
Akhirnya pemakaman Axlyn berjalan dengan lancar, meskipun di penuhi dengan air mata kesedihan. Satu persatu pelayat pun mulai meninggalkan pemakaman, namun sepertinya kaki Luca enggan melangkah pergi dari tempat ini. Hatinya seakan mengatakan bahwa dia ingin menemani Axlyn lebih lama lagi.
Satu minggu kemudian, setelah pemakaman Axlyn. Luca yang masih sangat bersedih, tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi ke Paris seoarang diri. Baik Rayden, Zhia dan yang lainnya pun berusaha mencegahnya atau menawarkan untuk menemaninya karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Luca. Namun, sayangnya Luca bersikeras untuk pergi seorang diri. Dia mengatakan bahwa ada hal penting yang dia lakukan di sana.
“Luca, dengarkan Mamah! Jika kau memang ingin ke Paris, bawalah seseorang untuk menemanimu di sana! Mamah akan sangat khawatir jika kau pergi sendirian seperti ini,” bujuk Zhia yang masih berat untuk mengijinkan Luca pergi dalam keadaan mentalnya yang masih sangat bersedih akan kematian Axlyn.
“Tidak, Mah! Percayalah, Luca akan baik-baik saja meskipun sendirian di sana,” tolak Luca dengan lembut agar tidak menyakiti hati Mamahnya.
“Kak, apakah harus Kakak pergi ke sana sekarang?” tanya Lucia yang sebenarnya juga tidak setuju dengan kepergian Luca secara mendadak itu.
“Iya, ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku lakukan di sana,” jawab Luca dengan berpegang teguh pada keputusannya.
“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu! Namun, segera beritahu kami semua jika terjadi sesuatu yang buruk padamu di sana,” ujar Rayden yang tidak ingin menentang keinginan Luca lagi untuk pergi ke Paris.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka semua yang menyangkan bahwa kepergian Luca ke Paris hanya untuk satu tujuan yaitu memadamkan seluruh lampu di area menara Eifell untuk mengenang meninggalnya Axlyn.
Karena permintaannya yang secara resmi di tolak oleh pihak berwenang yang mengurus menata tersebut. Bahkan dengan menggunakan nama keluarga Xavier dan Zaender permintaan itu masih di tolak dengan tegas.
Alhasil, Luca pun menggunakan kemampuannya untuk membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia merekayasa semua cctv yang berada di area ruang control listrik dengan kemampuan IT-nya, sehingga dia bisa mudah untuk memasuki ruang control untuk memadamkan listriknya.
Dalam hitungan detik semua lampu yang berada di area menara Eiffel pun seketika padam. Begitu misinya berhasil Luca segera meninggalkan tempat itu dan mencari tempat yang tepat untuk melihat semua kegelapan itu yang mencerminkan hatinya saat ini.
...****************...
Disaat semua orang tengah kebingungan dengan alasan padamnya seluruh lampu di area menara Eiffel itu. Luca dengan penuh kesedihan menatap gelapnya suasana malam itu sembari mengenang semua moment yang dia habiskan dengan Axlyn di sana.
“Axlyn, apakah kau ingat perkataanku mengenai arti padamnya seluruh menara Eiffel?” tanya Luca yang seakan merasa saat ini Axlyn berada di sampingnya.
“Tentu aku tidak akan pernah melupakannya!” Seakan Luca mendengar suara Axlyn yang sedang menjawab pertanyaanya.
Luca tersenyum tipis dan seketika air mata ikut jatuh begitu menyadari bahwa itu hanya khayalannya saja. Dengan suara gemetar menahan tangisnya Luca berkata, “Bagaimana mungkin aku berpikir kau ada di sisiku sekarang, sementara arti dari padamnya semua lampu karena aku ingin semua orang juga mengenang mu!”
“Terima kasih, Luca! Namun, bagiku yang paling berarti cukup orang yang mencintaiku saja yang selalu mengenangkan. Meskipun itu hanya dirimu, tapi itu jauh lebih membuatku bahagia.”
Lagi-lagi Luca seperti mersakan sosok Axlyn yang mengatakan hal itu sembari menyenderkan kepala pada bahunya. Luca pun hanya bisa menangis dan menangis, karena dia sadar bahwa semua itu hanya halusinasinya saja. Sebab Luca akan selalu mengingat bagaimana Axlyn mati tepat di depannya, di dalam dekapannya dan karena dirinya.
“Hiks, … Maafkan aku, Axlyn! Maafkan aku, … Hiks, ….” Lirih Luca di sela isak tangisannya.
Ternyata Luca hanya berada di Paris malam itu saja, setelah seluruh lampunya sudah kembali menyala. Luca pun memutuskan untuk langsung kembali dengan menggunakan pesawat pribadi keluarganya. Selain urusannya telah selesai, Luca juga tidak ingin membuat keluarganya merasa khawatir dengan keadaannya.
...****************...
Sebulan telah berlalu, ….
Semua orang kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing seperti biasanya. Bahkan mereka semua hampir melupakan tentang kejadian kelam yang pernah menimpa mereka. Luka di perut Lucia pun telah sembuh sepenuhnya dan selama itu juga Lucia, Levi dan Kakek Roman terus tinggal di kediaman Xavier.
L
Kini tibalah saatnya Levi, Lucia dan Kakek Roman untuk kembali ke kediaman Zaender. Sebab Levi sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, walaupun dia menjadi pengangguran tapi seluruh harta Levi sudah cukup untuk menghidupi keluarganya sampai tujuh turunan ke depan.
...****************...
Setibanya di negara K, Levi tidak langsung membawanya ke kediaman Zaender. Dia pun menyuruh Theo untuk mengantar Kakek Roman terlebih dahulu, kerana dia ingin mengajak Lucia mengunjungi suatu tempat bersamanya.
Levi membawa Lucia ke sebuah rumah mewah yang berada di tepi pantai dengan halaman yang sangat luas dan warna bangunannya yang serba putih. Lucia yang hormone kehamilannya tidak dapat di prediksi, seketika memiliki pikiran negative bahwa suaminya selama ini selingkuh di belakangnya.
“Rumah siapa ini? Jangan bilang kalau ini rumah wanita simpananmu!” cecar Lucia dnegan raut wajah yang hampir menangis.
“Mungkin saja, apa kau mau melihatnya?” ajak Levi sesaat terlintas ingin sedikit menggoda istrinya.
“Kau jahat, Bee! Hiks, … Saat ini aku sedang mengandung anakmu, tapi kau bermain dengan wanita lain di belakangku?” isak Lucia.
“Baiklah, ayo kita lihat wanita seperti apa yang mencoba merebut suamiku!” seru Lucia dengan penuh kemarahan langsung berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut dan meninggalkan Levi begitu saja.
Kemarahan Lucia seketika menghilang begitu dia membuka pintunya. Dia melihat foto dirinya sendiri saat masih kecil terpajang dengan ukuran yang sangat besar, hingga setiap orang yang memasuki rumah itu perhatiannya akan langsung teralih pada fotonya.
“Bagaimana menurutmu tentang wanita simpananku? Apa kau menyukainya?” tanya Levi seraya tersenyum puas melihat reaksi istrinya yang menggemaskan.
“Apa-apaan semua ini? Kenapa tempat ini di penuhi dengan foto-fotoku?” gumam Lucia yang mulai menyadari bahwa semua foto yang terpajang di sana adalah foto dirinya.
“Inilah rahasia terbesarku dan hartaku yang paling berharga!” ujar Levi seraya berjalan mendekati Lucia.
“My Queen! Dulu aku tidak pernah berpikir untuk bisa memiliki dan bersama denganmu seperti sekarang! Jadi, aku yang sangat sangat mencintaimu hanya bisa memandangimu dari jauh! Dan semuanya semakin jauh, ketika aku harus mewarisi bisnis milik Kakekku!” jelas Luca sembari menggenggam erat kedua tangan Lucia.
“Karena aku merasa tidak bisa hidup tanpa melihatmu, maka aku membeli tempat ini dan menjadikannya sebagai galeri pribadiku. Aku menyuruh beberapa orang untuk selalu melaporkan perkembanganmu, lalu mencetak dan memajang setiap foto yang mereka kirimkan setiap harinya,” lanjutnya.
“Aku tahu, sekarang kau pasti berpikir bahwa aku seperti pedofil anak atau psikopat gila dan aku tidak peduli akan semua itu. Karena sebesar itulah aku mencintaimu, Lucia!” ungkapnya.
“Bee, kita berdua di takdirkan oleh Tuhan sebagai belahan jiwa satu sama lain sejak pertama kali bertemu. Hingga siapapun, apapun dan bagaimanapun keadaannya kita tidak akan pernah terpisahkan. Kau akan selalu kembali padaku dan aku juga akan selalu kembali padamu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita untuk selamanya!” jelas Lucia yang mendekatkan wajahnya pada wajah Levi hingga hidung mereka saling bersentuhan dan berlanjut dengan bibir mereka.
“Aku sangat mencintaimu, My Queen!” ucap Levi.
“Aku juga sangat mencintaimu, Bee!” balas Lucia dan mereka kembali berpelukan.
Seperti yang di katakan oleh Lucia, pasangan belahan jiwa yang telah di takdirkan oleh Tuhan tidak akan pernah bisa di pisahkan oleh apapun. Sejauh apapun mereka di pisahkan, selama apapun mereka tidak saling bertemu maupun mengirim kabar dan seberapa besar orang lain berusaha untuk memisahkan Tuhan pasti akan kembali menyatukan mereka dengan caranya sendiri.
Namun, terkadang hasilnya tergantung pada manusianya sendiri. Jika manusia itu menyerah untuk berhenti mencintai belahan jiwanya, maka ada yang namanya sebuah hukuman yang harus ditanggungnya seperti sebuah rasa penyesalan.
Manusia itu akan menyesali untuk seumur hidupnya ketika dia melihat manusia yang di cintainya bahagia menemukan cinta selain dirinya. Dan penyesalan paling mendalam serta paling memilukan adalah saat manusia itu menyadari bahwa dia sangat mencintainya ketika Tuhan telah lebih dulu memanggil orang yang dicintainya itu.
...~Jujur saja, Author juga pernah mengalami kisah seperti yang terjadi pada Luca dan Axlyn. Hingga sekarang Author masih sering menyesalinya dan sungguh sangat sulit untuk membuka hati lagi kepada yang lain, apalagi kalau cinta itu begitu tulus. Maka dari itu siapapun yang membaca ini, Author sarankan jangan pernah menyia-nyiakan orang yang kalian cintai dan orang yang mencintai kalian. Karena sebuah penyesalan belum di temukan obatnya hingga sekarang, meskipun kalian mungkin telah memiliki penggantinya rasa penyesalan itu pasti akan muncul tanpa kalian sadari.~...
...~End~...