
Sepertinya yang di perkirakan oleh Regis, begitu drone milik mereka memasuki wilayah musuh kembali terdengar tembakan. Akan tetapi, kali ini di tambah suara ledakan yang cukup besar karena begitu drone yang di pasangi penemuan Regis menyentuh tanah maka akan langsung meledak dalam hitungan detik.
Dor, … Blarrr, … Duar, ….
“Wahh, … Gila! Daya ledaknya cukup besar juga rupanya,” puji Felix yang harus mengakui kehebatan dari seorang Regis.
“Kalian segera arahkan drone ke tempat persembunyian mereka, karena sudah pasti mereka tidak akan mau menembaknya lagi setelah melihat ledakan itu!” perintah Regis kepada anak buahnya.
“Siap laksanakan!” sahut para anak buahnya.
Perintah pun segera di laksanakan, kembali terdengar ledakan yang saling bersahutan. Lagi-lagi perkiraan Regis kembali terjadi, musuh yang bersembunyi pun berlarian keluar untuk menghindari ledakan tersebut.
Disaat itulah, peran Felix dan Jaydon di mulai serta waktunya mereka untuk membalas dendam karena telah berani menyentuh Nona kecil mereka dan sebagai hukuman karena telah berani membangunkan iblis yang tengah tertidur.
Jaydon memimpin pasukan yang akan menerobos masuk ke dalam markas, sedangkan Felix memimpin pasukan bersenjata yang bertugas untuk melindungi Jaydon dan pasukannya. Sementara Regis dan timnya terus memberikan arahan setiap kali ada kesempatan untuk menyerang musuh.
Felix dan yang lainnya sungguh benar-benar menggila, mereka tidak peduli lagi kalau nanti harus bekerja lembur untuk membereskan sisa kegilaan mereka. Keadaan jauh berbeda dengan Kaendra dan pasukannya yang semakin terdesak oleh kegilaan pasukan Felix.
Sudah banyak anak buahnya yang menjadi korban kegilaan dan keganasan pasukan Felix, bahkan Kaendra sudah tidak bisa mengatur anak buahnya lagi ayang membuat pertahanan yang sudah dia persiapkan menjadi sangat kacau.
“Sialan, mereka itu manusia atau monster? Bagaimana mereka terus menggila seakan tidak ada rasa takut sedikitpun,” teriak Kaendra dengan frustasi.
“Mereka semua iblis, Tuan! Sebaiknya anda meminta bantuan pada markas utama,” ujar salah satu anak buahnya.
“Sepertinya itu mustahil! Aku dengar markas utama dan markas klan Shadow Wolf juga sedang bersiap untuk menghadapi serangan,” sahut anak buahnya yang lain yang baru mendapat pesan dari rekannya.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Kaendra yang penasaran dengan keadaan Leona dan Luke.
“Keadaannya tidak jauh berbeda dengan markas kita, Tuan!” jawab anak buahnya.
“Sial, seharusnya aku melarang keras Luke membawa wanita itu ke tempat ini,” umpat Kaendra yang ingin sekali menyalahkan Luke, tapi semua itu percuma semuanya sudah terlanjur terjadi.
“Kalian tetap berusaha amankan markas kita,” perintah Kaendra pada anak buahnya.
“Baik, Tuan!” para anak buahnya.
Mereka pun bersiap untuk menghadang pasukan Felix. Tidak ingin tinggal diam saja, Kaendra langsung mengambil senjata kesayangannya untuk membantu yang lainnya. Adu tembak terus terdengar hingga terdengar di markas utama dan markas milik Leona, tidak hanya itu pertarungan menggunakan kekuatan otot mereka juga tidak terelakan.
Sebenarnya Kaendra ingin diam-diam membidik Felix dan Jaydon, tapi siapa sangka diua malah harus berpapasan dengan Jaydon ketika akan naik ke lantai paling atas demi mendapatkan spot terbaik.
“Mau lari kemana kau?” seru Jaydon yang melihat Kaendra berniat untuk melarikan diri.
“Sial, kenapa dia sudah sampai disini ‘sih?” umpat Jaydon yang tidak bisa lagi melanjutkan rencananya.
“Apakah kau takut mati sekarang, begitu dewa kematian datang menghampirimu? Namun, sepertinya tidak ada lagi kesempatan untukmu lari dan bersembunyi. Sebab kemana pun kau berada aku akan selalu mendatangimu dan mengambil nyawamu yang tiada guna itu,” ujar Jaydon yang berjalan mendekati Kaendra tanpa rasa takut sedikitpun.
“Bukankah kau terlalu berani dalam situasi ini?” tanya Kaendra yang menyadari bahwa Jaydon sedang tidak menggunakan senjata apapun, sedangkan dia memilikinya bahkan pelurunya masih penuh.
Dorr, ….
Namun, karena terkejut yang ternyata sudah ada Felix di sana Kaendra pun tidak bisa menghindari peluru yang di tembakan oleh Felix. Sehingga tangan kanannya harus terkena tembakan tersebut yang membuat dia tidak bisa menggunakan senjatanya dengan baik.
“Akhhh, … Sialan, seharunya aku tidak lengah sedikitpun tadi,” umpat Kaendra sembari memegangi tangannya yang terkena tembakan.
Kaendra pun mencoba untuk membalasnya, tapi karena tangannya terluka tembakannya selalu bisa di hindari dengan mudahnya oleh Felix maupun Jaydon. Tanpa membuang banyak waktu, Jaydon dan Felix pun langsung menjadikan Kaendra samsak tinju untuk mereka.
Tidak berhenti dengan memukulinya sampai tak berdaya, Jaydon dan Felix juga menjadikan Kaendra layaknya pohon getah. Benar, layaknya pohon getah yang di sayat setiap hari untuk mengeluarkan cairan getahnya, Jaydon dan Felix terus menyayat tubuh Kaendra agar mengeluarkan darah dan rasa sakit.
Hal itu Jaydon dan Felix lakukan supaya Kaendra mengerti akan satu hal, jika tidak ingin di sakiti maka jangan menyakiti orang lain. Hingga pada akhirnya Jaydon menyayat leher Kaendra, sedangkan Felix menyayat kedua tangannya dan setelah itu mereka membiarkan Kaendra mati secara perlahan sembari menyesali setiap perbuatannya.
“Inilah yang di rasakan oleh orang-orang yang mati, karena mengkonsumsi obat-obat terlarang darimu. Mereka mati secara perlahan dnegan rasa sakit yang teramat sangat seakan tubuh mereka di sayat oleh ribuan pisau sampai darah mereka mengering,” bisik Felix tepat di telinga Kaendra yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
“Semua mahluk hidup yang ada di dunia ini pasti akan mendapatkan hasil dari setiap perbuatan yang telah di lakukannya sela hidup,” ujar Jaydon.
“Wahhh, … Tidak seperti biasanya seorang Jaydon memberikan sebuah petuah yang sangat baik, tapi sayangnya kau memberikan petuah itu pada orang yang sudah mati,” goda Felix.
“Sialan kau, Felix! Sudahlah lebih baik kita bereskan yang di sini atau pergi membantu yang lain?” tanya Jaydon yang mengalihkan topik pembicaraan.
“Kau dan Regis yang membereskan di sini, sedangkan aku yang akan membantu yang lainnya. Sebab aku belum puas menyalurkan semangat bertarungku ini, dia terlalu mudah matinya,” jelas Felix yang sebenarnya tidak ingin mengurusi semua mayat itu.
“Baiklah,” sahut Jaydon yang menyetujuinya begitu saja, lagipula anak buahnya yang kan mengurusnya sedangkan dia hanya mengawasinya saja.
Felix dan beberapa anak buahnya pun segera bergegas untuk menyusul Luca dengan mengandalkan Gps yang di berikan oleh Regis. Dan seperti yang di katakan oleh anak buah Kaendra, Leona serta Luke sudah bersiap untuk bertarung. Berbeda dengan Kaendra yang gagal menyiapkan jebakan untuk pasukan Felix, Leona lebih memilih untuk menghadapi pasukan yang akan menyerangnya secara langsung.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...