Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Story AxLu Part. 2



“Biasanya orang yang sedang terluka di fisiknya, tidak akan mudah untuk menanggung luka dihatinya sekaligus. Maka dari itu jika kau ingin menangis atau membutuhkan sebuah pelukan, aku siap memberikannya kepadamu,” ujar Luca yang berhasil menebaknya dengan sangat tepat.


“Sok tahu,” ketus Axlyn lagi.


Lalu Luca pun tersenyum mendengar perkataan ketus dari Axlyn, sepertinya dia sedikit merasa lega karena Axlyn tidak selemah wanita kebanyakan baik fisik dan hatinya. Axlyn pun menyadari kalau Luca terus menatapnya, ada perasaan tidak nyaman dan senang yang tiba-tiba muncul bersamaan saat mengetahui bahwa Luca terus menatapnya.


“Apa kau juga akan menginap di sini?” tanya Axlyn mencari topik pembicaraan.


“Tentu, di sini tidak jauh berbeda dengan hotel bintang lima. Aku juga sudah meminta tambahan tempat tidur pada petugas rumah sakitnya,” jawab Luca dengan santainya.


“Kapan aku bisa keluar dari sini dan kembali ke negaraku?” Axlyn kembali bertanya.


“Benarkah negara K adalah negara asalmu? Melihat dari bentuk wajahmu seperti kau orang Asia,” ujar Luca yang penasaran dengan asal Axlyn yang sebenarnya.


“Jangan asal menyimpulkan,” tukas Axlyn yang terlihat tidak ingin membahas tentang dirinya.


“Semakin kau menyembunyikannya, aku malah semakin tertarik kepadamu,” ujar Luca tanpa sadar dengan maksud perkataannya barusan.


“Berisik! Lebih baik aku tidur lagi, dari pada terus mendengar ocehan mu!” seru Axlyn yang langsung meletakan ponselnya dan tarik selimut mengalihkan wajahnya dari Luca.


“Hehehee, … Sangat menggemaskan,” gumam Luca yang tertawa pelan melihat tingkah Axlyn.


Karena malam sudah semakin larut, Luca pun juga memposisikan dirinya untuk beristirahat. Semenjak pertarungan selesai, dia memang belum sempat untuk beristirahat. Maka begitu dia menutup mata, dia pun langsung terlelap di dalam alam mimpinya.


Berbeda dengan Axlyn yang ternyata hanya berpura-pura tidur. Ketika menyadari Luca sudah terlelap, dia pun membalikan badannya dan terus memperhatikan wajah tampan Luca yang tenang saat tidur.


...****************...


Keesokan harinya di kediaman Xavier, semua orang sudah berada di ruang makan dan bersiap untuk sarapan serta melakukan aktivitasnya masing-masing.


Terlihat Rayden sudah siap dengan setelan jas kerjanya, sedangkan Triple R juga bersiap untuk menghadiri mata kuliah masing-masing. Sementara Kakek Roman, Noland, Julia dan Zhia bersiap untuk pergi ke lapangan Golf untuk bermain dan menghabiskan waktu di sana.


“Apakah Papah akan pergi ke perusahaan hari ini?” tanya Regis yang penasaran kenapa Papahnya sangat rapi tidak seperti biasanya.


“Iya, selama Luca belum kembali Papah yang akan menggantikannya di kantor,” jawab Rayden.


“Papah memang yang terbaik! Selalu bertanggungjawab kepada keluarganya,” puji Rayga.


“Itu karena Papahmu sangat mencintai keluarganya,” ujar Julia menambahkan.


“Maksudnya?” tanya Rayga yang tidak mengerti dengan perkataan Julia


“Bagaimana kamu mengatakan cinta, jika tidak memiliki rasa tanggung jawab?” tanya balik Julia dan Rayga pun semakin bertambah bingung.


“Dalam dimensi Ketuhanan, cinta menuntut mu untuk memiliki tanggungjawab pembelaan terhadap Tuhan. Setiap manusia tidak akan rela ketika agamamu dilecehkan dan dinistakan,” lanjut Julia.


“Sedangkan dalam dimensi kemanusiaan, jika kamu benar mencintai kekasih hatimu, maka kamu sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan dirinya,” imbuh Zhia.


“Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, harus kamu tunjukkan dalam tanggungjawab yang tulus. Tanggungjawab untuk menafkahinya, tanggungjawab untuk melindunginya, tanggungjawab untuk menjaganya, juga tanggungjawab untuk membahagiakannya.” Kakek Roman pun ikut memberikan penjelasan sekaligus contoh agar bisa di mengerti oleh anak muda jaman sekarang.


“Benar sekali! Cinta yang sesungguhnya akan di buktikan setelah kedua insan bersatu dalam ikatan pernikahan, baik kepada pasangannya, anak-anaknya dan keluarganya.” Julia kembali menambahkan.


“Ouh, … Jadi, seperti itu!” gumam Triple R sembari menganggukan kepalanya pertanda mereka sudah mengerti.


“Sudahlah cepat habiskan sarapan kalian kalau tidak mau terlambat,” ujar Rayden yang menghentikan pembicaraan itu dan menyuruh semua orang untuk focus pada makanannya masing-masing.


...****************...


Kini dia sudah sangat rapi, walaupun hanya mengenakan kaos dan jaket kulitnya. Dia pun menikmati secangkir the sembari menunggu Axlyn terbangun dari tidurnya. Tak terlalu lama menunggu, akhirnya Axlyn membuka matanya juga.


Begitu bangun Axlyn langsung mencoba turun dari tempat tidurnya. Luca yang melihat Axlyn sedang kesulitan langsung bergegas menghampirinya dan berusaha untuk menopang tubuh Axlyn untuk berdiri. Karena jarak keduanya yang cukup dekat, tanpa sadar mereka pun saling bertukar pandangan.


Axlyn pun tersadar begitu Luca berkata, “Kau mau kemana? Aku akan membantumu untuk berjalan kesana.”


“Aku bisa sendiri,” jawab Axlyn yang tidak nyaman dengan perhatian dari Luca.


“Aku tahu, tapi sekarang kau tidak bisa melakukanya seorang diri. Bukankah aku sudah mengatakannya, kalau aku akan membantu sampai kau terbiasa,” ujar Luca yang tetap bersikeras untuk membantu Axlyn.


“Dan juga ini bentuk dari rasa tanggungjawab dan balas budi, karena kau terluka untuk melindungiku,” sambung Luca menegaskan alasan dia begitu perhatian pada Axlyn.


“Baiklah, bantu aku untuk pergi ke kamar mandi,” ujar Axlyn yang tak ingin berdebat dengan Luca begitu dia bangun tidur.


“Mau aku gendong saja?” tanya Luca menawarkan cara yang lebih praktis.


“Lebih baik aku jalan sendiri kalau begitu,” jawab Axlyn dengan wajah kesalnya.


“Okay, aku akan membantu berjalan saja,” ujar Luca yang tak berani memprovokasi Axlyn ketika dia menatap wajah wanita itu yang semakin terlihat pucat.


Luca pun memampah Axlyn sampai di depan pintu kamar mandi. Sebenarnya dia ingin menemani Axlyn sekalian masuk ke dalam. Namun, Axlyn melarangnya dengan keras. Sebab dia ingin buang air kecil dan tidak lucu kalau Luca sampai membantunya.


Begitu Axlyn masuk ke dalam kamar mandi, salah satu perawat pun datang untuk mengantarkan makanan dan obat untuk Axlyn. Bahkan perawat itu juga membawakan makanan yang Luca pesan sebelumnya untuk sarapan. Setelah menerima semua makanan itu, Luca pun kembali menunggu di depan pintu kamar mandi.


Cukup lama Luca terus berjalan mondar mandir di depan kamar mandi untuk menunggu Axlyn keluar. Perasaan khawatir dan pikiran negative seketika memenuhi kepala Luca, dia berpikir bahwa terjadi sesuatu pada Axlyn di dalam sana. Sehingga sampai sekarang Axlyn belum keluar juga dari dalam kamar mandi.


“Hay, Axlyn! Kau baik-baik saja ‘kan di dalam?” seru Luca yang mencoba memastikan keberadaan Axlyn dengan bertanya dari luar.


Brukk, … Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang berasal dari dalam kamar mandi.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...