
“Hay, Axlyn! Bangunlah, …” ujar Luca yang berusaha membangunkan Axlyn.
Will yang tadinya hanya memperhatikan Luca dan Axlyn dari kejauhan, dia pun akhirnya menghampiri keduanya saat menyadari Axlyn tidak sadarkan diri. Melihat tangan dan dan perut Axlyn terus mengeluarkan darah Will pun sedikit mengkhawatirkannya, tapi karena sudah ada Luca Will pun memilih untuk mengejar Luke.
“Apa yang terjadi padanya? Apakah dia mengalami luka yang cukup parah?” tanya Will yang memastikan keadaan Luca dan Axlyn.
“Lukanya tidak sampai mengancam nyawanya, meskipun itu cukup parah. Aku akan membawanya ke rumah sakit, Paman Will uruslah sisanya di sini,” jelas Luca.
“Baiklah, kau tenang saja!” sahut Will.
“Pastikan Paman harus menangkap bajingan sialan itu,” ujar Luca yang begitu dendam dengan Luke.
“Tentu saja, karena Paman tidak pernah melepaskan manusia yang berani menyentuh orang-orang kita begitu mudahnya,” sahut Will yang seperti biasa, dia akan memegang apa yang telah dia katakan.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Paman!” pamit Luca yang segera menggendong Axlyn menuju ke mobilnya.
Selepas kepergian Luca, Will pun langsung memimpin beberapa anak buahnya yang tersisa untuk mengejar Luke dan anak buahnya.
...****************...
Sementara Luke dan Matt melarikan diri melalui akses hutan yang cukup sulit untuk di lalui. Sedangkan pendarahan akibat luka tusukan Luca semakin banyak, hal itu membuat kesadaran Luke perlahan mulai menurun.
“Tuan Luke, anda harus tetap bertahan sebentar lagi kita bisa keluar dari hutan ini,” ujar Matt yang menyemangati Luke agar tetap terjaga.
“Diamlah, tidak lama lagi bantuan pasti akan datang. Jadi, bisakah kita istirahat sebentar?” pinta Luke yang pandangan matanya sudah mulai buram.
“Tapi, Tuan! Sepertinya mereka masih berusaha mengejar kita,” ujar Matt yang merasakan kegaduhan di tepat di belakang mereka.
Dan benar saja, dengan cepat Will dan anak buahnya telah berhasil menyusul mereka. Matt pun semakin panik ketika Will sudah mulai dekat dengan posisi mereka, sedangkan Luke sudah hampir tidak sadarkan diri.
“Tuan Will, lihatlah mereka berada di sana!” seru salah satu anak buah Will begitu melihat Matt dan Luke.
“Tuan Luke, mereka sudah melihat keberadaan kita di sini! Ayo, cepat kita pergi dari sini,” ujar Matt yang berusaha membantu Luke bangun dari duduknya, tapi sepertinya Luke sudah berada di ambang batas kesadarannya. Dia sama sekali tidak merespon perkataan Matt.
“Cepat tangkap mereka, baik dalam keadaan hidup maupun mati!” perintah Will pada seluruh anak buahnya.
“Baik, Tuan Will!” sahut para anak buahnya.
Terdengar suara langkah kaki dari anak buah Will yang semakin mendekat ke arah Matt dan Luke. Matt pun berusaha untuk membawa Luke pergi dengan sisa tenaganya, tinggal tersisa jarak beberapa langkah lagi anak buah Will akan berhasil menangkap keduanya.
Dor, … Dorr, … Dorrr, ….
Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan, hingga memaksa Will dan anak buahnya harus segera berlindung di balik pepohonan besar yang ada di sana. Siapa sangka tiba-tiba datang sekelompok orang bersenjata api yang mencoba menyerang Will dan anak buahnya. Alhasil, beberapa anak buah Will pun harus gugur akibat serangan dadakan itu.
“Tuan Luke!” seru orang kepercayaan Luke yang bernama Joshua, dia adalah orang sebelumnya selalu bersama dengan Luke kemana pun dia pergi.
“Syukurlah anda datang tepat waktu, Tuan Josh” ucap Matt yang akhirnya bisa bernapas lega.
“Apa yang terjadi dengan Tuan Luke?” tanya Josh dengan tatapan penuh penekanan.
“Tuan tertusuk saat dalam pertarungan, lengannya pun juga terluka karena ingin menghindari luka fatal,” jelas Matt dengan wajah menunduknya.
“Bagaimana caramu melindunginya? Kenapa Tuan bisa terluka parah seperti ini?” cecar Josh yang semakin emosi begitu mengetahui kebenarannya.
“Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini secepatnya!” sambung Josh yang melihat anak buahnya sedang berusaha menghadapi musuh yang tengah mengejar Luke.
“Bantu aku membawa Tuan Luke ke dalam helicopter,” perintah Josh pada Matt.
Mereka pun langsung menggotong tubuh Luke menuju ke sebuah helicopter yang sudah menunggu mereka setelah melewati hutan. Melihat adanya helicopter yang melintas di atas hutan itu, Will pun langsung menyadari bahwa dia telah kehilangan mangsanya. Memang bersikap dan menilai sesuatu dengan mudahnya akan membuat seseorang kehilangan apa yang mereka incar sejak awal.
“Sial! Aku kehilangan bajingan itu lagi,” umpat Will yang harus menahan amarahnya.
“Tuan Will, apa yang kami lakukan sekarang?” tanya salah satu anak buahnya.
“Bereskan mereka dengan bersih!” jawab Will memberikan arahan.
“Yang sudah melarikan diri kita biarkan saja, beruntung jika dia mati karena luka tusukan yang Luca berikan. Dan sialnya jika dia tetap hidup, apalagi kalau membalas dendam pada kita. Tapi setidaknya untuk sementara waktu mereka tidak akan bersikap gegabah,” jelas Will yang mencoba memprediksi masa depan.
“Baik, Tuan Will!” sahut anak buahnya.
Setelah memberi perintah, Will pun kembali ke tempat pertarungan sebelumnya. Dia harus memastikan semuanya benar-benar bersih tanpa meninggalkan jejak pertarungan sedikitpun. Sementara itu, Luca pun akhirnya sampai di rumah sakit dan Axlyn langsung mendapatkan dari salah satu dokter ahli yang ada di rumah sakit tersebut.
...****************...
Sementara Luca harus menunggu di depan ruangan itu dengan perasaan khawatir, takut dan cemas yang salin bercampur tak menentu. Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, akhirnya dokter yang menangani Axlyn keluar juga dari ruangan pasien. Luca pun segera menghampiri sang dokter untuk menanyakan keadaan Axlyn.
“Bagaimana keadaannya sekarang, Dok? Apakah lukanya sangat serius? Apakah dia baik-baik saja sekarang?” Luca langsung mencecar dokter itu dengan berbagai pertanyaan, tentunya dengan menggunakan bahasa Prancis.
“Luka tusukan di perutnya memang tidak terlalu dalam, kemungkinan hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk menyembuhkan luka di perutnya. Namun, luka di tangan kanannya yang cukup parah. Tapi kalau di rawat dengan baik dalam sebulan akan sembuh sepenuhnya,” jelas sang dokter yang menggunakan bahasa Prancis juga.
“Apakah jika nanti luka di tangannya sudah sembuh, tangannya masih bisa berfungsi dengan normal?” tanya Luca untuk lebih memastikan.
“Kami tidak bisa memastikannya, di butuhkan pemeriksaan ulang begitu luka bagian luarnya telah sembuh total. Dengan begitu kita bisa mengetahuinya dengan pasti,” jelas sang dokter.
“Dan untuk berjaga-jaga tolong pastikan Nona Axlyn tidak menggunakan tangan kanannya untuk sementara waktu. Dan upayakan lukanya tidak terkena air sampai lukanya benar-benar mengering,” sambung sang dokter.
“Baik, Dok! Terima kasih atas perawatannya,” ucap Luca.
“Jaga istrimu baik-baik! Dia wanita yang sangat cantik dan sepertinya juga baik hati. Kalau begitu saya permisi,” ujar sang dokter sebelum pergi.
“Istri? Sejak kapan aku menikah? Bukankah kemarin pernikahan adikku, tapi kenapa aku ikut berbulan madu dan sekarang malah memiliki seorang istri yang bar-barnya minta ampun?” gumam Luca yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...