Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Dilema Lucia



“Sampai kapan kau akan memanggilnya ‘Tuan muda’?” seru Kakek Roman yang tidak habis pikir dengan kelakuan cucunya itu.


“Zaen, kau harus sadar posisimu sekarang! Kau bukan lagi pengawalnya, kau juga seorang Tuan muda terpandang dari keluarga Zaender,” sambungnya menekankan posisi Levi sekarang.


“Aku tidak bisa mengubah panggilan itu tanpa perintah dari Tuan muda, akrena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan semua jasanya padaku,” ujar Levi yang sama sekali tidak memperdulikan tentang panggilan itu.


“Kau selalu saja seperti itu, kapan kau akan mendengarkan perkataan Kakekmu ini?” tanya Kakek Roman yang mulai kesal dengan sikap Levi padanya.


“Entahlah, aku lelah! Aku akan beristirahat di kamarku dan pastikan tidak ada satu orang pun yang berani mengangguku,” ujar Levi sembari berjalan menaiki tangga yang menuju ke kamarnya berada.


“Hai! Setidaknya obati luka-luka diwajahmu dulu, Zaen!” teriak Kakek Roman yang juga mengkhawatirkan keadaan cucunya.


Namun, Levi sama sekali tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan begitu keras. Benar saja, seharian Levi tidak keluar dari kamarnya sama sekali baik untuk makan maupun minum. Dia terus mengurung dirinya di dalam kamar, hingga membuat Kakek Roman menjadi semakin khawatir.


...****************...


Dua hari pun berlalu setelah kejadian malam itu, Levi sudah kembali menjalani aktivitasnyaseperti biasa dengan berangkat bekerja di kantor. Selama dua hari itu juga, Levi menunggu kabar dari Lucia dan keluarga Xavier. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda Rayden akan membuat keputusan. Sebab Rayden juga sebisa mungkin terus menghindari Zhia dan yang lainnya.


Sementara Luca sudah mulai menyelidiki kelompok yang pernah menyekap Triple R dan mengawasi Lucia. Perlahan tapi pasti, Luca mulai menemukan jejak dari mana kelompok itu berasal berkat bantuan dari Lucia dan Triple R juga.


Tentang Lucia, dua hari itu pun dia mulai mengikuti pertemuan para dokter masih dnegan hotel yang sama. Meskipun awalnya Rayden sangat menentang, tapi berkat bujuk rayuan maut Lucia akhirnya dia di ijinkan juga untuk tetap bisa mengikuti pertemuan tersebut.


“Luci, kita makan siang bareng ‘yuk!” ajak Bella salah satu sahabat Lucia yang juga mengikuti pertemuan itu.


“Maaf, sepertinya tidak bisa juga untuk hari ini. Karena aku harus pulang tepat waktu, kalau tidak Papahku akan datang ke sini dnegan membawa banyak pengawal,” jelas Lucia yang sebenarny juga ingin pergi bermain dnegan teman-temannya yang lain.


“Kenapa ‘sih keluargamu juga ikut menyusul ke sini? Apalagi Papahmu yang sangat posesif itu?” tanya Maya Jovanna yang juga salah satu dari sahabat terbaik Lucia yang satu jurusan.


“Terjadi sesuatu saat aku tiba lebih awal di negara ini, sehingga Papahmu jadi lebih posisif dari yang sebelumnya,” ujar Lucia yang tidak ingin membuat image Papahnya tampak buruk di depan teman-temannya.


“Memang apa yang terjadi? Aku jadi penasaran, jangan-jangan kau di lamar pria tampan dan kaya raya ‘yah?” celetuk Maya yang hampir menebaknya dengan benar.


“Bukan seperti itu!” kilah Lucia yang tidak bisa bercerita kepada teman-temannya tentang pertemuannya dengan Levi.


“Baiklah, aku mengerti! Tapi Luci, apa kau sudah memutuskan akan bekerja di rumah sakit mana?bukankah kau sudah mendapat banyak tawaran dari berbagai rumah sakit terbaik dari hampir rumah sakit yang ada di seluruh dunia?” tanya Bella yang mengalihkan topik pembiocaraan, sekaligus dia juga ingin terus mengikuti sahabatnya itu.


“Entahlah, aku belum memikirkannya! Aku juga memerlukan pendapat dari Papah tentang semua tawaran itu,” jawab Lucia.


“Kau ternyata sangat dekat dengan Papahmu ‘yah, Luci! Sehingga dalam hal apapun kau pasti akan bertanya dulu pada Papahmu?” Pertanyaan itu terlontarkan begitu saja dari mulut Maya.


“Sepertinya memang begitu, karena aku putri Papah satu-satunya,” jelas Lucia yang tidak terlalu memikirkannya.


“Woah, … Rupanya kau anak Papah ‘yah! Dan bukan anak Mamah seperti aku dan Maya,” terang Bella.


“Hay, lagian untuk apa Lucia bekerja keras! Hanya bernapas saja, Lucia sudah bisa menghasilkan banyak uang. Ingatlah, dia berasal dari keluarga Xavier,” bisik Maya yang memang selalu sengaja melakukan itu hanya untuk menggoda Lucia


“Lebih baik kau menikah saja secepatnya, Lucia! Minta Papahmu untuk mencarikan suami yang tampan, kaya raya dan juga memiliki kekuasaan,” imbuh Bella yang semakin kacau saja saat memberikan saran untuk Lucia.


“Sudah sana, May! Lihat ‘tuh, pangeranmu sudah datang menjemput,” lanjut Lucia sembari menatap pria yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka bertiga.


“Pangeranku? Siapa?” tanya Maya sembari melihat ke arah yang sedang di tunjuk oleh Lucia.


“Wahh, … Ryan memang sangat perhatian dan gigih sekali ‘yah! Meskipun sudah berulang kali di tolak olehmu, dia tetap tidak mau menyerah,” ujar Bella yang sengaja menyindir Maya secara halus.


“Itu pilihan yang terbaik untuk kami berdua! Bagaimana pun juga hubungan kami tidak akan pernah berhasil mengingat Papahku yang seorang Komandan Kepolisian, sedangkan dia adalah ketua Gangster,” jelas Maya yang terdengar bersedih saat mengatakannya.


“Takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Kalau memang kalian berjodoh, apapun yang terjadi kalian pasti akhirnya kan tetap bersama,” ujar Lucia seakan sedang membicarakan tentang hubungannya dengan Levi.


“Ngomong apa ‘sih, Luci! Sudah ‘yah, aku mau kabur duluan. Bye bye, ….”


Pamit Maya sembari berlari kecil ke arah yang berlawanan dari keberadaan Ryan. Namun sayangnya, Ryan melihat Maya berusaha untuk kabur. Dia pun langsung berusaha untuk menyusul Maya. Lucia dan Bella pun hanya bisa tertawa melihat kelakuan konyol pasangan itu.


“Bell, aku juga duluan ‘yah! Sepertinya Kak Luca sudah menjemputku di depan?” Tak lama kemudian Lucia juga pamit pada Bella saat melihat mobil Kakaknya.


“Okay, … See you, Luci! Titip salam buat Kakakmu yang tampan itu ‘yah, kalau boleh sekalian buat adik-adikmu yang tak kalah tampan dan keren!” seru Bella yang memang sejak awal sudah menaruh hati pada Luca saat pandangan pertama bertemu.


“Apaan ‘sih? Kakakku tidak suka gadis kalem kayak kamu, dia sukanya gadis Bar-bar tahu,” balas Lucia sekenanya.


“Bilang saja kamu yang tidak mau merestui hubungan kami!” seru Bella lagi seperti biasa.


“Jangan mimpi, Bell!” sahut Lucia sembari mengejek sahabatnya itu.


^^^Bersambung,....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...