
Tak butuh waktu lama, Levi akhirnya sampai juga di lobi dengan deru napas yang terengah-engah. Benar saja, begitu dia sampai di sana matanya langsung menatap sosok Lucia yang tengah menunggunya di sana.
“Lucia!” Levi pun segera memanggil nama wanita yang telah mengisi hati dan kehidupannya.
“Kak Levi!” balas Lucia yang langsung berlari menghampiri Levi dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukannya.
Levi pun membalas pelukan Lucia dengan erat sebelum dia sadar bahwa mereka kini tengah menjadi pusat perhatian para karyawannya. Semua orang yang melihat kejadian langka itu pun mulai menggosipkan boss mereka satu sama lain.
“Hay, siapa wanita itu? Ini pertama kalinya aku melihat Tuan muda mau menemui seorang wanita di perusahaan,” bisik seorang karyawan wanita yang sudah lama naksis Levi secara diam-diam.
“Ouh, … Benar sekali! Padahal selama ini Tuan muda pasti akan menyuruh sekertarisnya untuk mengusir wanita yang datang untuk menemuinya,” sahut temannya yang juga fans fanatic Levi.
“Benarkan? Bahkan Tuan muda sendiri yang datang untuk menemuinya, pasti wanita itu sangat special,” ujar wanita lainnya.
“Beruntungnya wanita itu bisa memikat hati Tuan muda,” gumam wanita yang pertama.
“Padahal banyak wanita yang datang mengaku sebagai tunangan atau calon istri Tuan muda dengan sombongnya. Tapi malah wanita cantic itu yang berhasil meluluhkan hati Tuan muda,” sahut temannya yang lain.
“Kali ini aku percaya, wanita itu pasti adalah calon istri Tuan muda yang sebenarnya,” celetuk wanit lainnya yang tiba-tiba ikut bergabung.
Mendengar bahwa wanita itu adalah calon istri dari bossnya, sang petugas resepsionis yang tadi melarang Lucia masuk pun langsung berkeringat dingin. Dengan langkah kaki dan tubuh yang gemetar hebat, dia berjalan menghampiri Levi dan Lucia untuk meminta maaf.
“Maafkan saya, Nona! Saya sungguh tidak tahu bahwa anda adalah calon istrinya Tuan muda! Saya benar-benar meminta maaf atas kesalahan saya ini,” ucap petugas resepsionis itu yang langsung membungkuk di hadapan Lucia.
“Tidak apa! Setidaknya kau masih bersikap sopan saat melarangku. Lagi pula sepertinya itu sudah menjadi salah satu tugasmu untuk menghentikan wanita gila yang datang untuk menemui calon suamiku ini,” ujar Lucia yang tidak merasa terhina dengan sikap resepsionis itu.
Mendengar Lucia menyebutnya sebagai calon suami, seketika hati Levi kembali berbunga-bunga. Wajahnya seketika mulai memerah, senyuman di wajahnya pun terus merekah dan matanya tanpa henti manatap wajah cantik Lucia
“Astaga, … Apakah aku tidak salah dengar? Lucia menyebutku sebagai calon suaminya,” batin Levi yang bersorak sorai kegirangan.
Di tambah dengan bisikan semua orang yang mempercayai bahwa Lucia adalah calon istrinya membuat perasaan Levi seakan sedang melambung tinggi ke angkasa. Dia bahkan tidak peduli lagi dirinya menjadi pusat gossip maupun perhatian semua orang yang berada di sana.
“Terima kasih, Nona! Anda mau memaafkan kesalahan saya ini,” ucap petugas itu lagi.
“Lain kali jangan pernah mengulanginya lagi. Kalian mengerti?” ujar Levi begitu tersadar dari pikirannya sendiri.1
“Baik, Tuan muda!” sahut petugas tersebut.
“Kenapa kalian berkumpul disini? Cepat kerjakan pekerjaan kalian masing-masing!” seru Levi yang menatap para karyawan dengan tatapan tajamnya, hingga saat itu juga mereka pun langsung kembali ke tempat masing-masing.
“Woah, … Lihatlah, Kak Levi yang sekarang! Begitu keren dan mengagumkan,” puji Lucia yang semakin membuat Levi tersipu malu.
“Kau bisa saja! Mau aku tunjukkan betapa kerennya aku?” ujar Levi.
“Tentu,” sahut Lucia dnegan senang hati.
Setelah itu, Levi pun membawa Lucia ke ruangan tempatnya bekerja selama ini. Pujian dan kata-kata manis terus di lontarkan oleh Lucia yang membuat Levi tak bisa berhenti untuk terus tersenyum. Hingga sampai Lucia mengatakan maksud kedatangannya yang ingin mengajak Levi makan siang bersama.
“Ternyata banyak juga wanita yang ingin menjadi istri dari Zaender Levi ‘yah! Mengingat betapa ketatnya orang yeng bertugas di lobi tadi?” ujar Lucia yang secara tidak langsung menyindir Levi.
“Yah begitulah, tapi entah kenapa hanya Nona kecilku saja yang bisa menaklukan hatiku seperti ini,” balas Levi mencoba menggoda Lucia.
“Tentu saja, karena sejak awal kau adalah milikku,” sahut Lucia dengan penuh percaya diri.
“Bagaimana kalau malam itu, wanita lain yang tidur denganku? Bukankah aku bukan milikmu lagi jadinya,” ujar Levi yang semakin menggoda Lucia.
“Kau mau mati?” ketus Lucia yang menatap tajam pada Levi dengan wajah cemberutnya.
Lucia hanya diam sembari duduk di pangkuan Levi. Kemudian dia memeluk Levi dan berbisik, “Tidak, tapi aku akan membunuh wanita yang berani merebut mu dariku!”
“Hahahaaa, …. Apakah kedatanganmu ke sini juga hanya untuk memastikan aku sedang bersama wanita lain atau tidak?” Levi tak kuasa menahan tawanya.
“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama! Kau mau ‘kan?” ajak Lucia dnegan wajah memohonnya.
“Tentu saja akum au, tapi sepertinya untuk hari ini tidak bisa!” ujar Levi yang membuat Lucia bersedih dnegan penolakannya.
“Kenapa?” tanya Lucia dengan cemberut.
“Aku sudah ada janji untuk bertemu dengan Kakakmu siang ini!” jelas Levi yang tak ingin Lucia menjadai salah paham kepadanya.
“Dengan Kak Luca? Kenapa? Bolehkah aku ikut?” cecar Lucia.
“Tentu, lagi pula kami juga akan membahas tentang orang-orang yang mengejarmu malam itu!” ujar Levi.
“Kalian sudah tahu siapa mereka? Tapi kenapa Kak Luca tidak memberitahuku?” tanya Lucia yang merasa di abaikan oleh Levi dan Kakaknya.
“Mungkin dia hanya tidak mau membuatmu khawatir, maka dia belum memberitahu!” jelas Levi.
“Bisakah kita pergi sekarang? Mungkin Luca sudah sampai di sana,” sambung Levi mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah, Ayo pergi! Aku ingin menanyakannya langsung pada Kakak!” sahut Lucia yang terlihat sedikit marah, tapi mata Levi itu terlihat sangat menggemaskan.
Dan sesuai yang Levi katakan, Luca memang sudah sampai terlebih dahulu di tempat janjian mereka. Yang ternyata lokasinya di markas besar klan Z-LUC, sehingga begitu Luca tiba dia langsung di sambut dengan aksi kecil yang cukup mengejutkan dan mengancam nyawanya.
Sebab Luca memang memberitahu Luca tentang lokasi pertemuan mereka, tapi dia lupa memberitahu anggota klannya bahwa aka nada orang yang datang untuk bekerjasama. Sehingga terjadilah kesalahpahaman untuk kedua kalinya.
“Apakah benar ini tempatnya?” gumam Luca sembari memastikan alamat yang di kirimkan Levi padanya.
“Tempat ini lebih layak di katakan sebagai sebuah perusahaan kecil di bandingkan markas untuk para mafia,” gumamnya lagi, kemudian mulai berjalan mendekati Gedung berlantai tiga itu.
Langkah Luca terhenti ketika muncul seseorang tepat di belakangnya dan langsung mengarahkan senjata tepat di kepalanya. Dengan berkata, “Siapa kau? Beraninya kau memasuki wilayah kami, siapa yang mengirimmu?”
“Luca Cano Xavier, itulah namaku! Dan Zaender Levi yang menyuruhku datang kemari. Jadi, bisakah kau jauhkan benda berbahaya ini dariku?” jawab Luca yang terlihat sangat tenang, meskipun ada senjata api yang tengah di arahkan kepadanya.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...