
Sontak saja perasaan Luca pun semakin panik, apalagi tidak ada sahutan sama sekali dari Axlyn. Luca terus menggedor pintu kamar mandi seraya memanggil nama Axlyn untuk menjawab panggilannya.
“Yakh, … Axlyn, jika kau tidak menjawabku, maka aku akan mendobrak pintu ini sekarang juga!” seru Luca dan masih tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi.
Namun, saat Luca bersiap untuk mendobrak pintu tersebut. Pada saat yang bersamaan Axlyn pun membuka pintunya dengan rambut yang masih basah. Keduanya pun sama-sama terkejut ketika tubuh Luca hampir menabrak tubuh kecil Axlyn. Beruntung Luca memiliki refleks tubuh yang cukup baik, sehingga dia bisa berhenti tepat sebelum tubuhnya menyentuh tubuh Axlyn.
Sementara, Axlyn pun terpaku dan hanya bisa memejamkan matanya serta pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Akan tetapi, cukup lama dia memejamkan mata tapi tubuhnya tidak merasakan apapun. Tanpa buang waktu, Axlyn pun langsung membuka matanya kembali untuk melihat apa yang telah terjadi.
Nyatanya dia semakin terpaku ketika wajahnya dan wajah Luca sudah berjarak sangat dekat. Axlyn maupun Luca bahkan sama-sama menahan nafas, hingga tangan kiri Axlyn refleks dan langsung mendorong tubuh Luca agar menjauh darinya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” bentak Axlyn dan dari cara menatapnya, dia mengira bahwa Luca berniat untuk menciumnya.
“Yaah, … Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Kenapa kau tidak menjawab saat aku menggendor pintu dan bertanya padamu tadi, Hah!” bentak Luca balik yang terlihat sangat kesal.
“Kau tahu betapa khawatirnya aku menunggumu keluar dari kamar mandi?” lanjut Luca masih dengan nada tingginya.
“Kupikir telah terjadi sesuatu yang buruk padamu di dalam sana,” sambungnya yang mulai menurunkan nada bicaranya.
Axlyn pun hanya bisa terdiam dan tercengang melihat Luca yang ternyata bisa marah, kerena terlalu mengkhawatirkan keadaannya. Axlyn pun tidak menyangka bahwa raut wajah khawatir dan ketakutan di wajah Luca saat itu di tujukan untuk dirinya.
“Kenapa kau tidak menjawab saat aku memanggil dan menggedor pintunya tadi?” Luca kembali mengulang pertanyaannya dengan nada bicara yang lebih tenang dari sebelumnya.
“Aku sedang mencuci rambutku. Karena masih banyak busa di rambutku, maka dari itu aku tidak langsung membuka pintunya,” jawab Axlyn dengan wajah polosnya yang masih terlihat pucat.
“Haaah, …” Luca hanya bisa menghela napas dengan berat dan panjang saat mendengar jawaban Axlyn. Hal itu Luca lakukan untuk meredam amarahnya agar tidak meledak seperti tadi.
“Lalu suara apa yang aku dengar saat kau berada di dalam sana?” tanya Luca lagi.
“Aaah, … Soal suara itu! Aku tidak sengaja menjatuhkan tempat sabunnya,” jawab Axlyn,
Jawaban itu pun sudah cukup untuk membuat Luca seperti manusia terbodoh di dunia ini, karena mengkhawatirkan keadaan Axlyn sampai rasanya hampir gila. Luca ingin sekali meledakan amarahnya saat itu juga, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk meredamnya. Apalagi melihat rambut Axlyn yang masih basah.
“Sudahlah, lupakan saja soal kejadian tadi! Cepat kembali ke ranjangmu,” perintah Luca yang tak ingin membahas topik yang akan membuatnya semakin marah.
Tak ingin membuat Luca semakin marah, Axlyn pun akhirnya sedikit memaksakan diri dengan menyeret tubuhnya bergegas menuju ke ranjangnya. Namun, hal itu malah membuat Luca semakin marah saat melihatnya. Tanpa persetujuan Axlyn, Luca pun langsung menggendong tubuhnya dan meletakkannya di ranjang dengan lembut.
“Kenapa kau tiba-tiba menggendongku?” tanya Axlyn begitu Luca sudah menurunkan tubuhnya.
“Karena aku merasa kesal melihatmu yang memaksakan diri,” jawab Luca dengan ketus, lalu dia mengambil sebuah handuk baru di laci.
“Apalagi yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Axlyn yang terkejut saat Luca mau menyentuh kepalanya.
“Mengeringkan rambutmu! Memangnya apalagi?” tanya Luca balik.
“Aku bisa melakukannya sendiri,” ujar Axlyn yang secara tidak langsung menolak bantuan Luca.
“Dengan tanganmu yang terluka?” tegas Luca yang membuat Axlyn lagi-lagi hanya bisa terdiam.
Meskipun terlihat sangat marah, tetapi tangan Luca begitu lembut saat mengeringkan rambut Axlyn. Sehingga Axlyn pun merasa sangat nyaman, apalagi kepalanya sedari tadi sudah merasa sangat pusing. Dan Tidak ingin membuat Luca marah dengan membantah perkataannya lagi, Axlyn pun hanya menganggukan kepalanya saja sebagai tanda bahwa dia sudah mengerti.
Selesai mengeringkan rambut Axlyn, Luca pun beralih dengan menyuapi makan dan membantu Axlyn meminum obatnya. Bukan hanya penampilan Luca saja yang menawan, bahkan perhatiannya kepada Axlyn pun semakin membuat para penghuni rumah sakit itu menjadi salah paham dan mengira bahwa keduanya memang sepasang pengantin baru.
...****************...
Padahal pengantin baru yang sebenarnya sedang berperang dengan alat masak di medan dapur begitu mereka bangun tidur. Sebenarnya Levi dan Lucia berniat membuat sarapan bersama, tapi sayangnya ekspektasi tak seindah realita. Baik Levi maupun Lucia, keduanya memang tidak pernah sekalipun bermain masak-masakan di dapur.
Mereka mengira memasak adalah hal yang cukup mudah untuk di pelajari seperti layaknya drama-drama di televisi yang pernah mereka tonton. Namun, kenyataannya memasak sangatlah sulit dan mengurus banyak tenaga serta pikiran. Alhasil mereka berdua pun menghancurkan dapur kesayangan Marvin yang selama ini di jaga dengan sepenuh hatinya.
“Tuan! Nona, tolong biarkan kami saja yang membuat sarapannya,” pinta Marvin dengan wajah yang sangat memohon dan terlihat menyedihkan.
“Apakah cara memasak kami seburuk itu?” tanya Levi dan Lucia serentak.
“Lihatlah cara Tuan memotong daging barusan, seperti psikopat yang sedang menggila dengan memotong daging mangsanya,” jelas Marvin yang tidak tahan lagi memendam perasaannya.
“Dan begitu juga Nona Lucia! Menyalakan api di kompor seperti sedang melemparkan bom ke arah musuh,” lanjut Marvin yang tak bisa lagi bersabar.
“Kalau kalian berdua terus melakukannya, maka dapur yang saya rawat dnegan sepenuh hati ini akan meledak dengan dahsyatnya tanpa menyisakan apapun,” sambung Marvin penuh emosi di setiap kata yang dia ucapkan.
Sontak Levi dan Lucia pun langsung memperhatikan ke arah dapur. Penampakannya memang sama seperti yang dikatakan oleh Marvin. Semua barang dan bahan makanan yang sangat berantakan dimana-mana, bagian kompor terlihat gosong dan lebih parahnya lagi keadaan tubuh Levi dan Lucia pun di penuhi dengan tepung.
“Hehehee, … Sepertinya kau benar, Vin! Kalau begitu kami percayakan saja soal makanan padamu,” ujar Levi yang tersenyum seolah tak berdosa.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...