
Disela perdebatan Jaydon dan Felix, Luca datang menghampiri mereka untuk memastikan keadaan selama konferensi tadi berlangsung. Namun, pada dasarnya Luca hanya ingin mengumpulkan semua anggota untuk membagi tugas lagi atas perintah dari Rayden.
“Bagaimana keamanannya di sini?” tanya Luca pada Jaydon, Felix dan Axlyn.
“Tidak ada masalah, semua aman terkendali,” jawab Jaydon.
“Kerja bagus semua,” puji Luca.
“Apa menurutmu ini tidak aneh? Mereka tidak melakukan pergerakan apapun setelah mendengar kabar tentang pernikahan adikmu?” ujar Axlyn pada Luca yang merasa ada sesuatu di balik sikap diam Luke dan anak buahnya.
“Sepertinya yang tengah menyimpan banyak rahasia. Dari raut wajahmu sekarang, aku bisa melihat kau sedang mengkhawatirkan sesuatu?”
Luca terus mendekat kepada Axlyn, sorot matanya terus mendesak Axlyn untuk mengatakan yang sejujurnya. Namun, pertahanan Axlyn tidak selemah itu. Dia pun segera mendorong Luca untuk menjauh dan menjaga jarak dengannya.
“Berhentilah menginterogasiku! Dan jangan terlalu terlibat dnegan urusan pribadiku,” ujar Axlyn yang kemudian pergi meninggalkan Luca begitu saja.
“Jangan terlalu keras pada wanita, apalagi wanita seperti Axlyn. Takutnya kau kena karma,” ujar Felix mengingatkan Luca.
“Memang apa yang aku lakukan salah? Dia terlihat sangat mencurigakan, sudah jelas dia sedang menyembunyikan sesuatu!” seru Luca dengan wajah polosnya.
“Meskipun memang benar apa yang kau katakan, tapi aku yakin Levi sudah mengurusnya sebelum dia menempatkan Axlyn di posisinya sekarang,” ujar Jaydon yang sependapat dengan Felix.
...****************...
Setelah memberi sedikit pengertian pada Luca, Jaydon dan Felix pun ikut pergi meninggalkan Luca untuk memberikan ucapan selamat pada Levi dan Lucia. Dan semenjak hari itu, semua orang mulai sibuk dengan persiapan pernikahan Levi dan Lucia. Akan tetapi, dalam prosesnya Lucia sering kali berdebat dengan sang Mamah karena perbedaan selera keduanya.
“Sayang, bagaimana dengan dekorasi Gedung pernikahannya? Bukankah tema mawar putih atau bunga lily cocok untuk pernikahan kalian?” tanya Zhia yang menginginkan pernikahan putrinya serba putih.
“Tapi Luci menyukai dekarasi yang ini, Mah!” jawab Lucia sembari menunjukan sebuah dekorasi yang di dominasi warna hitam dan emas dengan aksen bunganya yang lebih sedikit.
“Sayang, ini acara pernikahanmu bukan pemakaman? Kenapa kau malah memilih yang ini?” ujar Zhia yang tidak habis pikir dengan selera putrinya.
“Iya, Lucia! Acara pernikahan itu adalah acara yang saklar dan juga suci, lebih baik menggunakan tema dekorasi yang cerah seperti yang di sarankan oleh Mamahmu,” Julia pun terpaksa ikut memberikan arahan untuk Lucia.
“Tapi Luci menyukai yang ini,” gumam Lucia dengan raut wajah sedihnya.
“Jika Luci menyukai yang itu, maka gunakan saja dekorasi yang itu. Ini adalah pernikahannya, dia pasti sudah memiliki impian pernikahannya sendiri. Jika Zaen tidak masalah, lalu untuk apa kita harus melarangnya?” ujar Kakek Roman yang mendukung apapun keputusan Lucia.
“Terima kasih, Kakek! Kakek memang yang terbaik,” ucap Lucia yang seketika langsung tersenyum ceria saat Kakek Roman mendukung keputusannya.
“Haaa, … Baiklah, tapi jangan sampai kau juga menginginkan gaun pernikahanmu berwarna hitam! Mamah akan menolaknya dengan sangat tegas,” ujar Zhia yang akhirnya mengalah pada keinginan putrinya.
“Tentu, Mah!” sahut Lucia sembari memeluk mamahnya dnegan gemas.
“Ouhya, … Ngomong-ngomong dimana Levi? Bukankah seharusnya dia sudah sampai untuk mencoba baju pengantinnya?” tanya Julia yang belum juga melihat kehadiran Levi di sana.
“Coba Lucia telepon Kak Levi dulu ‘yah, Mah!” ujar Lucia yang beranjak dari tempat duduknya dan mencari tempat yang nyaman untuk menelpon Levi.
...****************...
Disisi lain, Levi ternyata sedang dalam perjalanan menuju ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin mereka. Namun, di tengah perjalanan mobil yang di naikinya di ikuti oleh beberapa mobil lainnya. Mereka ‘lah anak buah Luke yang tengah berusaha mengikuti sayembara, salah satunya adalah untuk membunuh Levi.
“Tuan muda, sepertinya ada beberapa mobil yang mengikuti kita sejak tadi,” ujar Jack sang supir pribadi Levi.
“Siapa mereka? Apakah orang-orang itu juga berhubungan dnegan klan yang berusaha untuk mengejar Lucia?” batin Levi.
“Beberapa hari aku tidak mengunjungi markas, karena permintaan Lucia. Aku pun hanya mengetahui sekilas tentang masalah klan yang sekarang tengah muncul dari Luca. Meskipun begitu Luca tidak pernah menjelaskan secara terperinci mengenai orang-orang yang perlu aku waspadai,” Levi masih berkutat dengan pemikirannya sendiri, hingga suara Jack kembali menyadarkan dirinya dari lamunannya.
“Tuan muda, apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Jack yang menunggu perintah.
“Berhenti di tempat yang sepi! Aku ingin memastikannya sendiri,” jawab Levi yang akan menghadapi kelompok itu secara langsung.
“Baik, Tuan muda! Senjata anda berada di tempat biasa,” sahut Jack mengingatkan Levi.
“Bagus, sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini,” gumam Levi dengan disertai senyuman sinis nya sambil menatap ke arah mobil para musuhnya.
“Tuan muda, lebih baik kita ke kantor polisi terdekat saja! Ingatlah, sebentar lagi anda akan menikah. Tidak seharusnya anda terlibat perkelahian seperti ini,” ujar Theo yang berusaha menghentikan niat Levi yang ingin menghadapi mereka secara langsung.
“Tenanglah, tidak akan terjadi apapun padaku!” ucap Levi dengan penuh percaya diri.
Setelah itu, Jack langsung tancap gas sembari mencari jalan yang se[pi untuk menghentikan mobilnya. Hingga tibalah di ujung jalan yang hampir memasuki Kawasan hutan, Jack pun segera menghentikan mobilnya di sana.
Sebelum turun dari mobilnya, Levi mencoba memastikan fungsi dari senjata yang sudah lama di simpannya itu. Begitu juga dengan Jack yang akan bertugas untuk melindungi Levi, jika keadaannya mulai terdesak. Sementara Theo lebih memilih untuk bersembunyi di dalam mobil, karena dia hanya ‘lah seorang pekerja kantor biasa.
“Jangan keluar sampai aku mengijinkan mu untuk keluar,” pesan Levi pada Theo.
“Meskipun anda menyuruh saya untuk keluar, saya akan tetap memilih untuk tetepa berada di sini,” sahut Theo yang memang tidak terbiasa menghadapi situasi mafia itu.
“Dasar penakut,” ejek Levi pada Theo.
“Bukan penakut, tapi sayang nyawa! Memangnya nyawa manusia ada Sembilan apa!” seru Theo penuh penegasan.
Tak ingin membuang waktunya, Levi pun mengabaikan perkataan Theo dan bersiap untuk melakukan pertahanan sekaligus menyerang. Hampir ada 20 orang yang mengejarnya, mereka membawa berbagai jenis senjata untuk menghabisi nyawa Levi.
“Kenapa kalian mengikutiku?” tanya Levi sekadar basa basi.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...