dorr, ….


“Selesai, … Kali ini semuanya benar-benar selesai, begitu juga dengan takdirku dan Axlyn! Semuanya telah selesai. Hiks, … Hiks, ….”


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...